
Oleh: Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Pendidikan Nasional selalu mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah ikhtiar besar untuk membentuk manusia, membangun peradaban, dan menjaga masa depan bangsa. Anak-anak memang datang ke sekolah untuk belajar membaca, berhitung, dan memahami ilmu pengetahuan. Namun, mereka juga belajar dari rumah, jalanan, media sosial, tontonan televisi, percakapan orang dewasa, dan perilaku para pemimpin publik.
Oleh karena itu, pertanyaan penting dalam Hardiknas kali ini tidak cukup hanya: bagaimana membuat anak pintar? Pertanyaannya harus lebih dalam lagi yaitu bagaimana membuat anak tumbuh sebagai pribadi berakhlak, tangguh, jujur, dan mampu hidup bermartabat di tengah zaman yang semakin gaduh?
Di sekolah, anak-anak diajari nilai-nilai moral dan kejujuran. Namun, di luar sekolah, mereka kadang melihat kebohongan yang dianggap sebagai siasat/strategi. Di kelas, guru mengajarkan disiplin. Namun di ruang publik, anak-anak menyaksikan aturan bisa ditawar dan dinegosiasikan oleh mereka yang memiliki kuasa. Di pelajaran agama dan Pancasila, anak-anak diajari adab, tanggung jawab, dan keadilan. Namun di media sosial, mereka sering dipertontonkan hinaan, fitnah, dan kebencian lebih cepat menyebar daripada nasihat-nasihat kebaikan.
Inilah tantangan pendidikan kita hari ini. Pendidikan akhlak tidak cukup diajarkan sebagai materi. Ia harus dihidupkan sebagai ekosistem. Di sinilah teori ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner menjadi relevan untuk analisis. Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai lapisan lingkungan yang saling berkaitan. Anak tidak tumbuh dalam ruang kosong. Melainkan ia dibentuk oleh keluarga, sekolah, teman sebaya, masyarakat, media, budaya, kebijakan, dan suasana sosial-politik di sekitarnya.
Dalam kerangka itu, sekolah hanyalah salah satu lingkungan penting. Keluarga adalah ruang pertama pembentukan karakter. Masyarakat adalah tempat anak menguji nilai. Media massa dan media sosial menjadi ruang baru yang sangat kuat dalam membentuk cara berpikir, selera, bahasa, dan perilaku anak. Jika sekolah mengajarkan nilai, sementara keluarga mengabaikan; jika keluarga menanamkan adab, tetapi media menormalisasi kekerasan verbal; jika guru mengajarkan kejujuran, tetapi ruang publik mempertontonkan kecurangan, maka anak akan menerima pesan yang bertabrakan. Dan hal ini membuat kegamangan serta disonansi kognitifnya.
Al-Qur’an memberi dasar yang kuat tentang pentingnya membangun ekosistem pendidikan sejak keluarga. Dalam Surah At-Tahrim ayat 6, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan moral tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab keluarga. Orang tua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menjaga arah nilai, akhlak, dan keselamatan spiritualnya.
Namun, tanggung jawab itu tidak berhenti di rumah. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan adalah amanah kolektif. Orang tua bertanggung jawab di rumah. Guru bertanggung jawab di sekolah. Pemimpin bertanggung jawab atas kebijakan dan keteladanan publik. Media bertanggung jawab atas informasi yang disebarkan. Masyarakat bertanggung jawab atas budaya sosial yang diwariskan kepada generasi muda.
Dengan demikian, teori Bronfenbrenner sejalan dengan spirit Islam: anak dibentuk oleh lingkungan yang saling memengaruhi. Akhlak anak tidak hanya lahir dari nasihat, tetapi juga dari contoh dan keteladanan yang konsisten. Dalam bahasa psikologi, anak belajar melalui pengamatan. Dalam bahasa agama, keteladanan adalah dakwah paling nyata.
Di sinilah model pendidikan Ki Hajar Dewantara tetap aktual. Pendidikan tidak cukup dilakukan dengan perintah. Anak belajar melalui proses nontoni, nirokke, dan nambahi. Anak melihat, lalu meniru, kemudian mengembangkan. Jika yang mereka tonton adalah kejujuran, mereka akan lebih mudah meniru kejujuran. Jika yang mereka lihat adalah kesantunan, mereka akan belajar santun. Tetapi jika yang mereka saksikan setiap hari adalah kebencian, keserakahan, dan manipulasi, jangan heran jika nilai yang diajarkan sekolah menjadi lemah.
Ki Hajar Dewantara juga mewariskan prinsip ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Prinsip ini bukan hanya berlaku untuk guru. Ia berlaku untuk semua orang dewasa. Orang tua harus menjadi teladan di rumah. Pemimpin harus menjadi teladan dalam kekuasaan. Tokoh agama harus menjadi teladan dalam ucapan dan perbuatan. Media harus menjadi teladan dalam menjaga kebenaran dan keadaban.
Maka, membangun pendidikan nasional tidak cukup dengan mengganti kurikulum. Kurikulum memang penting, tetapi ekosistem jauh lebih menentukan. Anak-anak membutuhkan rumah yang hangat, sekolah yang aman, masyarakat yang beradab, media yang mencerdaskan, dan negara yang adil. Tanpa itu, pendidikan akhlak hanya akan menjadi hafalan. Anak bisa menjawab soal tentang kejujuran, tetapi bingung ketika melihat kebohongan diberi panggung.
Ada beberapa langkah penting yang harus diperkuat.
Pertama, keluarga harus kembali menjadi madrasah pertama. Orang tua perlu hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan moral. Anak membutuhkan percakapan, pelukan, batasan, teladan, dan doa. Rumah yang baik bukan rumah tanpa masalah, melainkan rumah yang mengajarkan cara menyelesaikan masalah dengan adab.
Kedua, sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar tempat mengejar nilai. Guru perlu diberi ruang dan penghargaan untuk mendidik manusia secara utuh. Anak harus belajar literasi, sains, dan teknologi, tetapi juga belajar empati, tanggung jawab, kejujuran, dan kemampuan mengelola emosi.
Ketiga, media massa dan media sosial harus ikut menjadi bagian dari pendidikan bangsa. Kebebasan berekspresi tidak boleh berubah menjadi kebebasan merusak nalar dan akhlak publik. Media yang baik tidak hanya mengejar perhatian, tetapi juga menjaga kebenaran, keadaban, dan kemaslahatan.
Keempat, pemimpin publik harus sadar bahwa mereka juga pendidik bangsa. Setiap ucapan, keputusan, dan perilaku pejabat adalah pelajaran sosial bagi anak-anak. Ketika kekuasaan dijalankan dengan amanah, anak belajar tentang tanggung jawab. Ketika hukum ditegakkan secara adil, anak belajar bahwa kebenaran masih punya tempat.
Hardiknas seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan pendidikan pada makna terdalamnya: mencerdaskan akal, melembutkan hati, dan meneguhkan akhlak. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar bekerja, tetapi juga generasi yang jujur ketika tidak diawasi, adil ketika berbeda, santun ketika berdebat, dan kuat ketika menghadapi godaan.
Mendidik anak berarti menyiapkan masa depan bangsa. Tetapi, masa depan itu tidak akan kuat jika sekolah berjalan sendiri, sementara keluarga, masyarakat, media, dan negara mengirim pesan yang saling bertentangan. Anak-anak membutuhkan ekosistem yang selaras. Mereka membutuhkan contoh yang hidup, bukan sekadar nasihat yang indah.
Pada akhirnya, pendidikan adalah amanah peradaban. Jika sekolah menanam ilmu, keluarga menanam cinta, masyarakat menanam adab, media menjaga kebenaran, dan negara melalui pemimpin memberi teladan keadilan, maka akhlak bangsa akan tegak. Dari sanalah pendidikan menemukan ruhnya. Bukan hanya melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga manusia yang beriman, beradab, dan bermanfaat bagi sesama. Selama Hari Pendidikan Nasional.