
Oleh : KH Hasyim Muzadi (1943-2017)*)
Hanya dalam hitungan jari, bulan yang disucikan oleh semua makhluk hidup, Ramadhan, akan segera meninggalkan kita. Ia bergerak alamiah sesuai perintah Allah. Datang dan pergi sebagaimana sudah dijadwalkan.
Ia tak pernah menolak bila sudah waktunya tiba mengunjungi umat Islam. Melalui bulan ini, Rasulullah SAW pernah berharap, agar ganjaran ibadah para pengikutnya dilipatgandakan. Harapan itu diijabah Allah SWT.
Setiap umat Islam yang mengeja selarik ayat di bulan penuh berkah, pahalanya sama dengan mengkhatamkan Alquran di bulan-bulan lain. Satu amalan saleh di bulan penuh ampunan akan digandakan pahalanya hingga 1.000 kali lipat. Semua ibadah, mahdah maupun ghairu mahdah, memperoleh tempat istimewa di bulan yang setiap kali datang, Rasulullah SAW dan para sahabatnya selalu menyambut dengan riang gembira.
Riang karena seakan mereka bertemu kekasih lama pergi dan kini datang kembali. Mereka yang benar-benar menjalin hubungan istimewa dengan Ramadhan, sebagaimana Nabi dan para sahabatnya, akan memiliki persiapan istimewa pula. Secara lahir dan batin. Persiapan itu dilakukan, biasanya sejak Rajab dan Sya’ban. Banyak kalangan di tengah umat ini, menyebut Rajab sebagai bulannya Allah dan Sya’ban bulan baginda Rasul.