
Oleh : Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina
REPUBLIKA.CO.ID, Saya mengenal Jenderal Agus Widjojo sejak awal 1990-an ketika diajak Dipo Alam untuk merancang dan melaksanakan seminar Angkatan Darat kedua di Bandung. Saya baru menyelesaikan kuliah doktor dan pemikiran tentang ekonomi politik masih hangat di kepala.
Pertemuan yang berhari-hari dengannya memberi kesan bahwa Agus Widjojo merupakan jenderal intelektual yang fasih pemikiran politik dan militer dalam konteks perubahan jaman. Setelah itu saya sering bertemu hanya dalam seminar dan juga berkomunikasi lewat media sosial karena mempunyai group WA yang sama.
Kalangan intelektual sipil seperti saya dan banyak kawan-kawan yang lain nyaman bertukar pikiran dengan Agus Widjojo. Selain santun dan ramah, pemikirannya sangat bernas dan menjunjung pemikiran profesionalisme TNI dan sekaligus suppremasi sipil. Karena memang begitulah sejatinya masyarakat modern.
Agus Widjojo sering disebut “tentara intelektual atau perwira intelektual” karena posisinya yang khusus dan unik, yakni sebagai elite militer dan perwira tinggi TNI, tetapi sekaligus pemikir strategis yang konsisten mendorong demokratisasi. Pemikirannya tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil tidak lain untuk tujuan yang dipikirkannya, demokrasi modern dimana masyarakat Madani seimbang dalam trias politika, eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pemikirannya di bidang politik dan militer sangat berpengaruh terutama pada masa transisi Reformasi.
Agus Widjojo adalah salah satu arsitek intelektual yang menutup era Dwifungsi ABRI. Agus Widjojo berpandangan militer yang profesional, kuat dan paham peranan sejatinya sebagai benteng tanah air justru lahir dari demokrasi, bukan dari kekuasaan politik pragmatis di lapangan.
Keterlibatan militer dalam dalam kehidupan sosial politik praktis justru melemahkan profesionalisme TNI. Bagi Agus kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis. Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan “penjaga kekuasaan”, melainkan alat negara untuk pertahanan.
Di kalangan perwira senior banyak yang pemikiran dan wawasannya sangat luas dalam bidang sosial politik dan tepat disebut sosok perwira intelektual. Selain Agus Widjojo, kita kenal almarhum Jenderal Sajidiman Suryohadiprodjo, SBY, ZA Maulani dan Jenderal Prabowo sendiri. Kita kenal pemikiran SBY dan think tank yang didirikannya, yakni Brighten Institute dan sekarang The Yudhoyono Institute. Sementara Prabowo dan kawan-kawan (Din Syamsuddin, Fadli Zon, dkk) pernah mendirikan lembaga Think Tankl CPDS (Center for Policy and Development Studies). Namun di kalangan jenderal dan perwira sekarang kita sulit mengenali tentara intelektual seperti Agus widjojo dan kawan-kawan
Agus Widjojo sendiri termasuk golongan tentara intelektual, yang pemikirannya tumpah di lembaga strategi Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional). Di lembaga ini fungsi intelektual dan strategisnya terus berjalan menyebar ke kalangan elite pemimpin pemerintahan.
Lemhanas yang dipimpinnya adalah dapur pemikiran negara (state strategic thinking), yang membentuk cara pandang elit memahami dinamika sistem modern, civil societym, geoekonomi dan geopolitik. Pendek kata intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, yang belum tentu ada penggantinya.