Senin 16 Mar 2026 15:36 WIB
Catatan Cak AT

Untung dari Perang

Saat asap perang sedang membubung, siapa yang akan menjadi lebih kaya?

Untung dari Perang. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Untung dari Perang. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika perang pecah di Timur Tengah, biasanya pikiran orang langsung melayang ke industri senjata. Bayangan kita penuh dengan jet tempur, misil hipersonik, kontraktor militer, dan perusahaan persenjataan yang sahamnya melonjak.

Baca Juga

Di sisi lain, Donald Trump tampil mengakui Amerika Serikat menang perang — mungkin maksudnya ingin segera mengakhiri perang. Namun Iran ingin perang terus berlanjut sampai Israel lenyap dari muka bumi.

Beda dari kebanyakan pengamat, Robert Kiyosaki melihat perang dari sudut yang sedikit berbeda, bahkan agak nakal karena pikirannya seolah bermain di atas penderitaan akibat perang. Ia tidak terlalu tertarik pada siapa yang menembakkan misil pertama. Ia lebih tertarik pada satu pertanyaan sederhana: saat asap perang sedang membubung atau mungkin sudah menghilang, siapa yang akan menjadi lebih kaya?

Itulah kebiasaan lama Kiyosaki. Sebagai penulis Rich Dad Poor Dad, sebuah buku fenomenal panduan financial freedom (kebebasan finansial) dan investor pasif, ia selalu memandang peristiwa besar dunia bukan sebagai drama politik, melainkan sebagai pergerakan arus uang. Dalam buku-bukunya ia sering pakai istilah win or lose, termasuk dalam perang kali ini. Padahal, maksudnya bukan menang perang, tapi "untung" dari perang.

Dalam logika investornya, perang bukan hanya tragedi kemanusiaan — meski tentu saja itu tetap tragedi — tetapi juga peristiwa ekonomi yang mengubah arah aliran kapital global. Dan dalam konflik terbaru di sekitar Iran, Kiyosaki menyebut negara-negara yang berpotensi menjadi "pemenang" ekonomi alias yang diuntungkan oleh perang. Salah satunya, yang paling menarik, India.

Mengapa India? Untuk memahami logika Kiyosaki, kita perlu melihat tiga mesin ekonomi geopolitik yang sering tidak disadari orang: energi, logistik, dan diplomasi ekonomi.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement