
Oleh: Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Bisnis (MEB) PP Muhammadiyah Mukhaer Pakkanna
REPUBLIKA.CO.ID, Pada 13-18 Agustus 2026, saya membersamai kawan-kawan pengusaha (saudagar) yang bergabung dalam komunitas Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) ke kota Yiwu dan Hangzhou, ibu kota provinsi Zhejiang, China Timur. Ada 52 peserta berpartisipasi aktif dalam business trip tersebut, dengan agenda yang cukup padat dan konkret.
Mereka adalah pengusaha autentik, bukan pengusaha karbitan dan juga bukan pengusaha yang memainkan proyek-proyek anggaran negara. Mereka berasal dari pelbagai latar usaha dan daerah, dari Sumatera Utara hingga Papua Barat.
Mengonfirmasi Sekretaris Jenderal SUMU, Ghufron Mustaqim, SUMU adalah paguyuban yang inklusif, terbuka bagi siapa saja, lintas lantar belakang, yang memiliki visi, misi, dan frekuensi yang sama, membangun kemandirian bangsa. Selain itu, SUMU terbuka bagi yang sudah menjadi pengusaha dan yang belum menjadi pengusaha, untuk membangun jejaring intra dan ekstra dengan berbagai pihak (dalam dan luar negeri). SUMU adalah wahana kawah candradimuka untuk mempersiapkan pengusaha-pengusaha tangguh, mandiri, dan bermarwah.
Mengapa Yiwu?
Perjalanan bisnis 5 (lima) hari ini, SUMU memang dengan sadar memilih sebuah kota sentra produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sangat popular di aras dunia, dan lokasinya adalah di Yiwu. Kota Yiwu, kota setingkat kabupaten di bawah yurisdiksi kota Jinhua. Jika berkunjung di kota ini, sekitar 158 kilometer dari ibu kota provinsi, Hangzhou, ibu kota di mana Jack Ma memulai debut bisnisnya dengan jenama Alibaba.
Kota ini terkenal sebagai pusat pasar grosir komoditas skala UMKM terbesar. Kerapkali kota ini juga dijuluki "supermarket global", tempat para pedagang internasional mencari pelbagai barang konsumsi ringan. Memiliki pasar grosir barang-barang manufaktur ringan terbesar di planet ini.
Sebagai “supermarket global”, di kota ini, tentu akan menemukan Yiwu International Trade City (Pasar Futian) dengan 6 (enam) distrik yang sangat luas. Distrik inilah merupakan jantung ekonomi kota ini. Kompleks pasar grosir jumbo ini mencakup area seluas lebih 6 juta meter persegi dengan lebih 75.000 stan, serta dukungan sistem keuangan dan ekosistem pembayaran cashless (Alipay), pergudangan modern (logistic), dan traffic transportasi yang mudah di akses, sehingga melancarkan aktivitas pengiriman (ekspor) barang.
Di pasar Futian ini, pelbagai barang teretalase. Menyediakan lebih dari 1,8 juta jenis produk komoditas skala kecil dan menengah yang mencakup aksesori, mainan anak, fashion dan kitchen ware, tekstil, peralatan elektronik, perangkat teknologi informasi, dekorasi rumah tangga, komponen otomotif, peralatan pertanian dan perkebunan, dan lainnya. Bahkan, banyak menyuplai kebutuhan jamaah untuk prosesi ibadah haji dan umrah di Arab Saudi.