Kamis 12 Mar 2026 11:00 WIB

Warna Loreng Pada Harimau

Loreng hitam harimau bekerja lewat mekanisme disruptive coloration.

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Foto: Dok Artha Graha Peduli
Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Oleh : Pemerhati Satwa, Pendiri IKHW

REPUBLIKA.CO.ID, Di lantai hutan Sumatera, cahaya tidak jatuh langsung tapi pecah menjadi bias cahaya  di celah   daun, batang, dan tanah . Dalam ruang tersebut cahaya  terfragmentasi itulah harimau Sumatera (Panthera tigris sumaterae) menjalani kehdupan hariannya. Harimau dirancang oleh alam untuk beradaptasi dan mitigasi alami. Setiap helai bulu, setiap kontras warna pada tubuhnya, adalah hasil  panjang antara evolusi  antara gen, cahaya dan vegetasi (Mazák, 1981). Loreng - loreng hitam  membentuk pewarnaan visual jingga gelap.

Secara ilmiah, warna jingga pada harimau Sumatera terjadi karena dominasi pigmen pheomelanin pada rambutnya, yaitu jenis melanin yang menghasilkan warna kuning hingga merah, sementara loreng hitam terbentuk dari konsentrasi eumelanin yang lebih tinggi pada area tertentu bulu (Slominski et al., 2004). Produksi dan distribusi kedua pigmen ini dikendalikan oleh mekanisme genetik sejak fase embrional, termasuk regulasi gen pengontrol jalur sintesis melanin yang menentukan apakah rambut akan berkembang dengan warna terang atau gelap (Kaelin et al., 2012). 

Baca Juga

Secara evolusioner, warna jingga dipertahankan karena memberikan keuntungan kamuflase: banyak mamalia mangsa seperti rusa dan babi hutan memiliki penglihatan dikromatik yang tidak mampu membedakan merah dan hijau secara jelas, sehingga warna jingga bagi mereka tampak menyerupai rona kusam kehijauan atau kecokelatan yang menyatu dengan vegetasi hutan (Jacobs, 2009). 

Selain itu, mamalia secara biologis tidak memiliki pigmen alami untuk menghasilkan warna hijau atau biru, sehingga spektrum warna tubuhnya terbatas pada variasi hitam, cokelat, kuning dan merah, menjadikan jingga sebagai hasil optimal dalam batasan biokimia tersebut sekaligus sebagai adaptasi visual yang efektif di lingkungan hutan hujan Sumatera.Bagi mata manusia, warna jingga tampak mencolok. 

Harimau Sumatera (ilustrasi)

Namun penglihatan manusia bukanlah standar ekologis di lantai hutan. Banyak mamalia mangsa seperti rusa dan kijang babi hutan memiliki penglihatan dikromatik yang tidak mampu membedakan spektrum merah dan hijau sebagaimana manusia (Jacobs, 2009). Dalam persepsi visual mereka, warna jingga tubuh harimau tidak tampil sebagai oranye terang, melainkan sebagai rona kusam yang menyatu dengan serasah daun, tanah basah, dan batang kayu lapuk. 

Dengan kata lain, apa yang tampak “terang” bagi manusia justru menjadi “netral” dalam dunia visual mangsanya. Prinsip ini menjelaskan mengapa warna tubuh harimau tidak perlu menyerupai hijau daun untuk menjadi tersembunyi; ia hanya perlu selaras dengan bagaimana mangsanya melihat dunia (Allen et al., 2011).

Loreng hitam pada tubuh harimau bekerja melalui mekanisme yang dikenal sebagai disruptive coloration yaitu pewarnaan yang memecah garis tegas tubuh sehingga siluet biologisnya kehilangan batas (Cott, 1940). Dalam kondisi hutan hujan Sumatera, di mana cahaya matahari disaring oleh lapisan tajuk yang tebal, bayangan jatuh sebagai garis dan bercak yang tak beraturan. Pakis, rotan, perdu, dan sulur membentuk jaringan vertikal-horisontal yang rumit. Loreng-loreng harimau meniru kerumitan itu. Ketika ia diam, bahu yang lebar dan kepala yang bulat tidak lagi terbaca sebagai bentuk hewan, melainkan sebagai pola bayangan yang kebetulan tersusun seperti tubuh.

Jika dibandingkan dengan kerabatnya di utara seperti Harimau Siberia (Panthera tigris altaica), loreng Harimau Sumatera cenderung lebih rapat dan tipis (Mazák, 1981). Perbedaan ini bukan kebetulan morfologis, melainkan respons ekologis terhadap habitat. Harimau Siberia hidup di lanskap bersalju dan hutan boreal dengan ruang pandang lebih terbuka, sehingga kebutuhan akan pemecahan visual berbeda. 

Sebaliknya, hutan hujan Sumatera memiliki jarak pandang yang pendek dan tingkat kompleksitas vegetasi tinggi. Evolusi meresponsnya dengan memperhalus pola loreng, meningkatkan frekuensi garis, dan memperdalam warna dasar agar sesuai dengan intensitas cahaya rendah dan dominasi warna cokelat–hijau pada substrat hutan (Seidensticker & McDougal, 1993).

Kamuflase ini menjadi krusial karena harimau adalah predator penyergap (ambush predator). Ia bukan pengejar jarak jauh seperti kanid yang mengandalkan stamina kolektif. Tubuhnya dirancang untuk ledakan energi singkat: otot paha yang tebal, tulang belakang lentur, dan cakar yang dapat ditarik untuk mencengkeram mangsa dalam sepersekian detik (Sunquist & Sunquist, 2002).

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement