
Oleh: Dr H Serian Wijatno S E, MM, MH, pengamat sosial kemasyarakatan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Menyongsong Indonesia Emas 2045 yang tinggal kurang lebih 19 tahun lagi, kita berdiri di persimpangan harapan dan tantangan.
Di satu sisi, mimpi menjadi negara maju, berdaulat, dan sejahtera semakin dekat.
Di sisi lain, problematika yang kita hadapi justru semakin kompleks baik di bidang perekonomian, kesenjangan sosial, pendidikan yang harus merata, hingga ketenagakerjaan yang perlu diperluas.
Kita awali dengan contoh eksistensi Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) mikro yang bertumbuh pesat. Tapi pertumbuhannya bukan karena peluang, melainkan karena keterpaksaan — bertahan hidup di tengah ketatnya persaingan dan minimnya lapangan kerja formal.
Ketika sarjana harus masuk sektor informal dan pabrik-pabrik kehilangan daya saing, pertanyaannya sederhana yaitu apakah kita benar-benar sedang menuju emas, atau hanya bertahan di tengah badai?
Padahal saat ini seharusnya menjadi masa keemasan — saat bonus demografi menjadi kekuatan, saat industri maju, saat setiap anak muda punya masa depan yang jelas.
Namun realitanya, tantangan yang kita hadapi hari ini justru bertumpuk.
Ekonomi diguncang arus impor, pendidikan belum nyambung dengan industri, dan lapangan kerja formal semakin langka.
Akibatnya, UMKM mikro tumbuh subur. Bukan karena ekosistemnya sehat, tapi karena banyak orang tidak punya pilihan lain selain bertahan hidup. Inilah PR besar kita sebelum benar-benar menyongsong Indonesia Emas.