Selasa 16 Jun 2026 05:31 WIB
Catatan Cak AT

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Islam ingin mengingatkan bahwa masa depan tidak dibangun oleh pesta.

Tahun Baru Tanpa Kembang Api
Foto: Ahmadie Thaha
Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari ini, Selasa, 16 Juni 2026, umat Islam memasuki tahun baru Hijriyah 1448. Tidak ada langit yang pecah oleh kembang api. Tidak ada hitung mundur yang ditayangkan stasiun televisi dengan dentuman musik yang membuat jendela rumah bergetar. Tidak ada pesta semalam suntuk yang membuat orang lupa pulang.

Baca Juga

Kalau pun ada keramaian, biasanya sederhana: anak-anak santri berjalan beriringan menyusuri jalan kampung, membawa obor dengan wajah berseri-seri. Api kecil bergoyang ditiup angin malam, sementara para ibu menonton dari teras rumah sambil sesekali mengingatkan agar jangan terlalu dekat dengan kabel listrik.

Pawai obor itu sering dianggap sekadar tradisi. Padahal, mungkin tanpa disadari, obor adalah metafora paling tepat untuk memahami tahun baru Hijriyah.

Sebab, kalender Islam lahir bukan dari pesta kemenangan, melainkan dari perjalanan panjang mencari cahaya di tengah kegelapan. Ia tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad, bukan pula dari turunnya wahyu pertama, melainkan dari sebuah keputusan paling berani dalam sejarah Islam: hijrah.

Menariknya, hijrah bukanlah kisah seorang tokoh agama yang tiba-tiba memutuskan pindah kota karena bosan tinggal di tempat lama. Hijrah adalah perpaduan antara iman, kecerdasan membaca zaman, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan membangun jejaring sosial. Ia adalah kisah tentang bagaimana wahyu bertemu strategi.

Selama tiga belas tahun di Makkah, Nabi Muhammad berdakwah dalam situasi yang tidak mudah. Pengikutnya sedikit. Tekanan sosial meningkat. Pemboikotan ekonomi terjadi. Penghinaan datang silih berganti.

Orang-orang yang hari ini membaca sejarah dalam bentuk ringkasan satu halaman sering lupa bahwa di balik narasi heroik itu ada kelelahan manusiawi yang nyata. Bayangkan seorang pemimpin yang melihat sahabat-sahabatnya disiksa, dicemooh, bahkan sebagian harus meninggalkan kampung halaman lebih dahulu ke Habasyah.

Dengan segala kesulitan itu, dalam ukuran manusia biasa, cukup banyak alasan untuk menyerah. Namun, justru pada titik itulah sejarah berbelok.

Secara akidah, umat Islam meyakini bahwa pendorong utama hijrah adalah izin dan petunjuk Allah. Nabi tidak bergerak semata karena kalkulasi politik. Ada dimensi wahyu yang membimbing langkahnya.

Tetapi, wahyu tidak bekerja dalam ruang kosong. Ia hadir dalam realitas sosial yang konkret. Tuhan membuka jalan, sementara manusia diminta menggunakan akal, membaca peluang, dan menyiapkan bekal.

Di sinilah muncul pertanyaan menarik: siapa yang membangkitkan semangat Nabi untuk berhijrah? Adakah aktor intelektual alias "pemikir" di balik keputusan besar itu?

Kalau yang dibayangkan adalah sosok filsuf istana seperti Aristoteles di belakang Alexander Agung, jawabannya tidak ada. Tidak ada Chanakya yang duduk di belakang Nabi sambil menggambar peta strategi di atas pasir. Tidak ada konsultan politik dengan presentasi PowerPoint berjudul "Roadmap Madinah 622".

Tetapi, sejarah memperlihatkan adanya banyak tangan yang bekerja bersama menyiapkan masa depan. Salah satu tokoh paling penting adalah Mus'ab bin Umair. Ia pemuda Quraisy yang dahulu dikenal tampan, kaya, dan hidup dalam kemewahan. Setelah memeluk Islam, ia kehilangan kenyamanan itu.

Ketika sejumlah penduduk Yatsrib menyatakan baiat kepada Nabi, Mus'ab diutus ke kota tersebut. Tugasnya sederhana sekaligus berat: mengajarkan Al-Qur'an, mengenalkan Islam, membangun kepercayaan, dan merawat komunitas baru.

Penduduk Yatsrib berbaiat kepada Nabi dalam dua fase. Awalnya, pada 620 M atau tahun ke-11 kenabian, sekitar enam orang dari kabilah Khazraj Yatsrib bertemu Nabi Muhammad di Aqabah saat musim haji.

Mereka mendengarkan dakwah Nabi dan menerima Islam. Mereka kemudian kembali ke Yatsrib dan menyebarkan ajaran Islam kepada keluarga serta masyarakat mereka.

Setahun kemudian, dua belas orang dari Yatsrib datang menemui Nabi secara rahasia di Aqabah. Mereka berbaiat untuk: tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak berdusta, tidak mendurhakai Nabi dalam perkara yang baik.

Baiat ini lebih bersifat komitmen keagamaan dan moral, belum berupa perjanjian militer. Setelah baiat inilah, Nabi mengutus Mus'ab bin Umair ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam.

Kalau menggunakan istilah hari ini, Mus'ab adalah diplomat, pendidik, organiser masyarakat, sekaligus pembangun ekosistem. Ia tidak datang membawa pasukan. Ia membawa percakapan. Ia mengetuk pintu-pintu rumah, berdialog dengan tokoh-tokoh suku, menjelaskan ajaran Islam dengan kesabaran.

Berkat kerja sunyinya, sejumlah pemimpin berpengaruh di Yatsrib menerima Islam. Kota itu perlahan berubah menjadi tanah yang siap menerima kedatangan Nabi.

Mus'ab mengajarkan satu pelajaran penting: perubahan besar sering kali didahului oleh pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak masuk berita utama.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement