Senin 18 May 2026 09:03 WIB
Catatan Cak AT

Dolar Desa

Kemerdekaan sejati selalu dimulai dari kemampuan memberi makan diri sendiri.

Karyawan memeriksa uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan memeriksa uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di kaki Gunung Manglayang, di sebuah kampung kecil di Sukabumi, Jawa Barat, hidup seorang petani bernama Falah. Umurnya tak muda lagi, tapi wajahnya tenang seperti sawah selesai panen.

Baca Juga

Ia tak pernah melihat wujud dolar Amerika. Bahkan mungkin kalau disodori selembar uang seratus dolar, ia akan membalik-baliknya sambil bertanya, “Ini kupon undian apa?”

Falah hidup bersama istri dan tiga anaknya. Mereka merasa cukup makan harian dengan singkong, sagu, kadang nasi dari sawah sendiri. Berasnya disimpan di lumbung bambu kecil di belakang rumah.

Lauknya memang tahu dan tempe, tapi ia pastikan itu dibuat dari kedelai lokal. Bukan karena sedang ikut seminar anti-globalisasi di hotel berbintang, melainkan karena ia percaya kedelai impor terlalu banyak “campur tangan laboratorium”.

Maka bagi Falah, tempe lokal lebih menenangkan hati dibanding tempe yang lahir dari rekayasa genetika dan presentasi PowerPoint perusahaan multinasional. Maksudnya, ia tahu tempe atau tahu yang dibuat dari bahan kedelai impor sudah pasti bahan kedeleinya dari GMO.

Namun hidup memang lucu. Falah boleh tak kenal dolar, tapi sarungnya made in China. Kaos oblongnya made in China. Kopiahnya made in China. Bahkan mungkin celana dalamnya pun pernah menyeberangi Laut Cina Selatan sebelum sampai ke kios kampung.

Yang menarik, barang-barang itu kini bahkan bisa dibeli importir level rumahan melalui lapak Alibaba menggunakan QRIS dalam rupiah. Rasanya modern sekali. Tinggal scan, klik, selesai. Seolah dolar sudah pensiun dini.

Falah tak paham bahwa di balik layar transaksi QRIS yang tampak nasionalis itu, rantai perdagangan global tetap bergerak dengan logika devisa dan kurs internasional.

Rupiah memang dipakai di permukaan transaksi retail. Tapi struktur impor, pembayaran antarbank, neraca dagang, dan konversi antarnegara tetap berputar dalam orbit dolar dan mata uang kuat dunia.

Dunia digital kadang memang pandai berdandan. Orang merasa tak menyentuh dolar, padahal dolar diam-diam masih menjadi “mandor tak terlihat” di gudang perdagangan global.

Di titik inilah pernyataan Presiden Prabowo Subianto menjadi menarik dibaca, bukan sekadar dipukul rata sebagai kesalahan logika.

Ketika ia berkata bahwa orang desa tak memakai dolar, banyak orang langsung bereaksi seperti alarm kebakaran berbunyi di ruang seminar ekonomi makro. Media sosial mendidih. Para analis berhamburan membawa grafik. Ada yang seolah ingin memeriksa kurs rupiah sambil memeriksa tekanan darah.

Padahal mungkin, yang sedang dibicarakan Prabowo bukan semata fakta transaksi moneter, melainkan memberikan arah pada psikologi bangsa yang lebih optimistis demi mencapai cita-cita peradaban yang berbasis kemandirian. Dan itu berbeda.

Masalah kita hari ini memang terlalu sering membaca pidato politik seperti membaca kuitansi fotokopi. Semuanya harus literal, rinci, presisi, dan langsung cocok dengan data BPS per kuartal. Akibatnya, bangsa ini sering kehilangan kemampuan memahami isyarat arah.

Kalau konteksnya dipotong, ucapan “orang desa tidak pakai dolar” memang terdengar seperti kalimat yang bisa membuat profesor ekonomi menggigit kalkulator. Tetapi jika dilihat utuh, pernyataan itu muncul saat peresmian ribuan Koperasi Desa Merah Putih.

Artinya, kepala Presiden tampaknya sedang berbicara tentang cita-cita “uang beredar di desa, produksi tumbuh di desa, konsumsi dipenuhi desa.” Dengan kata lain: kemandirian ekonomi berbasis komunitas, yang pernah menjadi bayangan cita-cita banyak orang.

Dan harus diakui, arah itu tidak salah. Masalahnya, pidato politik sering seperti mie instan. Air panasnya ada, tapi bumbunya tertinggal. Narasi besar itu tidak dijelaskan secara lengkap kepada publik oleh pembantunya.

Akibatnya, orang mendengar kulitnya tanpa memahami kerangkanya. Bahkan para pembantu politik dan ahli komunikasi Presiden yang seharusnya menerjemahkan gagasan itu malah sering sibuk menjadi komentator televisi berkemeja rapi.

Padahal kalau mau jujur, Indonesia memang terlalu lama hidup sebagai bangsa yang merasa merdeka, tetapi dapurnya masih tergantung kapal impor. Kita bicara kedaulatan sambil antre kedelai luar negeri. Kita pidato tentang nasionalisme sambil gandum, gula, mesin, obat, bahkan jarum jahit masih menunggu kurs dolar tersenyum lebih dulu.

Karena itulah kritik kepada Prabowo tetap penting. Sebab realitas ekonomi memang keras kepala. Ketika rupiah melemah, harga pupuk naik. Ketika dolar melonjak, harga mie instan ikut salto.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement