Sabtu 07 Mar 2026 14:45 WIB
Catatan Cak AT

Perang Yang Sudah Kalah

Amerika-Israel telah memulai sesuatu yang tak miliki peluang untuk mereka selesaikan.

Kebakaran di lokasi kejadian setelah sebuah bangunan dihantam rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 28 Februari 2026.
Foto: EPA/ABIR SULTAN
Kebakaran di lokasi kejadian setelah sebuah bangunan dihantam rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 28 Februari 2026.

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kalanya sejarah berjalan seperti komedi gelap. Semua pemain masuk panggung dengan kostum megah, musik perang berkumandang, kamera televisi siap menyiarkan kemenangan.

Baca Juga

Tetapi tiba-tiba naskahnya berubah. Para aktor utama tampak bingung, penonton mulai bertanya-tanya, dan lampu panggung justru menyorot sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Begitulah kira-kira nada yang muncul dari seorang jurnalis Israel bernama Alon Mizrahi ketika ia berbicara tentang perang terbaru antara Iran melawan blok Amerika Serikat dan Israel.

Narasinya terdengar aneh di tengah pembungkaman — atau mungkin kebungkaman — media-media Barat mengenai rincian perang yang dimulai negeri mereka sendiri, Amerika Serikat, yang selama ini merasa paling jumawa dan unggul.

Alon Mizrahi bukan sosok sembarangan yang tiba-tiba muncul dari lorong gelap internet. Ia lahir di Israel dari keluarga Yahudi Mizrahi — yakni komunitas Yahudi Timur Tengah yang secara sejarah dan budaya jauh lebih dekat dengan dunia Arab dibandingkan dengan Yahudi Eropa.

Ayahnya berdarah Arab, sementara ibunya berasal dari keluarga Yahudi Maroko. Karena latar itulah ia sering menyebut dirinya dengan istilah yang agak jarang terdengar dalam wacana politik Israel modern: seorang “Yahudi Arab”. Sebuah identitas yang di Israel sendiri sering terasa seperti paradoks.

Seperti banyak pemuda Israel lainnya, Mizrahi pernah menjalani wajib militer di Angkatan Bersenjata Israel (IDF). Pada masa mudanya ia bahkan dikenal memiliki pandangan politik yang cenderung kanan. Namun perjalanan hidup sering memiliki cara unik untuk membelokkan arah keyakinan seseorang.

Setelah mengalami trauma pribadi — termasuk kematian saudaranya dalam kecelakaan motor — pandangan politiknya berubah secara drastis. Ia kemudian bergerak ke spektrum kiri radikal dan mulai mengkritik keras ideologi Zionisme, struktur kekuasaan negara Israel, serta cara negara itu memperlakukan rakyat Palestina.

Pada akhirnya ia memilih meninggalkan Israel dan menetap di Amerika Serikat sebagai bentuk protes terhadap apa yang ia sebut sebagai genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Dari sana ia menjadi salah satu suara Yahudi paling keras yang menentang kebijakan negara asalnya sendiri.

Mizrahi berargumen bahwa elite politik Israel dan sebagian besar masyarakatnya telah terjebak dalam pola kebencian anti-Arab yang sangat dalam, sebuah kondisi yang menurutnya hanya dapat diakhiri jika struktur negara Israel sendiri dibongkar dan dibangun kembali dalam bentuk politik yang baru.

Ia juga dikenal sebagai pembawa acara kanal analisis geopolitik The Mizrahi Perspective di YouTube dan Substack. Dalam berbagai tulisannya ia sering membahas isu-isu yang sensitif dalam masyarakat Israel: dehumanisasi terhadap bangsa Arab dan Palestina, hierarki rasial antara komunitas Yahudi Eropa dan Yahudi Timur Tengah, serta apa yang ia sebut sebagai psikopatologi kekerasan kolonial dalam politik modern Israel.

Tak mengherankan jika pandangannya menimbulkan reaksi yang sangat tajam dari berbagai pihak. Di satu sisi, ia mendapat dukungan dari kalangan anti-Zionis, aktivis hak asasi manusia, dan sebagian intelektual progresif yang melihatnya sebagai suara hati nurani dari dalam komunitas Yahudi sendiri.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement