
Oleh : Smith Alhadar, Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serangan besar AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, ketika penyelesaian diplomatik antara Iran dan AS mengalami kemajuan substansial, menunjukkan kedua musuh besar Iran itu meremehkan kemampuan militer rezim mullah mempertahankan diri.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang fasis dan pemerintahan esktrem kanan Israel pimpinan PM Benjmain Netanyahu yang rasis hendak meruntuhkan rezim Iran, menguasai energinya, meminggirkan peran Rusia dan China di Iran, dan menjadikan Israel sebagai hegemon utama kawasan. Objektif ini gagal total. Bahkan menjadi bumerang.
Posisi internal dan eksternal rezim mullah Iran kian kuat dan makin keras menghadapi agresor. Pihak oposisi Iran yang pada akhir Desember hingga minggu kedua Januari 2026 memobilisasi demonstran dengan bantuan AS dan Israel kini berbalik badan. Keselamatan Iran menjadi prioritas ketimbang kepentingan sempit Reza Pahlavi yang bersekongkol dengan Trump dan Netanyahu. Di pihak lain, situasi politik domestik AS semakin tertekan. Di panggung regional dan global pun AS terisolasi. Dukungan dalam negeri publik Israel terhadap Netanyahu mulai goyah. Korban terbesar adalah Arab Teluk.
Iran bukan hanya menyerang pangkalan militer AS di monarki Teluk yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) – terdiri dari Oman, UEA, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Kuwait – bersama Irak dan Yordania, tapi juga infrastruktur sipil, terutama kilang-kilang minyak yang menjadi nadi kehidupan mereka. Penutupan Selat Hormuz, rute bagi tanker-tanker internasional yang mengangkut 20 persen kebutuhan energi dunia, menciptakan krisis pasar keuangan dan energi global. Ajakan Trump agar dunia bersatu untuk membuka Selat Hormuz tak digubris. Kini Iran penentu trayektori perang.
Kontroversi Tujuan Perang AS
Keengganan sekutu regional dan Barat membantu AS-Israel yang kewalahan menghadapi Iran disebabkan perang itu tak perlu (optional), bukan keharusan (necessity), yang dilakukan AS tanpa membicarakan dengan sekutunya. Apalagi, selain objektif perang tidak jelas, serangan itu melanggar Piagam PBB dan hukum serta norma internasional. Pada 10 Maret, anggota Kongres AS frustasi setelah pejabat Gedung Putih, dalam rapat tertutupnya, mengungkapkan dokumen rahasia tentang rasionale perang AS.
Dikatakan, perang itu tidak bertujuan menghancurkan program nuklir Iran. Padahal, narasi yang dikumandangkan AS-Israel sejak lama ini dijadikan alasan mengapa Iran harus diperangi. Memang preteks perang AS perang berubah-ubah. Kalau bukan isu program nuklir Iran, mengapa serangan AS-Israel pada Juni tahun lalu menyasar situs-situs nuklirnya?
Agresi dilancarkan diduga kuat atas desakan Netanyahu yang melihat Iran sebagai satu-satunya rintangan bagi pengukuhan Israel sebagai hegemon kawasan. Artinya, cita-cita Israel mewujudkan Israel Raya biblikal mustahil terwujud selama rezim Iran yang independen dan memiliki senjata-senjata strategis tetap eksis.
Dokumen rahasia AS itu juga menyatakan tujuan perang bukan untuk penggantian rezim di Iran. Lalu, mengapa pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, bersama para pemimpin teras militer serta tokoh-tokoh politik Iran, dijadikan sasaran pembunuhan? Jelas tindakan keji ini bermaksud mengkondisikan kaos di Iran yang memudahkan para kaki tangan AS-Israel di sana mengambil alih negara.
Sebagaimana demonstrasi besar di Iran yang dimulai pada 28 Desember, pascapembunuhan Khamenei, Trump dan Netanyahu mengorkestrasi rakyat Iran untuk menduduki lembaga-lembaga negara. Yang juga penting diperhatikan adalah desakan Trump bahwa AS harus ikut menentukan kepemimpinan baru di Iran. Mujtaba, putera almarhum Khamenei, tak akan diterima dan akan dijadikan sasaran pembunuhan berikutnya. Hujjatul Islam Mujtaba Khamenei – kini bergelar ayatullah -- dikenal lebih keras dari ayahnya dan dekat dengan Garda Revolusi Islam (IRGC). Dokumen itu dikatakan hanya bertujuan menghancurkan pabrik rudal, angkatan laut, dan situs-situs militer Iran.
Selain berisi banyak kontradiksi, dokumen itu tidak menyebut bagaimana perang akan dilakukan dan kapan akan diakhiri. Dalam pertemuannya di Brussels, 16 Maret, Uni Eropa menyatakan tak akan terlibat dalam perang karena mereka tak dijelaskan alasan, tujuan, dan tenggat perang. Apalagi selama perang, Trump berbohong terus-menerus tentang pencapaian perang. Misalnya, ia mengklaim Iran telah dilumpuhkan, aset militernya telah dibabat habis, AS telah menang. Tapi mengapa rudal dan drone Iran masih gencar menyasar Israel sekutu Arab dan Trump meminta China dan sekutu Barat membantu AS membuka Selat Hormuz?
Perang telah menewaskan 13 prajurit AS dan mencederai 150 lainnya. Kerusakan signifikan kilang minyak Arab Teluk dan penutupan Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga BBM yang menciptakan resesi global, termasuk di AS yang semakin menggerus daya beli rakyatnya sehingga perang semakin tidak populer di sana.
Sebelum perang pun dukungan rakyat AS terhadap perang hanya 25 persen. Bertentangan dengan klaimnya bahwa Iran telah menghubunginya untuk mengakhiri perang, Trump justru menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, untuk menjadi mediator gencatan senjata. Teheran telah dihubungi, tapi pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Mujtaba Khamenei bersikeras melanjutkan perang kecuali Trump memenuhi tuntutan Iran. Fakta bahwa Trump mencabut larangan Rusia mengekspor minyaknya semakin jauh mengecewakan UE.
Leverage Iran
Untuk meningkatkan bargaining chip-nya guna mengakhiri perang dengan Iran, AS dan Israel kini mengarahkan serangan ke infrastruktur sipil Iran, seperti depot minyak, rumah sakit, sekolah, bank Iran, dan terakhir infrastruktur ekspor 90 persen minyak Iran di Pulau Kharga – kesemuanya merupakan kejahatan perang setelah sebelumnya menyerang sekolah SD di Minab yang menewaskan lebih dari 170 murid perempuan. Hal ini lebih jauh menegaskan kepongahan mereka terhadap kapasitas militer, sejarah, dan budaya Iran.
Iran masih punya banyak stok senjata mematikan yang belum digunakan, negara ini merupakan satu di antara segelintir bangsa kuno yang belum pernah berhasil ditaklukkan kekuatan asing, dan budaya pemujaan mati syahid yang dicontohkan para Imam sucinya, terutama Imam ke-3 dari 12 Imam – yaitu, Husain bin Ali bin Abi Thalib yang juga merupakan cucu Nabi Muhammad – yang lebih memilih mati ketimbang menyerah pada kezaliman. Kendati sudah tahu ia menjadi sasaran pembunuhan, Khamenei menolak bersembunyi. Ia mengikuti jalan yang dipilih Imam Husain menghadapi balatentara Umayyah bersenjata lengkap di Karbala, Irak. Semangat berkorban nyawa inilah yang terlihat di Iran har-hari ini.
Di tengah pemboman Israel-AS, ratusan ribu rakyat Iran masih saja turun ke jalan mendukung rezim. Di panggung regional dan internasional, sekutu Arab dan Eropa mengambil posisi sendiri. Arab menganggap AS telah mengkhianati mereka. Suara mereka mencegah perang tak diindahkan dan ketika mereka jadi sasaran kemarahan Iran, AS membiarkannya. Bersatu melawan Iran justru akan menciptakan bahaya lebih besar. Di dalam negeri, publik Arab tahu Iran adalah korban kolonialisme-imperialisme Israel dan AS yang konsisten membela Palestina ketika penguasa mereka tak berdaya.
Lagi pula, ambruknya rezim mullah Iran akan menciptakan Timteng yang rentan. Israel akan merealisasikan proyek Zionisme, yang teritorinya mencakup sebagian Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon. Posisi UE juga serba salah. Saat mereka menjatuhkan sanksi berat atas Rusia menginvasi Ukraina, mengapa kini mereka harus membantu AS dan Israel yang melanggar hukum internasional? Apalagi Trump kini mencabut sanksi atas Rusia. Hal ini akan memperkuat posisi Putin yang oleh NATO dipandang mengancam keamanan Eropa. Israel sendiri pelaku genosida di Gaza. Sebagaimana Arab, UE juga khawatir setelah rezim Iran runtuh, Israel akan melanjutkan perang ke negara tetangga.
Bahkan, para elite Israel sudah mulai menyinggung Turki menjadi sasaran berikutnya. Dalam posisi kuat, Iran mengajukan syarat penghentian perang. Pertama, AS berjanji tidak lagi melancarkan perang pada waktu mendatang; kedua, tidak melawan Iran menjalankan program nuklirnya secara penuh; ketiga, mencabut semua sanksi; keempat, ganti rugi sekaligus mencairkan dana Iran puluhan miliar dollar AS yang dibekukan AS pasca jatuhnya Dinasti Pahlevi 1979; terakhir, Israel harus mundur dari wilayah pendudukan Palestina. Tuntutan Iran ini memang sulit dipenuhi musuhnya. Tapi AS=Israel tak punya cukup leverage untuk mengabaikannya.
Proksi Iran di Yaman, Houthi, siap meluncurkan rudal ke Israel, kilang minyak Arab, dan kapal kargo yang melintasi Laut Merah, bila Iran memintanya. Hashd al-Shaabi, proksi Iran lain di Irak, akan berfokus pada sasaran Israel dan infrastruktur sipil Arab. Leverage lain yang dimiliki Iran adalah dukungan Rusia dan China, serta kemampuannya menutup Selat Hormuz. Bila perang berkelanjutan, eskalasi krisis ekonomi dunia meningkat, posisi Partai Republik akan kalah telak dalam pemilu sela pada November mendatang. Dus, pemerintahan Trump akan lumpuh. Krisis akan meningkat cepat bila Iran menyerang bank-bank di Israel dan Arab Teluk yang terkait dengan AS.
Masa Depan Timteng
Harus diakui perang asimetris ini lebih menguntungkan Iran. Bila AS dan Israel meningkatkan serangan, terutama menargetkan infrastruktur sipilnya, Iran akan meratakan pangkalan militer AS, kilang minyak Arab, serta infrastruktur sipil lainnya yang berkaitan dengan AS, maka krisis ekonomi dunia akan bertransformasi menjadi krisis geopolitik global yang mengancam ketertiban dunia. Timteng kehilangan posisi strategis sebagai produsen energi dunia utama, Israel menghadapi kehancuran, dan ekonomi serta kredibilitas AS sebagai penjaga kedamaian dunia akan merosot tajam.
Bencana ini bersumber dari ambisi tak realistis Israel yang membutakan mereka dari banyak variabel Timteng, khususnya Iran, untuk dijadikan pertimbangan serius sebelum melancarkan serangan. Berikut, ego Trump dan orang-orang neokonservatif yang rasis tidak tahu sejarah dampak intervensi AS di banyak negara, terutama negara-negara Timteng, struktur kekuasaan rezim Iran, kegagalan memahami kekuatan oposisi dalam negeri dan kapasitas militer Iran, serta kerakusan terhadap energi Iran.
Kalau perang berakhir dengan kemenangan Iran, maka Teheran akan muncul sebagai hegemon di kawasan, Israel mengecil, dan Palestina merdeka. Rusia dan China akan mengisi kevakuman yang ditinggalkan AS. Alhasil, perang ini – apapun hasilnya – mudah-mudahan akan menciptakan Timteng baru yang stabil dan perdamaian berkelanjutan berbasis pada visi bersama yang beradab dan berkeadilan untuk tujuan kemakmuran bersama.
Masa lalu harus dijadikan pelajaran, masa depan harus dipersiapkan matang, dan hari ini adalah ruang kesadaran bahwa egoisme, kebiadaban, kerakusan, pertentangan ideologis, dan dominasi, adalah kekuatan yang menghanguskan kemanusiaan kita. Kadang perang perlu untuk menghancurkan kekuatan jahat seperti Nazi Jerman, tapi hari ini perang yang dilancarkan untuk menghilangkan martabat, independensi, dan kebebasan sebuah bangsa berpotensi melahirkan bencana terbesar pasca Perang Dunia II. Dunia hanya bisa diselamatkan bila dunia Bersatu melawan kekuatan jahat Trump-Netanyahu.
Tangsel, 17 Maret 2023