
Oleh Ahmadie Thaha, Kolomnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama perang antara Amerika, Israel, dan Iran yang menggelegar, ada gema lain yang tak kalah nyaring. Tapi ia lahir dari tempat yang jauh lebih sederhana: warung kopi, grup WhatsApp, dan ruang-ruang diskusi kecil yang sering kali lebih panas dari ruang sidang PBB.
Tiba-tiba, percakapan melompat dari misil dan Selat Hormuz ke soal lama yang siap menyala kapan saja: Syiah dan Sunni. Seolah setiap konflik geopolitik di Timur Tengah selalu punya “bonus konflik” di kepala umat, yang tak pernah benar-benar selesai sejak berabad silam.
Di satu sisi, suara pembela Sunni mengeras. Mereka berdiri di atas argumen teologis yang sudah lama beredar, dengan alasan membawa amanah menjaga kemurnian akidah. Tuduhan mereka klasik, tetapi tetap ampuh: Syiah mengkafirkan para sahabat utama dan keluarga Nabi.
Tuduhan ini seperti lagu lama yang selalu diputar ulang setiap kali suhu politik naik. Anehnya, wacananya selalu terdengar baru bagi generasi yang belum sempat memeriksa ulang sumbernya. Diskusi jadi ramai, dan tak pernah berujung.
Di sisi lain, para pendukung Syiah tidak tinggal diam. Mereka dengan tegas menolak tuduhan tersebut, bahkan dengan keyakinan yang sama kuatnya. Mereka menegaskan bahwa Islam mereka tidak berbeda: kiblat yang sama, syahadat yang sama, Al-Qur’an yang sama.
Bagi mereka, tuduhan itu adalah warisan polemik sejarah yang terus dipelihara, bukan kenyataan utuh dari praktik keagamaan mereka hari ini. Maka dialog berubah menjadi dua monolog panjang yang berjalan sejajar, tetapi tak pernah benar-benar bersentuhan.
Lalu, di tengah riuh itu, muncul suara yang terasa ganjil, bahkan bagi sebagian orang mungkin “tidak nyambung”. Suara itu datang dari jantung dunia Sunni sendiri, dari seorang ulama Saudi, Muhammad Abdul Karim al-Issa, yang posisinya kini tidak sembarangan.
Dia Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami. Jabatan ini bukan sekadar posisi administratif, melainkan simpul pengaruh global yang menghubungkan otoritas keagamaan, diplomasi internasional, dan arah wacana Islam dunia.
Sejak masa lalu, organisasi ini menjadi ruang gerak tokoh besar seperti Mohammad Natsir melalui jejaring Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia. Bahkan ia turut mewarnai literatur keislaman di Indonesia, termasuk penerbitan buku-buku kritis terhadap Syiah.
Maka, berdiri di posisi itu bukan sekadar soal ilmu, tetapi juga soal keseimbangan, keberanian, dan kemampuan berjalan di atas tali yang tegang.
Di Saudi Arabia sendiri, Al-Issa bukan figur yang lahir dari ruang hampa. Ia pernah menjadi Menteri Kehakiman, kemudian tampil sebagai wajah baru diplomasi keagamaan Saudi yang lebih terbuka.
Ia aktif dalam dialog lintas agama, mengunjungi situs Auschwitz sebagai simbol penolakan terhadap kekejaman kemanusiaan, berbicara di sinagoga, bertemu para rabi, dan mendorong kerja sama lintas iman.