Jumat 05 Jun 2026 11:49 WIB

Pecut dan Kekang Peradaban

Sebuah Novel Pendek tentang Kuda Ekonomi dan Masa Depan Manusia

Madinat az-Zahra (ILUSTRASI)
Foto: dok wiki
Madinat az-Zahra (ILUSTRASI)

Oleh: Achmad Tshofawie; Kordinator ECO-FITRAH, keluarga FKPPI, ICMI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langit kota Neo-Andalas tampak muram. Kabut tipis menggantung di antara gedung-gedung kaca yang menjulang seperti hutan logam. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini mengalir pelan dengan warna kecoklatan. Di kejauhan, layar raksasa terus memancarkan angka-angka ekonomi: GDP Growth: +7.3% ;Consumer Confidence: Rising;Productivity Index: Excellent.Namun di bawah layar itu, orang-orang berjalan dengan wajah lelah.Mereka bergerak cepat, tetapi seperti kehilangan arah.

Di sebuah ruang konferensi raksasa bernama Forum Penunggang Peradaban, para pemikir dunia berkumpul. Tema pertemuan tahun itu terdengar sederhana : “Apakah Kuda Ekonomi Masih Dikendalikan Manusia "?

Di tengah ruangan melingkar, duduk tokoh-tokoh besar dunia. Milton Friedman duduk tegak dengan setelan gelapnya. Matanya tajam. Di depannya bertumpuk data dan grafik pertumbuhan. Di sisi lain, Amartya Sen tampak tenang sambil mencatat sesuatu di buku kecil. Tak jauh dari sana, Lionel Robbins menatap layar statistik dengan wajah sulit ditebak.Sementara E. F. Schumacher hanya memandang keluar jendela, memperhatikan seekor burung kecil yang hinggap di antena gedung.

Di sudut ruangan duduk seorang lelaki tua berjubah sederhana. Dialah Ibnu Khaldun. Ia lebih banyak diam. Tetapi ketika ia menatap seseorang, orang itu merasa seperti sedang dibaca sejarah hidupnya.

Moderator forum membuka pertemuan. “Dunia menghadapi krisis pangan, stres massal, kerusakan ekologi, dan ketimpangan ekstrem. Namun ekonomi global justru tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi"?Ruangan hening.Lalu Friedman berbicara lebih dulu. “Masalah dunia bukan pertumbuhan,” katanya mantap. “Masalahnya justru karena pertumbuhan belum cukup.”

Beberapa peserta mengangguk. Friedman melanjutkan:“Ketika ekonomi melambat: pengangguran naik, investasi turun, kemiskinan meningkat.Kuda ekonomi harus terus dipacu". Schumacher tersenyum tipis.“Tetapi,” katanya pelan, “berapa lama seekor kuda bisa dipacu tanpa diberi kesempatan bernafas"?Friedman menoleh.“Dunia tidak bisa berhenti"."Benar,” jawab Schumacher. “Tetapi dunia juga tidak bisa terus berlari tanpa arah".

Di luar ruang konferensi, seorang anak kecil duduk menyimak  layar kaca di sudut kota. Namanya Kael. Usianya baru dua belas tahun. Di tangannya ada buku lusuh tentang sungai dan benih padi. Ia datang bersama seorang petani bernama Paman Ahtan.Ia bukan akademisi terkenal. Ia hanya petani agrofitrah dari pinggiran selatan Neo-Andalas. Tetapi ternyata ada berbagai orang secara diam-diam datang kepadanya untuk berkonsultasi: tanah, air,benih,dan cara hidup yang tidak merusak bumi. Kael memandang sungai kota.“Paman Tan,” katanya pelan, “kenapa ekonomi makin maju, tapi sungainya makin sakit"?Paman Ahtan tersenyum pahit.“Karena manusia lupa bahwa air bukan sekedar komoditas".

Sementara itu, diskusi di dalam forum mulai memanas. Lionel Robbins akhirnya berbicara. “Ekonomi selalu tentang kelangkaan,” katanya. “Kebutuhan manusia tidak terbatas".“Benarkah?” tanya Amartya Sen. Robbins terdiam sejenak. Sen melanjutkan:“Mungkin yang tidak terbatas bukan kebutuhan manusia, tetapi ambisinya". Ruangan mulai sunyi."Manusia", kata Sen, “tidak hanya membutuhkan konsumsi. Mereka membutuhkan: martabat, kesehatan, pendidikan,hubungan sosial,dan makna hidup".Friedman menggeleng.“Itu idealisme"."Tidak,” jawab Sen tenang.“Itu kemanusiaan".

Di sudut ruangan, Ibnu Khaldun akhirnya membuka suara.Suaranya pelan, tetapi membuat seluruh forum diam.“Aku telah melihat banyak peradaban,” katanya. “Mereka selalu bermula dari semangat hidup yang kuat".Ia memandang layar GDP kota.“Kemudian mereka mabuk kemewahan".Tak ada yang berbicara. "Mereka memacu kudanya terlalu keras".

Malam itu, Kael dan Paman Ahtan berjalan di pinggir kota.Di kejauhan tampak kawasan industri bercahaya terang. Asap membumbung ke langit. “Paman” tanya Kael, “kenapa manusia suka sekali memacu semuanya"? Paman Ahtan memungut segenggam tanah. “Karena manusia takut merasa kurang". "Padahal"? "Padahal bumi sudah cukup memberi". Kael terdiam.

Keesokan harinya forum dilanjutkan.Kini giliran Shofwanaz berbicara.Ia lulusan perguruan tinggi negeri ternama di Ghent-Belgia. Ia ekonom akademisi yang bertahun-tahun mendampingi pedagang kecil dan UMKM.“Maaf,” katanya sambil berdiri, “tetapi rakyat kecil tidak hidup di dalam grafik".Beberapa peserta mulai memperhatikan.“Mereka hidup di pasar, sawah, dapur, dan tagihan listrik.”

Shofwanaz menarik napas.“Kalau GDP naik tetapi pangan mahal,air tercemar, petani termarjinalkan,dan anak muda burnout, maka mungkin ada yang salah dengan cara kita memacu kuda ekonomi".Ruangan kembali sunyi.

Malam berikutnya terjadi hal yang tidak diharapkan di pusat kota.Harga pangan melonjak.Air bersih mulai langka.Orang-orang panik membeli kebutuhan pokok.

Layar raksasa kota tetap menyala: Market Stability: Positive.Tetapi di bawah layar itu, seorang ibu menangis karena tidak mampu membeli susu anaknya.

Kael melihat semuanya.Ia menatap layar besar itu lama sekali.Lalu berkata pelan: "Angka ternyata bisa tersenyum,meski manusia sedang sedih".

Hari terakhir forum tiba.Moderator meminta kesimpulan. Friedman  masih yakin bahwa pertumbuhan adalah jalan keluar.Robbins mulai terlihat gelisah.Sen berbicara tentang martabat manusia.

Schumacher berbicara tentang ekonomi yang berjiwa.Shofwanaz berbicara tentang rakyat kecil.Paman Ahtan berbicara tentang tanah.Lalu moderator menoleh kepada Ibn Khaldun.“Menurut Anda,” tanyanya, “apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dunia"? Ibnu Khaldun memejamkan mata sejenak.

“Peradaban,” katanya perlahan, “runtuh bukan karena kekurangan tenaga". Semua diam.“Peradaban runtuh ketika manusia kehilangan kemampuan mengendalikan dirinya sendiri".

Tiba-tiba Kael mengangkat tangan dari kursi belakang.Semua menoleh. Anak kecil itu berdiri dan berkata lantang “Aku mau bertanya".Moderator mengangguk. Kael memandang seluruh ruangan. "Kalau ekonomi terus tumbuh,” katanya polos, “kenapa manusia semakin sulit bahagia"?Tak ada yang menjawab.

Kael melanjutkan:“Kalau teknologi makin hebat, kenapa sungai semakin banyak yang rusak"? Ruangan mulai terasa berat. “Kalau manusia semakin pintar,” kata Kael lagi, “kenapa bumi semakin sakit?”

Hening. Panjang. Sangat panjang.

Schumacher tersenyum kecil. Sen menunduk. Robbins memejamkan mata.Friedman tak lagi melihat grafiknya. Sementara Ibn Khaldun memandang Kael dengan tatapan dalam.“Anak kecil,” katanya pelan, “kadang melihat lebih jernih daripada peradaban besar.”

Setelah forum selesai, hujan turun di Neo-Andalas.Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, hujan turun cukup lama. Paman Ahtan dan Kael berjalan keluar gedung konferensi.Di tangan Paman Ahtan ada kantong kecil berisi benih padi.“Kael,” katanya sambil menyerahkan benih itu, “peradaban besar tidak selalu dimulai dari istana atau pasar saham"."Dari mana"?Paman Ahtan tersenyum. “Dari manusia yang masih mau merawat kehidupan kecil". Kael memandangi benih itu lama sekali.

Di kejauhan, layar raksasa ekonomi kota perlahan padam karena listrik terganggu hujan. Tetapi di tanah kecil tempat mereka berdiri, air hujan mulai meresap pelan ke bumi. Dan untuk pertama kalinya, Kael merasa, dunia belum benar-benar terlambat diselamatkan. Kael tetap semangat, karena ia ksatria kehidupan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement