Jumat 20 Feb 2026 09:32 WIB
Catatan Cak AT

Palu Emas Paman

Gaza bukan sekadar reruntuhan beton; ia cermin retak moralitas global.

Presiden AS Donald Trump (tengah) mengangkat palu saat pertemuan Dewan Perdamaian di Institut Perdamaian AS di Washington, AS, 19 Februari 2026.
Foto: EPA/ALESSANDRO DI MEO
Presiden AS Donald Trump (tengah) mengangkat palu saat pertemuan Dewan Perdamaian di Institut Perdamaian AS di Washington, AS, 19 Februari 2026.

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selamat datang di panggung megah bernama Board of Peace, sebuah hajatan internasional yang dijanjikan mampu mengubah Gaza yang hancur lebur menjadi Riviera Mediterania versi katalog properti.

Baca Juga

Di ruangan berlapis marmer dan lampu kristal yang berkilau seperti janji kampanye, para pemimpin dunia duduk rapi. Semuanya laki-laki, seolah urusan perang dan damai memang warisan turun-temurun kaum Adam.

Di tengah mereka duduk seorang lelaki tua dengan palu emas imajiner, seperti juru lelang di rumah barang antik, siap membuka sesi dengan berteriak: “Kemanusiaan… mulai dari sepuluh miliar dolar… siapa menawar lebih tinggi?”

Pertemuan itu hanya berlangsung 47 menit. Empat puluh tujuh menit: waktu yang bahkan belum cukup bagi warga Jakarta menembus satu lampu merah Sudirman saat jam pulang kantor.

Namun dalam durasi sesingkat itu, dunia seakan sepakat Gaza akan dibangun kembali. Pertanyaan yang menggelitik: dibangun dengan resep siapa, untuk kepentingan siapa, dan — yang paling sunyi — atas permintaan siapa?

Adegan pembuka berlangsung hangat bak resepsi pengantin baru. Donald Trump memuji Prabowo dengan gaya salesman properti yang baru menutup transaksi besar: Indonesia negara hebat, kepemimpinan Anda luar biasa.

Prabowo membalas dengan optimisme diplomatik: visi perdamaian sejati ini akan berhasil.

Saking cairnya suasana, orang hampir lupa mereka sedang membahas nasib jutaan manusia yang rumahnya rata dengan tanah. Percakapan itu terdengar seperti obrolan dua bapak komplek yang bertemu di pos ronda: santai, ramah, penuh pujian — bedanya, yang dibahas bukan ronda malam, melainkan reruntuhan sebuah wilayah.

Di balik senyum diplomatik itu terselip angka yang membuat alis dunia terangkat: Indonesia siap mengirim ribuan pasukan penjaga perdamaian. “Atau lebih jika diperlukan.”

Kalimat ini terdengar ringan, seolah menambah pasukan sama mudahnya menambah sambal di warung bakso. Padahal, setiap seragam yang dikirim berarti manusia nyata yang berdiri di antara konflik nyata.

Mari menoleh ke kursi-kursi di sekeliling meja. Banyak negara kecil hadir penuh semangat, sementara negara besar Eropa memilih status “pengamat”. Dalam bahasa pergaulan global, “pengamat” itu mirip warga yang berdiri di balik jendela saat tetangga ribut: ingin ikut campur tidak enak, pergi juga sayang.

Mereka menonton dengan tangan terlipat dan alis terangkat. Trump, dengan gaya khasnya, menyebut mereka sebenarnya ingin bergabung penuh, hanya “main cantik”. Terjemahan bebasnya: tidak setuju, tetapi juga tidak ingin ribut di grup WhatsApp internasional.

Lalu angka-angka mulai menari. Amerika Serikat menjanjikan 10 miliar dolar, negara-negara lain menambah sekitar 6,5 miliar. Fantastis, terdengar seperti angka jackpot lotre. Namun setelah huruf kecil dibaca, komitmen itu dibentang selama sepuluh tahun; yang benar-benar cair tahun ini hanya sebagian kecil.

Sementara estimasi kebutuhan rekonstruksi Gaza menurut lembaga internasional mencapai lebih dari 50 miliar dolar. Gambaran paling sederhana: seperti seseorang memesan rumah mewah di brosur, tetapi uang muka yang tersedia baru cukup untuk membeli pagar.

Ironinya, sementara angka-angka melayang di atas meja marmer berpendingin udara, realitas di lapangan tidak ikut pendingin. Kekerasan sporadis masih terjadi, serangan terus berlangsung, dan ketegangan tetap berdenyut. Kita sibuk membayangkan hotel-hotel masa depan, sementara masa kini masih berbau asap dan debu.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement