Jumat 08 May 2026 07:27 WIB
Catatan Cak AT

Politik Mesias Digital

Amerika akhirnya seperti laboratorium besar tentang masa depan agama modern.

Politik Mesias Digital
Foto: Ahmadie Thaha
Politik Mesias Digital

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Donald Trump tampaknya memang tidak pernah puas hanya menjadi presiden. Menjadi kepala negara saja rasanya kurang gurih. Ia ingin menjadi semacam nabi politik, mesias algoritma, imam besar nasionalisme Amerika, lengkap dengan jubah putih, cahaya surgawi, dan burung elang.

Baca Juga

Ia tampil dengan latar bendera AS berkibar seperti spanduk diskon di pusat perbelanjaan kapitalisme. Kita pun melihat, dunia modern benar-benar telah sampai pada satu titik aneh: teknologi kecerdasan buatan bukan dipakai untuk mengatasi kemiskinan, tapi membuat seorang presiden tampak seperti Yesus Kristus versi CGI.

Maka muncullah gambar AI Trump dengan pose seorang pendeta penyembuh ilahi. Tangan diletakkan di kepala orang sakit. Cahaya memancar dari jemarinya. Elang Amerika terbang di belakangnya. Bendera berkibar seperti hendak mengiringi kedatangan wahyu baru dari Silicon Valley.

Kalau lukisan Renaissance dulu menggambarkan para santo dengan aura emas, maka era digital menggambarkan politisi dengan filter kecerdasan buatan dan mesin propaganda media sosial. Namun panggung religius-politik yang norak itu ternyata mendapat respons buruk dari bangsa Amerika. Bahkan sangat buruk.

Jajak pendapat yang diselenggarakan Washington Post–ABC News–Ipsos, Jumat pekan lalu, memperlihatkan sesuatu yang menarik: 87 persen rakyat Amerika bereaksi negatif terhadap gambar Trump ala Yesus itu. Bahkan 69 persen menyatakan sangat negatif.

Yang lebih menarik lagi, penolakan itu juga datang dari basis pendukung Trump sendiri. Delapan dari sepuluh pemilih Trump merasa gambar itu keterlaluan. Di titik inilah kita melihat bahwa rakyat Amerika, betapapun terkenal religius, ternyata masih memiliki batas psikologis terhadap eksploitasi simbol suci untuk narsisme politik.

Trump memang mencoba bermain di wilayah yang sangat tua dalam sejarah manusia: politik mesianistik. Dalam teori Max Weber, ada yang disebut “otoritas kharismatik”, yakni kekuasaan yang dibangun bukan semata hukum atau institusi, melainkan keyakinan massa bahwa seorang pemimpin memiliki kualitas luar biasa, bahkan nyaris transenden.

Hitler memakainya. Mussolini memakainya. Banyak penguasa modern memakainya. Bedanya, dahulu kultus dibangun lewat radio dan poster propaganda. Kini dibangun lewat meme, AI image, TikTok, dan Truth Social. Teknologi berubah, tetapi hasrat manusia untuk mencari “penyelamat” ternyata tetap awet seperti mi instan dalam gudang perang.

Trump memahami betul psikologi itu. Ia tahu sebagian rakyat Amerika sedang mengalami kecemasan sosial: ekonomi tak stabil, perang berkepanjangan, polarisasi budaya, migrasi, perubahan identitas gender, dan ketakutan kehilangan dominasi global Amerika. Dalam situasi seperti itu, politik sering berubah menjadi agama sipil. Presiden tidak lagi dipandang sebagai administrator negara, tetapi sebagai figur penyelamat peradaban.

Karena itu Trump bukan sekadar menjual kebijakan. Ia menjual rasa “dipilih Tuhan”. Kalimatnya tentang “God might be playing his Trump card” bukan sekadar candaan receh politik. Itu bahasa teologis. Itu permainan simbol yang sengaja menyentuh alam bawah sadar religius masyarakat Amerika. Seolah-olah Tuhan sendiri sedang memasang kartu truf dalam perang kosmik melawan “iblis”, “monster”, dan “kaum radikal”. Politik berubah menjadi kisah Armageddon Netflix.

Tetapi justru di sinilah menariknya bangsa Amerika. Mereka religius, tetapi tidak seluruhnya mau agamanya dijadikan bensin mesin politik.

Hasil survei menunjukkan mayoritas Katolik, Protestan, bahkan non-Kristen, sama-sama menolak unggahan Trump yang mengancam Iran dengan narasi kehancuran “satu peradaban akan mati malam ini”. Sebanyak 76 persen menolak.

Bahkan ketika Menteri Pertahanan Pete Hegseth berdoa agar pasukan AS menimpakan “kekerasan luar biasa tanpa belas kasihan”, 69 persen rakyat Amerika bereaksi negatif.

Bayangkan ironi ini. Negara yang selama puluhan tahun dicap dunia Islam sebagai mesin perang global justru rakyatnya sendiri mulai muak dengan retorika perang religius. Mereka tampaknya mulai sadar bahwa ketika Tuhan terlalu sering dipinjam politisi, biasanya yang datang bukan surga, melainkan kuburan massal.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement