Oleh: Syamsuddin Arif, Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan di Universitas Darussalam Gontor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Istilah "peradaban" dan "peradaban Islam" seringkali didengungkan. Menurut pemikir sosial politik Ibn Khaldun, ciri peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. Maka membangun peradaban Islam mesti dimulai dengan ilmu pengetahuan Islam.
Banyak orang menggunakan istilah "Peradaban Islam" tanpa menjelaskan apa maksudnya.
Pertama-tama, peradaban itu keseluruhan prestasi dan hasil karya suatu bangsa atau masyarakat yang hidup bersama dalam sebuah kota atau negara. Maka peradaban itu identik dengan ‘madinah’ atau ‘civitas’ dalam bahasa Latin yang mengisyaratkan adanya kesepakatan antar berbagai kelompok masyarakat untuk hidup bersama secara aman, damai, dan adil. Maka suku-suku bangsa nomad tidak pernah melahirkan peradaban. Begitu pula suku-suku barbarian yang asyik berperang satu sama lain.
Nah, prasyarat-prasyarat itulah yang dipenuhi oleh Rasulullah sesudah tinggal di Madinah. Mengikat tali kepentingan berbagai kelompok –Arab Khazraj dan Aws, kaum Muhajirin dan Anshar, puak-puak Yahudi, Kristen, dan Majusi– dengan sebuah perjanjian semacam ‘social contract’.
Baru setelah itu kita saksikan peradaban Islam perlahan-perlahan muncul ke permukaan dan menjulang megah di panggung sejarah manusia dengan seabreg prestasi politik, militer, ekonomi, saintifik, kultural, dan sebagainya, yang terpancar dalam karya-karya sastra, filsafat, sains, teknologi, arsitektur, seni rupa, dan banyak lagi.
Mendiang Professor Arberry pernah mengatakan, ketika menjawab pertanyaannya sendiri: “What is meant by the term Islamic civilization?” bahwa peradaban Islam itu lahir dari perjalanan yang sangat panjang dan kekuatan yang sangat dahsyat (the long processes and the massive forces), di mana bangsa-bangsa hebat yang aslinya bermacam-macam dan berbeda-beda telah diikat oleh satu visi, satu misi, satu tradisi, dan satu jalan hidup:
"A powerful group of nations held closely together in the common bonds of a shared tradition and way of life, despite passing domestic differences." Lihat bukunya, Aspects of Islamic Civilization as Depicted in the Original Texts, hlm. 9 (London: Routledge, 1964).
Definisi yang lebih tegas diberikan oleh Profesor al-Attas dalam bukunya, Historical Fact and Fiction (Johor Bahru: Universiti Teknologi Malaysia Press, 2011), hlm. xv: “I define Islamic civilization as a civilization that emerges among the diversity of cultures of Muslim peoples of the world as a result of the permeation of the basic elements of the religion of Islam which those peoples have caused to emerge from within themselves.”
“It is a living civilization whose pulse describes a process of Islamization, … in the sense of an unfolding of the theoretical and practical principles of Islam in the life of the people, in the sense of an actualization of the essentials and potentials of Islam in the realms of existence. … Islamic civilization is therefore a manifestation of unity in diversity as well as of diversity in unity.”