Kamis 03 Apr 2025 08:00 WIB

AI, Pembelajaran Koding-ka, dan Lompatan Sunyi Indonesia

AI berperan strategis untuk membaca perubahan cuaca dan memudahkan analisis ilmu alam

Ilustrasi pekerja menggunakan kecerdasan buatan.
Foto: Dok BRI
Ilustrasi pekerja menggunakan kecerdasan buatan.

Oleh : Muhammad Muchlas Rowi*

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama beberapa dekade terakhir, dunia dipacu oleh minyak dan gas. Negara yang menguasai sumber daya energi fosil menjadi penentu arah ekonomi dan politik global. Ekonomi Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Saudi Arabia, bahkan China maju pesat seiring berkembangnya perusahaan-perusahaan berbasis migas.

Tapi waktu bergerak cepat, dan wajah kekuasaan itu perlahan berubah. Ketika minyak mulai menua dan dunia memimpikan langit yang lebih bersih, muncul energi baru (renewable energy). Energi terbarukan ini bersumber dari kekuatan alam—angin yang menggerakkan turbin, air yang mengalirkan listrik lewat pembangkit hidro, cahaya matahari yang ditangkap oleh panel surya, hingga panas bumi yang dimanfaatkan sebagai tenaga.

Baca Juga

Namun, energi baru ini pun tak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan satu elemen penting, teknologi yang cerdas dan adaptif. Kemajuan energi terbarukan tak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi.

Di balik semua itu, kecerdasan artifisial [AI] memainkan peran penting: dari memetakan potensi matahari dan angin, mengatur distribusi energi melalui smart grid, hingga memprediksi beban puncak secara presisi. Perpaduan antara sumber daya terbarukan dan kecerdasan teknologi inilah yang menjadikan transisi energi global semakin tak terelakkan.

Dari energi ke algoritma

John Wilson dan Paul Daugherty dalam artikelnya berjudul “Collaborative Intelligence: Humans and Ai Are Joining Forces” (Harvard Business Review, 2022) mengatakan, model Generative Ai seperti yang dikembangkan oleh OpenAI telah mengubah cara kerja kreatif di berbagai sektor, mulai dari penulisan konten, desain visual, hingga dukungan pengambilan keputusan. Menurutnya, dalam konsep "Collaborative Intelligence", manusia dan mesin saling memperkuat. Ai menangani tugas rutin dan kompleks, sementara manusia fokus pada aspek strategis, empatik, dan inovatif.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement