Jumat 20 Mar 2026 05:13 WIB

Rahasia Umum Idul Fitri yang Sering Terlupakan

Idul Fitri adalah momentum yang jauh lebih dalam.

Umat Islam menunaikan Sholat Idul Fitri di Masjid Al Jabbar, Bandung, Jawa Barat.
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Umat Islam menunaikan Sholat Idul Fitri di Masjid Al Jabbar, Bandung, Jawa Barat.

Oleh : Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute dan Ketua Divisi Tabligh Global Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Allahu Akbar wa Lillahi al-Hamdu, hari ini Jum’at 20 Maret 2026sebagian umat Islam merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1447 dengan gema takbir yang menggetarkan langit dan bumi. Namun, di balik gema itu, ada pertanyaan yang sering luput kita jawab secara jujur: apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah, atau sekadar kembali kepada rutinitas?

Idul Fitri sering direduksi menjadi perayaan kultural, tradisi saling memaafkan, hidangan melimpah, dan simbol-simbol kebahagiaan lahiriah. Padahal, secara teologis dan peradaban, Idul Fitri adalah momentum yang jauh lebih dalam: titik balik eksistensial manusia untuk kembali kepada fitrah, lalu melangkah menuju pembangunan peradaban.

Baca Juga

Di sinilah letak persoalan besar umat hari ini. Kita berhenti di “fitrah”, tetapi tidak melanjutkan perjalanan menuju “peradaban”.

Fitrah: Fondasi Ontologis Manusia

Alquran menegaskan bahwa manusia diciptakan di atas fitrah—suatu kondisi asli yang lurus, yang mengarah kepada tauhid dan kebenaran (QS. Ar-Rum: 30). Fitrah bukan sekadar kesucian moral individual, melainkan struktur batin yang menjadikan manusia mampu membedakan yang hak dan yang batil, yang adil dan yang zalim.

Dalam perspektif ini, fitrah adalah fondasi ontologis manusia sebagai makhluk beradab.

Ketika manusia setia pada fitrahnya, ia akan melahirkan nilai-nilai universal: kejujuran, keadilan, amanah, dan kasih sayang. Sebaliknya, ketika manusia menyimpang dari fitrahnya, yang lahir bukan hanya dosa personal, tetapi juga kerusakan sosial dan kehancuran peradaban.

Itulah sebabnya Alquran mengaitkan kerusakan global dengan perilaku manusia: kerusakan di darat dan laut terjadi karena ulah tangan manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini bukan sekadar kritik moral, melainkan diagnosis peradaban.

Rekonstruksi Moral sebagai Pra-Syarat Peradaban

Ramadan sejatinya adalah proyek rekonstruksi manusia. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi membangun kesadaran ilahiah (taqwa) yang menjadi inti dari seluruh bangunan peradaban Islam.

Taqwa, dalam kerangka ini, bukan sekadar kesalehan ritual. Ia adalah sistem nilai yang mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, dan sosial. Taqwa melahirkan integritas dalam ekonomi, keadilan dalam hukum, serta tanggung jawab dalam kepemimpinan. Dengan kata lain, taqwa adalah “infrastruktur moral” dari sebuah peradaban.

Tanpa taqwa, kemajuan teknologi hanya akan mempercepat kerusakan. Tanpa taqwa, kekuatan ekonomi hanya akan memperlebar ketimpangan. Tanpa taqwa, kekuasaan politik hanya akan melahirkan tirani dalam bentuk yang lebih canggih.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement