
Oleh: Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Guru Besar Fakultas Adab UIN Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, XINJIANG -- Saya bersama Buya Dr Anwar Abbas Wakil Ketua Umum MUI menerima undangan dari Kemenlu Cina untuk mengunjungi Xinjiang, China. Kunjungan diplomatik ini berlangsung selama lima hari khusus ke Urumqi dan Kashgar dari tanggal 17 hingga 21 Mei. Kami menerima penjelasan penting tentang perkembangan ekonomi, infrastruktur, serta kondisi masyarakat Muslim pada umumnya. Gambaran tentang bagaimana modernisasi di Cina begitu cepat terjadi, kekayaan sumber daya energi, dan lingkungan multikultural Xinjiang secara lebih luas kami peroleh.
Transformasi Jalur Sutra Kuno-Modern
Jalur Sutra kuno China awalnya merupakan jaringan perdagangan dan hubungan peradaban yang menghubungkan Cina dengan Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa. Jalur ini bukan hanya menjadi sarana perdagangan sutra, rempah-rempah, dan berbagai komoditas, tetapi juga menjadi media pertukaran budaya, ilmu pengetahuan, agama, dan teknologi antarbangsa. Dalam era modern, jalur sutra kuno ini ditransformasi oleh China melalui pembangunan jaringan infrastruktur global yang dikenal sebagai Belt and Road Initiative (BRI).
Melalui proyek ini, China membangun jalur kereta api, pelabuhan, jalan raya, kawasan industri, hingga konektivitas digital yang menghubungkan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Eropa dalam satu sistem ekonomi dan logistik modern. Jalur sutra ini dilakukan melalui dua jalur yaitu "Silk Road Economic Belt" dan "21st Century Maritime Silk Road."
Transformasi ini membuat Cina berhasil mempercepat arus perdagangan, distribusi barang, investasi, dan mobilitas manusia dalam skala global. Jika Jalur Sutra Kuno bergerak melalui karavan dan kapal layar, kini konektivitas itu dijalankan melalui kereta cepat, kapal kontainer raksasa, bandara modern, dan jaringan digital. Dampaknya sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi banyak negara karena meningkatnya perdagangan dan pembangunan infrastruktur. Namun di sisi lain, proyek ini juga memunculkan persaingan geopolitik global karena sejumlah negara Barat melihatnya sebagai upaya Cina memperluas pengaruh ekonomi dan politik internasionalnya. Ini yang mengkhawatirkan negara negara Barat terutama Amerika.
Muslim dan Multietnik Xinjiang
Xinjiang adalah wilayah multietnik di barat China yang sejak lama menjadi persimpangan jalur sutra kuno. Umat Islam di wilayah ini adalah populasi terbesar yang berasal dari etnis Uighur, disusul Kazakh dan Hui. Islam masuk ke Xinjiang sejak abad ke-8 melalui perdagangan dan dakwah dari Asia Tengah, lalu berkembang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Uighur. Menurut informasi, saat ini sekitar separuh penduduk Xinjiang adalah Muslim.
Di tengah modernisasi Cina yang sangat cepat, umat Islam di Xinjiang tetap menjaga identitas mereka melalui bahasa, tradisi keluarga, makanan halal, dan kehidupan masjid. Bagi masyarakat Uighur, Islam bukan hanya agama tetapi juga identitas budaya dan sosial.
Pemerintah China mendorong pembangunan ekonomi dan infrastruktur besar-besaran di Xinjiang, namun pada saat yang sama menerapkan pengawasan ketat terhadap aktivitas keagamaan dengan alasan menjaga stabilitas dan mencegah benturan antar kelompok yang berbeda dan juga kemungkinan munculnya ekstremisme. Karena itu, umat Islam di Xinjiang hidup di antara dua arus dan tantangan besar yaitu modernisasi yang pesat dan upaya mempertahankan identitas keislaman serta budaya mereka. Ini sebetulnya juga dialami umat Islam di mana-mana. Identitas kultural ini tentu penting karena ada kaitannya dengan kebijakan politik pemerintah, penerimaan masyarakat luas dan pemenuhan hak hak sebagai warga secara adil. Peran-peran publik umat Islam juga perlu mendapatkan perhatian secara proporsional.
Ekstrimisme dan Terorisme
Di Xinjiang, isu terorisme dan ekstremisme berkembang dalam konteks sosial, budaya, dan politik yang cukup kompleks. Isu ini sebetulnya juga muncul di banyak negara termasuk Indonesia. Xinjiang adalah kawasan multietnis dengan mayoritas penduduk Muslim Uighur, yang sepanjang sejarahnya memiliki identitas budaya dan tradisi keagamaan yang kuat. Sebagaimana yang juga terjadi di sejumlah negara lain, proses modernisasi dan pembangunan ekonomi yang sangat cepat di China, muncul berbagai tantangan sosial, termasuk ketegangan identitas, kesenjangan pembangunan, dan pengaruh ideologi radikal transnasional.
Pemerintah China menegaskan bahwa sejak 1990-an terdapat sejumlah aksi kekerasan dan separatisme yang dikaitkan dengan kelompok ekstremis, termasuk yang disebut memiliki hubungan dengan jaringan radikal internasional. Bagi pemerintah, ekstrimisme terorisme merupakan ancaman serius terhadap stabilitas sosial, keamanan masyarakat, dan persatuan nasional.
Karena itu, pemerintah menjalankan kebijakan penanggulangan terorisme dan deradikalisasi melalui pendekatan keamanan, pengawasan sosial, pendidikan vokasional, percepatan pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Bagi Pemerintah langkah-langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas, mencegah kekerasan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan tersebut kemudian menjadi perhatian dan perdebatan di tingkat internasional, terutama terkait dengan isu hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan pelestarian identitas budaya. Amerika adalah negara yang paling keras melakukan kritik. Tentu di balik kritik ini ada agenda politik Amerika. Karena itu, persoalan Xinjiang sering dipandang sebagai isu yang memerlukan pendekatan yang seimbang kombinasi antara keamanan, pembangunan, penghormatan budaya, dan dialog kemanusiaan.
MUI berkeyakinan bahwa gagasan Wasathiyah Islam memperoleh momentumnya untuk disosialisasikan dan diimplementasikan termasuk di China. Wallahu a'lam bishowab.