Senin 27 Apr 2026 10:01 WIB

Menjaga Harga Beras Tetap Stabil

Pemerintah saat ini fokus terhadap stabilisasi harga beras medium dengan 3 langkah.

Suasana Pasar Beras Induk Cipinang, Jakarta Timur., Rabu (13/8/2025). (ilustrasi)
Foto: Republika/mg160
Suasana Pasar Beras Induk Cipinang, Jakarta Timur., Rabu (13/8/2025). (ilustrasi)

Oleh: Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPN HKTI

REPUBLIKA.CO.ID, Ada kabar penting terkait dengan pergerakan harga beras di pasar dalam beberapa waktu terakhir ini. Mengutip paparan Ateng Hartono dari Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 yang ditayangkan di kanal YouTube Kemendagri, Senin (13/4/2026), harga beras medium dilaporkan mengalami kenaikan di sejumlah daerah.

BPS mencatat, beras medium harganya sedikit mengalami kenaikan. Pada pekan kedua April 2026, beras medium harganya naik 0,22% dibanding Maret 2026. Kondisi saat ini, harga beras medium rata-rata Rp 14.287 per kg. Sementara harga beras premium naik 0,17% pada pekan kedua April dibanding Maret 2026. Saat ini harga rata-ratanya ada di level Rp 16.047 per kg.

Penyebab Harga Beras Naik

Harga beras dilaporkan merangkak naik lagi, padahal saat ini lagi masuk musim panen raya. Ada beberapa penyebab utama yang saling tumpuk.

Pertama, biaya produksi dan distribusi naik. Di level penggilingan, beras premium naik 1,8% sebulan dan 9,57% setahun. Beras medium juga ikut naik 0,61% sebulan.

Penyebabnya tekanan di pasokan, biaya produksi yang naik, plus inflasi pangan yang masih tinggi. Ongkos kirim juga jadi biang kerok. Menteri Pertanian mengatakan stok nasional aman, tapi pengiriman ke daerah tersendat jadi harga lokal melonjak.

Kedua, paradoks panen raya tapi harga tetap naik. Pada Maret 2026 terjadi puncak panen dengan produksi 5,21 juta ton dan surplus 2,62 juta ton. Normalnya harga turun kalau stok melimpah. Namun, yang terjadi malah naik di penggilingan, grosir, dan eceran sekaligus.

Stok Bulog juga besar yakni 4,3 juta ton. Artinya masalah bukan di jumlah gabah, tapi di alur distribusi dan rantai pasok.

Ketiga, harga di luar Jawa sudah lama di atas HET. Untuk Zona II dan III yang mayoritas wilayah minus beras, harga eceran sudah berbulan-bulan di atas HET. Rantai pasok yang panjang bikin harga di luar Jawa/Sulawesi lebih mahal dibanding negara lain.

Keempat, faktor global dan iklim. Harga beras dunia naik hampir 15% year-to-date per Januari 2026. Ditambah efek El Nino tahun lalu yang ganggu panen, pasokan jadi ketat meski produksi global naik. Spekulasi pasar juga ikut manasin harga.

Dampaknya langsung terasa. Di level grosir, harga naik dari Rp 14.282/kg jadi Rp 14.419/kg dalam sebulan. Di eceran naik dari Rp 15.099/kg jadi Rp 15.197/kg. Lantaran beras menyumbang 3% terhadap inflasi, kenaikan ini membuat biaya hidup makin berat.

Intinya, stok beras ada, panen jalan, tapi biaya produksi, distribusi macet, harga global, dan spekulasi bikin harga tetap naik. BPS sendiri mengatakan tren kenaikan belum melambat di semua level.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement