Ahad 17 May 2026 09:43 WIB
Catatan Cak AT

Otak Dijajah Video Pendek

Video pendek membiasakan otak untuk hidup dalam potongan-potongan kecil.

Otak Dijajah Video Pendek. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Otak Dijajah Video Pendek. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ia datang tanpa permisi, tanpa basa-basi, langsung duduk di ruang tamu kesadaran kita. Namanya video pendek. Durasi belasan atau puluhan detik, tapi efeknya bisa lebih panjang dari khutbah Jumat yang molor.

Baca Juga

Kita kira ini sekadar hiburan, padahal menurut sebuah penelitian mendalam, video pendek yang terus dijejal sedang menulis ulang cara kerja otak kita secara diam-diam, sistematis, dan tanpa ampun.

Jurnal ilmiah Frontiers in Human Neuroscience (edisi 27 Juni 2024) mempublikasikan sebuah penelitian serius dengan judul yang cukup gamblang: “Mobile phone short video use negatively impacts attention functions: an EEG study.”

Penelitian ini dilakukan oleh Tingting Yan, Conghui Su, Weichen Xue, Yuzheng Hu, dan Hui Zhou dari Zhejiang University, China. Bukan sembarang opini netizen, ini riset laboratorium dengan rangkaian kabel, gelombang otak, dan statistik, yang dipasang di kepala.

Metodenya pun tidak main-main. Sebanyak 48 partisipan muda (rata-rata usia 21,8 tahun) diuji menggunakan Attention Network Test (ANT) sambil aktivitas otaknya direkam dengan EEG. Ini alat yang membaca gelombang listrik otak secara langsung.

Mereka juga diukur tingkat kecenderungan kecanduan video pendek mereka melalui kuesioner khusus (MPSVATQ) serta kemampuan kontrol diri mereka melalui skala psikologis (SCS). Singkatnya: bukan cuma ditanya “sering nonton?”, tapi dilihat langsung bagaimana otaknya bekerja saat berpikir.

Hasilnya? Bukan sekadar “agak terganggu”, tapi ada korelasi nyata: semakin tinggi kecenderungan kecanduan video pendek, semakin lemah aktivitas theta di bagian prefrontal otak.

Theta, wilayah yang bertanggung jawab atas kontrol diri, pengambilan keputusan, dan kemampuan menahan gangguan mereka, semakin lemah. Dengan kata lain, “direktur utama” dalam otak mereka mulai melemah, sementara “divisi hiburan” naik pangkat jadi komisaris.

Lebih ironis lagi, penurunan ini tidak selalu tampak di permukaan. Secara perilaku, seseorang bisa terlihat baik-baik saja. Mereka masih bisa menjawab soal, masih bisa bekerja, masih bisa bercakap normal seolah tak terjadi apa-apa.

Tapi di balik layar, otak mereka kehilangan daya tahan terhadap gangguan. Ia menjadi mudah terdistraksi, cepat bosan, dan sulit bertahan dalam aktivitas yang membutuhkan fokus panjang. Seperti atlet yang masih bisa berlari, tapi paru-parunya sudah bocor.

Di titik ini, video pendek bukan lagi sekadar tontonan. Ia adalah “pelatih mental” yang diam-diam melatih kita menjadi tidak sabar.

Video pendek membiasakan otak untuk hidup dalam potongan-potongan kecil, bukan dalam narasi panjang. Ia mendidik kita untuk mencari sensasi instan, bukan pemahaman mendalam.

Dan yang paling berbahaya: ia membuat kita merasa semua itu normal.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement