Senin 02 Feb 2026 12:04 WIB

Dracin dan Nalar Sinetronik Rakyat Indonesia

Masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki karakter sinetronik.

Drama China kini sedang happening.
Foto: Tangkapan Layar
Drama China kini sedang happening.

Oleh : Dr. Muhammad E. Fuady, Dosen Fikom Unisba

REPUBLIKA.CO.ID, Fenomena drama China (dracin) sedang happening. Di beranda media sosial, hampir selalu muncul potongan adegan drama yang disertai narasi hiperbolik. Kisah yang disajikan selalu tentang seorang CEO (pemilik perusahaan) yang sedang menyamar. Alurnya sederhana, namun sengaja dibuat njelimet untuk mengaduk emosi penonton.

Bukan hanya masyarakat umum, dracin juga menjalar hingga ke ruang elite. Menteri Keuangan Purbaya pernah bercerita di waktu senggang ia turut menonton tayangan tersebut. Desta, sebagai figur hiburan yang dekat dengan selera publik, bahkan mengaku membeli paket dracin agar bisa menontonnya sampai tamat.

Dalam waktu relatif singkat, dracin pun bertransformasi dari sekadar “konten receh” menjadi konsumsi kolektif. Ia diproduksi massal, disebarkan luas, ditertawakan bersama, dan dinikmati sebagai pengalaman sosial.

Jika dibaca sebagai formula cerita, dracin nyaris selalu memiliki pola yang sama. Ia menjual konflik yang cepat, emosi yang meledak-ledak, dan mimpi yang memanjakan imajinasi. Tokoh miskin bertemu tokoh kaya. Yang lemah berhadapan dengan yang kuat. Yang ditindas ternyata figur superkaya dan digdaya. Ada luka, penghinaan, tangis, lalu tibalah kemenangan. Pola semacam ini tentu bukan hal baru. Dunia sinetron sudah lama mengajarkannya. Hanya saja, kini bungkusnya berbeda. Durasi lebih pendek, tempo lebih cepat, dan perangkat penyebarannya bukan lagi televisi, melainkan media sosial.

Itulah sebabnya dracin begitu mudah diterima. Masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki karakter sinetronik. Kita tumbuh dengan tayangan drama, konflik keluarga, tokoh antagonis yang berulang, serta plot twist yang kadang tak masuk akal tetapi tetap memancing rasa penasaran. Bahkan di warung, di rumah, dan di ruang tunggu, sinetron pernah menjadi bahasa bersama.

Karakter Bu Subangun (Keluarga Rahmat), Bu Renggo (Serumpun Bambu), Bu Maruto (Dokter Sartika), Bu Suwito (Rumah Masa Depan), Wati (ACI) adalah sebagian dari tokoh antagonis yang pernah ada di layar kaca. Maka ketika dracin hadir dengan rasa yang sama, namun lebih ringkas dan instan, publik pun merasa akrab.

Dalam konteks ini, dracin bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk aktual dari selera kolektif. Ia mengulang “rasa sinetron” yang selama ini telah tertanam, hanya dipindahkan ke platform baru.

Menariknya, pada saat yang sama, tayangan sinetron di televisi justru mulai ditinggalkan. Bukan semata karena masyarakat berhenti menyukai drama, melainkan karena pola konsumsi media yang berubah. Televisi dianggap kurang relevan, kurang menarik, dan tak lagi menjadi pusat perhatian. Publik kini hidup dalam logika scrolling. 

Konten yang menyita perhatian netizen bukan yang panjang dan memiliki waktu tunggu, melainkan cepat, menggigit, dan memicu emosi dalam hitungan detik. Dracin menjawab kebutuhan itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement