Sabtu 31 Jan 2026 14:07 WIB
Catatan Cak AT

Kentungan Oranye Anies

Politik bukan soal siapa paling suci, melainkan siapa paling jujur menyatakan tujuan.

Anies Rasyid Baswedan saat berpidato dalam Rapimnas Ormas Gerakan Rakyat di Jakarta Pusat, Ahad (13/7/2025).
Foto: Republika.co.id
Anies Rasyid Baswedan saat berpidato dalam Rapimnas Ormas Gerakan Rakyat di Jakarta Pusat, Ahad (13/7/2025).

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politik Indonesia memang tak pernah kekurangan drama. Kadang ia tampak seperti sinetron panjang: judulnya ganti, tokohnya sama, konfliknya berulang, dan penontonnya tetap setia meski sering mengeluh.

Baca Juga

Maka ketika Partai Gerakan Rakyat dideklarasikan pada pertengahan Januari 2026, publik langsung mafhum: ini bukan sekadar kelahiran partai, tapi kelahiran harapan. Dan tentu saja, kelahiran kalkulasi.

Bedanya dengan banyak partai baru lain yang malu-malu menyebut arah, Gerakan Rakyat justru tampil tanpa basa-basi. Sejak awal, sejak mikrofon deklarasi belum dingin, nama Anies Baswedan sudah disebut sebagai figur yang diharapkan menjadi presiden.

Disebut namanya terang-benderang sekarang. Bukan nanti, bukan menunggu kongres, bukan setelah survei. Langsung. Sekali ucap. Seperti orang jualan bakso yang sejak awal teriak: “Ini bakso urat, bukan pentol campur!”

Dalam logika politik elektoral, langkah semacam ini justru sangat rasional. Partai baru itu ibarat warung yang baru buka. Kalau di spanduknya hanya tertulis “menjual makanan”, orang akan lewat begitu saja. Menoleh saja tidak.

Tapi kalau tertulis “rawon legendaris”, meski belum tentu legendaris, orang minimal berhenti melirik. Begitulah. Nama calon presiden adalah etalase utama. Tanpanya, partai baru hanya jadi bangunan kosong dengan pintu terbuka.

Ilmu politik menyebut ini sebagai candidate-centered party strategy, strategi partai yang berpusat pada kandidat. Partai bukan dibangun dari ideologi yang tebal seperti kitab berjilid-jilid, melainkan dari figur yang sudah hidup dalam ingatan publik.

Di banyak negara, strategi ini lazim. Emmanuel Macron mendirikan La République En Marche! (LREM) dari gerakan sosial yang cair, lalu menjelma mesin elektoral yang efisien. Ia tampil sejak awal dengan satu pesan: ini kendaraan saya.

Ia tidak masuk partai lama, tapi mendirikan partai baru khusus untuk dirinya sendiri. En Marche! berarti: “Republik ini sedang bergerak — dan saya yang menggerakkannya.” Dan secara simbolik, huruf “EM” di En Marche! adalah inisial Emmanuel Macron.

Di Ukraina, Volodymyr Zelensky bahkan menjadikan nama partainya identik dengan serial yang melambungkan namanya. Sebelum jadi presiden, ia adalah aktor dan komedian yang sangat populer lewat sebuah serial TV berjudul Servant of the People.

Di Italia, Gerakan Lima Bintang (Movimento 5 Stelle) lahir dari aktivisme jalanan dan kekecewaan publik. Pendiri utamanya bahkan bukan politisi, melainkan Beppe Grillo, seorang komedian dan aktivis.

Partai mengikuti tokoh, bukan sebaliknya. Bedanya, di sana sistem memungkinkan partai baru langsung berlari. Di sini, partai baru harus lebih dulu melewati rimba administrasi yang panjangnya bisa mengalahkan sinetron kejar tayang.

Dalam konteks Indonesia, logika Partai Gerakan Rakyat justru lebih masuk akal lagi. Pemilih kita tidak memilih karena platform setebal disertasi, tapi karena wajah di baliho. Karena ingatan emosional. Karena rasa “pernah berharap”.

Maka menyebut Anies sejak awal bukanlah sikap tergesa, melainkan kesadaran penuh akan watak pemilih kita. Para penggagas Partai Gerakan Rakyat tampaknya paham betul satu hal sederhana: suara simpatisan Anies itu nyata, terukur, dan masih hangat.

Bayangkan, puluhan juta pemilih Anies pada Pemilihan Presiden 2024 bukan angka kecil yang bisa disimpan di museum demokrasi. Ia harus diberi rumah. Dan rumah itu, bagi partai baru, adalah modal paling mahal.

Di sinilah perbedaannya dengan banyak partai yang memilih strategi malu-malu tapi mau. Mereka ingin suara figur, tapi takut mengikat diri. Akibatnya, yang terdengar hanya kalimat diplomatis: “terbuka pada semua kemungkinan”. Dalam bahasa rakyat, itu artinya belum tahu mau jual apa.

Gerakan Rakyat mengambil jalan sebaliknya. Mereka tentu sadar belum tentu bisa mengantar Anies ke Istana pada 2029, karena banyak cerita serupa dialami partai lain, bahkan yang mapan sekalipun. Tapi itu bukan tujuan jangka pendek.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement