Ahad 01 Mar 2026 13:48 WIB
Catatan Cak AT

Ramadhan Bulan Jihad

Konflik yang tidak pernah selesai akan selalu menemukan bentuk barunya.

Demonstran Iran memprotes serangan AS-Israel, di Teheran, Iran, Sabtu (28/2/2026).
Foto: Majid Asgaripour/WANA/Reuters
Demonstran Iran memprotes serangan AS-Israel, di Teheran, Iran, Sabtu (28/2/2026).

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada bangsa yang menandai kalendernya dengan musim liburan dan diskon tengah tahun. Ada pula bangsa yang menandai kalendernya dengan tanggal-tanggal luka dan harga diri, bangsa yang menambahkan jihad sebagai salah satu rukun iman.

Baca Juga

Maka ketika serangan Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan terjadi tepat pada 10 Ramadhan, bagi bangsa Iran itu bukan sekadar tanggal militer, melainkan tanggal jihad teologis. Bagi mereka, sejarah bukan hanya ditulis oleh para jenderal dan analis geopolitik, tetapi juga oleh ayat-ayat yang hidup dalam kesadaran kolektif.

Ramadhan, dalam ingatan Islam, bukan hanya bulan puasa dan sirup kurma. Ia juga bulan terjadinya Perang Badar, bulan jihad, ketika komunitas kecil yang minim logistik mengalahkan kekuatan besar yang kenyang persenjataan.

Sejarah mencatat peristiwa itu bukan sebagai legenda, tetapi sebagai momentum psikologis yang membentuk mentalitas perlawanan. Bahkan, jadi titik tolak kebangkitan peradaban besar. Melawan penindasan dan kezaliman, dengan semangat ajaran jihad yang menghunjam di dada.

Maka ketika Iran merespons serangan pada hari yang sama, hanya dalam jeda sekian jam, bagi banyak warganya itu tidak dibaca sebagai operasi balasan biasa. Ia dibaca sebagai kelanjutan narasi: bahwa perlawanan memiliki legitimasi spiritual.

Di titik ini geopolitik bertemu teologi, dan keduanya tidak selalu duduk di meja yang sama.

Dunia Barat membaca konflik dalam bahasa deterrence, stabilitas regional, dan keseimbangan kekuatan. Iran membacanya dalam bahasa kehormatan, kesyahidan (syahadah), dan tanggung jawab iman. Dua kamus ini sering kali tidak saling menerjemahkan.

Iran modern lahir dari Revolusi 1979 yang menjadikan ideologi sebagai fondasi negara. Dalam doktrin resmi Republik Islam, konsep perlawanan terhadap dominasi asing dan pembelaan terhadap kaum tertindas menjadi bagian dari identitas nasional.

Bagi banyak warga Iran, sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, dan tekanan militer bukan sekadar tekanan eksternal, melainkan harga yang telah diperhitungkan sejak awal pilihan politik mereka. Mereka tidak menganggap dirinya korban kebetulan sejarah, tetapi pelaku pilihan sejarah.

Di mata pendukungnya, pembalasan Iran terhadap serangan AS+Israel diproyeksikan sebagai mandat kehormatan: membela martabat, melindungi yang tertindas, dan menunjukkan bahwa ancaman tidak selalu berakhir dengan kepatuhan.

Dalam perspektif ini, mitos “adidaya” tampak retak ketika intimidasi dijawab dengan ketegasan. Sejarah memang menunjukkan bahwa kekuatan besar sering runtuh bukan karena kekurangan senjata, tetapi karena kehilangan legitimasi moral di mata dunia.

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa setiap perlawanan membawa konsekuensi. Sanksi, isolasi, inflasi, dan penderitaan sipil bukan metafora, melainkan realitas sehari-hari. Iran sudah mengalami ini puluhan tahun, yang justeru membuatnya kuat dan mandiri.

Iran bukan negeri utopis; ia negeri nyata dengan rakyat nyata yang menanggung biaya pilihan geopolitik. Tetapi dalam psikologi kolektif yang dibangun oleh revolusi dan teologi, penderitaan dapat ditransformasikan menjadi narasi ketabahan. Di sinilah ideologi bekerja: mengubah biaya menjadi makna.

Pukulan Iran juga diarahkan pada Israel dalam konteks konflik panjang Palestina sejak 1948.

Bagi pendukung poros perlawanan, tindakan tersebut dipandang sebagai upaya mematahkan asumsi bahwa penindasan selalu aman di balik perlindungan kekuatan besar. Dunia internasional pun kembali dipaksa menyaksikan kenyataan lama: konflik yang tidak pernah selesai akan selalu menemukan bentuk barunya.

Kontras terasa hingga ke negeri-negeri jauh seperti Indonesia. Sebagian umat membaca peristiwa ini sebagai cermin keberanian; sebagian lainnya melihatnya sebagai risiko eskalasi yang berbahaya.

Perdebatan ini menunjukkan satu hal: dunia Islam tidak monolitik. Ia terdiri dari spektrum pandangan yang luas, dari pragmatis hingga ideologis, dari realis hingga spiritualis.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement