Selasa 02 Jun 2026 14:48 WIB

Mismatch Kurs Dolar

Kebijakan fiskal dan moneter harus menyerap gejolak global melalui proses sterilisasi

Karyawan memeriksa uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan memeriksa uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

Oleh: Adiwarman A. Karim, Pengamat Ekonomi Syariah

REPUBLIKA.CO.ID, Fenomena pertumbuhan 5,61%, inflasi rendah, cadangan devisa cukup besar, namun kurs rupiah dan IHSG terus melemah, tidak dapat dijelaskan dengan penjelasan standar makro ekonomi. Dalam penjelasan standar, ketika indikator makro ekonomi menguat maka seharusnya kurs rupiah juga menguat.

Hal ini disebabkan adanya asumsi-asumsi yang digunakan dalam penjelasan standar, yang tidak terpenuhi dalam perekonomian Indonesia. Pertama, asumsi open economy. Kedua, pemilahan gejolak kurs yang bersifat voice dan noise.

Baca Juga

Ketiga, pemilahan segmentasi ekonomi atas marginal propensity to consume (MPC), macro multiplier effect, dan velositas perputaran uang yang berbeda-beda. Pertama, ketergantungan Indonesia terhadap ekonomi global.

Edward Leamer, professor UCLA, dalam kajiannya “Measures of Openness” menggunakan ukuran Trade Intensity Ratios dan Intra-Industry Trade Ratios. Legatum Institute menggunakan Global Index of Economic Openness. Dalam ukuran manapun, Indonesia masih sangat jauh untuk dapat dikatakan sebagai ekonomi terbuka.

Keterbukaan ekonomi Indonesia masuk melalui tiga jalur utama yaitu ekspor-impor, pinjaman asing dan investasi asing. Bordo, Meissner, Weidenmier, peneliti National Bureau of Economic Reseach (NBER), dalam kajian mereka “Currency Mismatches, Default Risk, and Exchange Rate Depreciation” menjelaskan currency mismatch terjadi ketika pinjaman suatu negara didominasi oleh valuta asing, dan pendapatannya didominasi oleh mata uang lokal.

Indonesia memenuhi kriteria ini, pinjaman didominasi valuta asing sedangkan pendapatannya didominasi rupiah. Terjadilah mismatch kurs dolar. Ekspansi fiskal dan atau ekspansi moneter dalam bentuk rupiah akan langsung mempengaruhi kurs rupiah.

Di sisi lain, kebijakan fiskal dan moneter harus menyerap gejolak global melalui proses sterilisasi untuk menjaga kurs rupiah. Disinilah muncul kearifan dalam menjaga keseimbangan independensi kebijakan moneter bank sentral dan kebijakan fiskal mendorong pertumbuhan. Kedua, pemilahan voice dan noise.

photo
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ricky P. Gozali melihat uang rupiah palsu sebelum dimusnahkan di Kompleks Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Bank Indonesia bersama Bareskrim Polri memusnahkan 466.535 lembar uang rupiah palsu dengan berbagai pecahan hasil penanganan yang ditemukan sejak tahun 2017 hingga November 2025. - (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement