Senin 16 Mar 2026 10:26 WIB

Waktunya Indonesia Pimpin 'Orkestra Global' Gempur Islamofobia

Islamofobia merupakan mesin pembunuh senyap yang berawal dari stereotip.

Seorang pria mengangkat plakat bertuliskan Islamofobia membunuh, keadilan untuk Aboubakar saat mengikuti unjuk rasa menentang Islamofobia menyusul penusukan mematikan seorang pria di sebuah masjid di wilayah selatan negara itu, di Paris, Prancis, 27 April 2025. Aboubakar Cisse, seorang pemuda Afrika, ditikam hingga tewas pada 25 April di sebuah masjid di desa La Grand-Combe di wilayah Gard di Prancis selatan.
Foto: EPA-EFE/TERESA SUAREZ
Seorang pria mengangkat plakat bertuliskan Islamofobia membunuh, keadilan untuk Aboubakar saat mengikuti unjuk rasa menentang Islamofobia menyusul penusukan mematikan seorang pria di sebuah masjid di wilayah selatan negara itu, di Paris, Prancis, 27 April 2025. Aboubakar Cisse, seorang pemuda Afrika, ditikam hingga tewas pada 25 April di sebuah masjid di desa La Grand-Combe di wilayah Gard di Prancis selatan.

Oleh: Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute dan Wakil Ketua Komisi HLNKI MUI Pusat

REPUBLIKA.CO.ID, Tanggal 15 Maret diperingati sebagai International Day to Combat Islamophobia yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/UN) pada tahun 2022. Peringatan ini lahir dari kesadaran global bahwa kebencian dan diskriminasi terhadap umat Islam telah menjadi fenomena yang meluas di berbagai belahan dunia.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, makna peringatan ini menjadi semakin mendesak. Dunia menyaksikan berbagai krisis kemanusiaan dan geopolitik yang bersinggungan langsung dengan sentimen anti-Muslim—mulai dari tragedi kemanusiaan di Gaza, meningkatnya diskriminasi terhadap Muslim di India oleh kelompok nasionalis ekstrem, hingga meningkatnya serangan terhadap masjid dan simbol Islam di sejumlah negara Barat.

Baca Juga

Dalam konteks ini, Islamofobia tidak lagi sekadar prasangka sosial. Ia telah berkembang menjadi fenomena politik dan struktural yang dapat memicu kekerasan sistemik terhadap komunitas Muslim.

Karena itu, Hari Internasional Memerangi Islamofobia perlu dibaca bukan sekadar simbol tahunan, tetapi sebagai momentum moral dan politik untuk membangun kesadaran global terhadap bahaya kebencian berbasis agama.

Dari Prasangka ke Dehumanisasi

Islamofobia sering dimulai dari stereotip: anggapan bahwa Islam identik dengan kekerasan, bahwa Muslim merupakan ancaman keamanan, atau bahwa simbol-simbol Islam adalah tanda radikalisme. Narasi semacam ini terus direproduksi dalam wacana politik, media, dan bahkan kebijakan publik di sejumlah negara.

Masalahnya, stereotip tersebut dengan mudah berkembang menjadi proses dehumanisasi. Ketika sebuah komunitas terus-menerus digambarkan sebagai ancaman, maka kekerasan terhadap mereka dapat dianggap wajar atau bahkan dibenarkan.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak tragedi kemanusiaan besar diawali oleh proses dehumanisasi seperti ini. Oleh karena itu, memerangi Islamofobia bukan hanya persoalan perlindungan minoritas agama, tetapi juga bagian dari upaya menjaga nilai-nilai kemanusiaan universal.

Islamofobia dan Stabilitas Global

Islamofobia juga memiliki implikasi geopolitik yang signifikan. Dunia saat ini dihuni oleh hampir dua miliar umat Islam yang tersebar di berbagai kawasan. Ketika komunitas sebesar ini merasa dimarginalkan atau distigmatisasi secara sistemik, dampaknya tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga politik dan keamanan.

Polarisasi berbasis identitas agama dapat memperdalam konflik, memperkuat narasi ekstremisme, dan memperburuk ketegangan antarperadaban. Karena itu, memerangi Islamofobia sejatinya merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas global.

Dalam dunia yang semakin saling terhubung, kebencian terhadap satu kelompok agama di suatu tempat dapat dengan cepat memicu resonansi emosional dan politik di tempat lain.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement