
Oleh: Mohammad Ayub Mirdad, Dosen Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Airlangga/Koordinator Lab Centre for Strategic and Global Studies (CSGS)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang Amerika Serikat dan Iran memasuki bulan keenam dan konsekuensinya mulai jauh melampaui Timur Tengah. Krisis berkepanjangan di Selat Hormuz tidak hanya mengganggu arus energi global, tetapi juga memaksa Washington menghitung ulang posisi strategisnya. Dalam situasi seperti ini, Afghanistan—lima tahun setelah ditinggalkan Amerika—bisa kembali memiliki nilai strategis yang selama ini dianggap telah hilang.
Pertanyaannya bukan apakah Amerika akan kembali mengirim pasukan ke Kabul. Kemungkinan itu, setidaknya dalam waktu dekat, sangat kecil. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah Washington akan kembali membutuhkan Afghanistan sebagai ruang strategis untuk intelijen, pengawasan, dan akses regional ketika pilihan Amerika di sekitar Iran semakin berisiko.
Jalurnya dapat dibayangkan. Krisis Hormuz yang berlarut-larut meningkatkan risiko terhadap aset, pangkalan, dan jalur logistik Amerika di kawasan Teluk, termasuk pesawat pengintai AS yang selama ini beroperasi dari pangkalan-pangkalan di Qatar dan Bahrain. Semakin tinggi biaya mempertahankan operasi dari kawasan tersebut, semakin besar dorongan untuk mencari alternatif pengawasan dan akses di luar radius langsung konflik. Afghanistan, yang berbatasan dengan Iran dan berada di persimpangan kepentingan China, Rusia, Pakistan, serta Asia Selatan, kembali memiliki nilai geografis yang sulit diabaikan.
Pola semacam ini bukan hal baru dalam kalkulasi Washington. Pada akhir 1970-an, invasi Uni Soviet ke Afghanistan mengubah cara Amerika memandang negeri tersebut. Washington kemudian mendukung kelompok-kelompok mujahidin bukan semata karena kedekatan ideologis, tetapi karena Afghanistan menjadi ruang strategis untuk menahan rival. Pada 2001, logika itu muncul kembali dalam konteks berbeda. Setelah serangan 11 September, Amerika membangun kemitraan dengan Northern Alliance untuk menggulingkan Taliban.
Namun, sejarah tidak pernah berulang secara persis.
Pada 2001, Amerika memiliki pemicu langsung, kepentingan keamanan yang sangat jelas, serta mitra lokal yang telah memiliki struktur militer. Hari ini situasinya berbeda. Washington tidak memiliki pangkalan militer di Afghanistan, sementara kelompok-kelompok anti-Taliban seperti National Resistance Front dan Afghanistan Freedom Front masih terfragmentasi dan jauh dari kekuatan yang mampu menandingi Taliban. Karena itu, jika Amerika kembali memberi perhatian strategis kepada Afghanistan, bentuknya kemungkinan bukan invasi baru, melainkan dukungan terbatas berupa intelijen, komunikasi, pelatihan, atau pendanaan.
Di sinilah perkembangan terbaru Afghanistan menjadi menarik. Taliban telah berkuasa selama lima tahun dan berusaha menunjukkan bahwa mereka mampu menjaga stabilitas. Namun, perlawanan bersenjata belum sepenuhnya hilang. Bagi kelompok-kelompok anti-Taliban, perubahan kalkulasi Washington dapat menjadi peluang. Mereka tidak harus menunggu Amerika mengirim pasukan. Dukungan terbatas saja dapat meningkatkan kemampuan mereka dan, yang lebih penting, meningkatkan posisi tawar mereka terhadap Taliban.
Tetapi peluang tersebut juga mengandung risiko. Bagi Washington, kembali menggunakan kelompok lokal sebagai instrumen geopolitik dapat menghidupkan kembali kritik terhadap warisan intervensi Amerika di Afghanistan. Bagi oposisi sendiri, dukungan eksternal tidak otomatis menghasilkan kemenangan. Fragmentasi internal, lemahnya legitimasi, dan absennya konsensus mengenai alternatif pemerintahan dapat membuat bantuan luar negeri justru memperpanjang konflik.
Ironisnya, sinyal tentang kemungkinan kembalinya Amerika justru datang dari Kabul. Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi baru-baru ini menyatakan bahwa Amerika dapat membuka kembali kedutaan di Kabul dan meningkatkan hubungan ekonomi. Taliban jelas menginginkan normalisasi hubungan dengan Washington. Namun, perubahan lingkungan strategis dapat membuat Amerika memandang Afghanistan melalui lensa yang berbeda: bukan hanya diplomasi dan investasi, tetapi juga keamanan.
Di sinilah paradoksnya. Taliban mungkin menginginkan Amerika kembali sebagai mitra diplomatik dan ekonomi. Sebaliknya, perang Iran dapat membuat Washington kembali melihat Afghanistan sebagai ruang strategis. Kedua kepentingan tersebut tidak selalu bertemu. Lebih jauh, perubahan ini tidak harus dimulai dari keputusan besar di Washington. Kontak informal dengan oposisi, pertukaran informasi, atau dukungan terhadap aktor masyarakat sipil dapat menjadi tahap awal—pola yang pernah terlihat pada pembukaan hubungan AS-Myanmar awal 2010-an. Dalam politik luar negeri, perubahan strategis sering kali dimulai dari langkah kecil sebelum berkembang menjadi kebijakan yang lebih terbuka dan terukur.
Karena itu, indikator terpenting bukan sekadar meningkatnya serangan kelompok anti-Taliban. Yang perlu diperhatikan adalah apakah perang Iran dan krisis Hormuz berlangsung cukup lama untuk mengubah kalkulasi strategis Washington secara fundamental. Jika itu terjadi, nilai Afghanistan dapat meningkat bukan karena Taliban melemah secara tiba-tiba, tetapi karena lingkungan geopolitiknya berubah.
Perang Iran mungkin tidak langsung menjatuhkan Taliban. Namun, ia dapat membuka kembali pertanyaan yang selama ini dianggap selesai: apakah Afghanistan benar-benar sudah keluar dari kalkulasi keamanan Amerika?
Yang perlu diperhatikan bukan apakah 2001 akan terulang persis. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pola di baliknya—rival mengubah kalkulasi, Washington mengikuti, dan kelompok lokal memperoleh ruang baru—sedang mulai bergerak lagi.