Senin 02 Mar 2026 13:43 WIB

Ramadhan di Bawah Langit yang Membara: Doa, Air Mata, dan Harapan Umat

Ramadhan adalah pengingat bahwa harapan masih memiliki rumah.

Jamaah membaca Al-Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Sejumlah umat muslim, memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperbanyak amal ibadah dengan membaca Al-Quran dan berdzikir di masjid sebagai upaya memperbaiki diri pada bulan suci.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Jamaah membaca Al-Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Sejumlah umat muslim, memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperbanyak amal ibadah dengan membaca Al-Quran dan berdzikir di masjid sebagai upaya memperbaiki diri pada bulan suci.

Oleh : KH. Ahmad Jamil, M.A., Ph.D

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan datang lagi. Ia selalu datang dengan lembut bak angin malam yang menenangkan, seperti azan yang membelah sunyi, seperti lantai musholla yang adem. Tetapi kali ini, ia tiba ketika langit dunia terasa panas.

Di Timur Tengah, bumi kembali bergetar. Ketegangan meningkat. Rudal dan sirene menjadi suara yang akrab. Pangkalan militer diserang, kekuatan besar saling menunjukkan taring, dan ancaman eskalasi regional menggantung seperti awan gelap yang belum tentu reda. Dunia menyaksikan dengan napas tertahan.

Baca Juga

Ketika konflik memanas, bukan hanya tanah yang retak namun jiwa manusia pun ikut retak. Pasar global bergetar. Harga energi berfluktuasi. Indeks saham berubah warna dalam hitungan jam. Para analis berbicara tentang inflasi, volatilitas, dan risiko geopolitik. Tetapi di balik grafik dan statistik, ada sesuatu yang lebih sunyi yaitu kegelisahan batin manusia.

Seorang ibu menatap layar ponselnya, membaca berita tentang perang dan ancaman ekonomi. Seorang ayah menghitung ulang pengeluaran bulanannya. Seorang mahasiswa merenung tentang masa depan dunia yang terasa tak menentu sambil bergumam bertanya dalam hati: dunia seperti apa yang akan aku warisi?

Mungkin tidak terdengar suara sirene perang, tidak pula ada ledakan di langit Indonesia, tetapi ada dentuman halus di dada banyak orang yaitu rasa takut dan khawatir. Percakapan tentang harga beras, BBM, dan kebutuhan pokok menjadi semakin sensitif. Di ruang-ruang keluarga, ada kekhawatiran yang tidak selalu terucap keras, tetapi terasa dalam diam.

Psikologi modern menyebut keadaan ini sebagai collective anxiety—kecemasan kolektif yang muncul ketika ketidakpastian global terus-menerus memenuhi ruang kesadaran publik. Tetapi Islam telah lebih dulu mengenal fenomena ini dalam bahasa yang berbeda: kegelisahan hati yang mencari sandaran. Inilah zaman ketika manusia modern menyadari kembali bahwa rasa aman bukan sesuatu yang permanen. Dan di tengah suasana seperti ini, Ramadhan hadir.

Ketika Dunia Berguncang, Allah Berfirman: “Aku Dekat”, Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah : 186)

Tidak ada kata “قُلْ” (katakanlah) dalam ayat ini. Allah tidak memerintahkan Nabi untuk menjawab. Allah menjawab langsung: ” فَإِنِّي قَرِيبٌ (Aku dekat)”. Di tengah dunia yang terasa jauh dari damai, kalimat ini seperti cahaya yang menyusup ke ruang-ruang hati yang gelap.

Imam al-Qurṭubi berkata:

وَوُضِعَتْ آيَةُ الدُّعَاءِ بَيْنَ آيَاتِ الصِّيَامِ تَنْبِيهًا عَلَى الِاجْتِهَادِ فِي الدُّعَاءِ

“Ayat doa diletakkan di antara ayat-ayat puasa sebagai isyarat agar bersungguh-sungguh dalam berdoa.”

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement