Oleh: Ahmad Labib Majdi, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
Hari Rabu, 04 Maret 2020, Cendekiawan Muslim yang juga Guru Besar bidang Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., M.A., M.Phil., CBE., mengadakan tasyakuran hari jadinya yang ke-65. Tasyakuran ini juga disertai oleh peluncuran delapan buku baru Azyumardi Azra.
Dalam kesempatan tersebut, sejumlah tokoh hadir, seperti dua orang wakil presiden beda periode, Drs. Muhammad Jusuf Kalla dan Prof. Dr. K. H. Ma’ruf Amin. Kemudian, ada Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, mantan menteri agama Lukman Hakim Saifuddin, serta beberapa kolega.
Delapan judul buku yang diluncurkan adalah Membebaskan Pendidikan Islam; Menjaga Indonesia dari Kebangsaan hingga Masa Depan Politik Islam; Fenomena Beragama dari Dunia Arab hingga Asia Pasifik; Moderasi Islam di Indonesia dari Ajaran, Ibadah, hingga Perilaku; Gerakan Pembebasan Islam; Politik Global tanpa Islam dari Timur Tengah hingga Eropa; Relevansi Islam Wasathiyah dari Melindungi Kampus hingga Mengaktualisasi Kesalehan; dan Indonesia Bertahan dari Mendirikan Negara hingga Merayakan Demokrasi.
Tasyakuran dan peluncuran buku ini diawali oleh acara pembukaan yang meliputi sambutan-sambutan dari Ma’ruf Amin dan Azyumardi Azra. Setelah acara pembukaan, acara tasyakuran ini dilanjutkan oleh kegiatan diskusi yang dipandu Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte, dengan tema “Politik Global dengan Islam Wasathiyah Mencegah Ekstremisme dan Terorisme.”
Para pembicara yang turut hadir berdiskusi adalah Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti, mantan menteri agama Lukman Hakim Saifuddin, pimpinan Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Richard M Daulay, pendiri SMRC Saiful Mujani, serta mantan kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif. Dalam kegiatan diskusi ini, para pembicara tidak hanya memberikan pandangan terkait dengan tema, tetapi juga memberikan pandangan tentang sosok Azyumardi Azra.
Pembicara pertama, Abdul Mu’ti, memandang Indonesia memiliki potensi untuk globalisasi Islam wasathiyah disebabkan beberapa alasan, di antaranya demografi Muslim terbesar/terbanyak; ketaatan atau kepatuhan tinggi; serta tradisi ilmu keislaman dan keberagamaan yang kuat.
Sementara itu, Lukman Hakim memberikan pendapatnya tentang sosok Azyumardi Azra. Menurut Lukman, Azra adalah peletak dasar penerapan nilai-nilai Islam Indonesia secara akademis; perintis transformasi IAIN menjadi UIN yang berdampak luar biasa; seorang akademisi tulen yang konsisten dengan latar belakang keilmuan sejarah; serta seorang senior yang membuka jalan bagi dosen-dosen muda untuk studi di luar negeri.
Di samping itu, Richard Daulay menyatakan, Indonesia harus lebih proaktif untuk mempromosikan bukan hanya Islam wasathiyah melainkan juga nilai-nilai wasathiyah dari agama-agama lain sebagai upaya kerukunan antarumat beragama.
Mantan kepala BPIP, Yudi Latif, menyinggung soal Pancasila sebagai sebuah penyulingan dari etika agama dan prinsip sekularisme yang dapat dikembangkan secara voluntary. Karena itu, interpretasi dan sosialisasi Pancasila tidak harus oleh negara saja, tetapi juga perlu ada andil dari komunitas (intelektual) untuk melakukan check and balance. Bagi Yudi, Azra, sebagai sosok Muslim taat yang tercerahkan, berhasil dalam hal tersebut.
Pandangan tentang Islam wasathiyah yang cukup berlainan datang dari Saiful Mujani. Dengan mengutip berbagai hasil riset tentang kekerasan dan terorisme, Saiful memandang bahwa sejatinya pascareformasi, Islam Indonesia telah memberikan suatu optimisme yang cukup. Namun, dalam 10 tahun terakhir, visi politik Indonesia secara umum tampak merosot yang ditandai oleh hanya melihat aspek ekonomi atau infrastruktur.
Hal ini diperparah juga dengan preferensi elite politik yang tampak tidak mendukung perkembangan Islam wasathiyah. Karena itu, bagi Saiful, Islam wasathiyah hanya dapat berkembang jika demokrasi semakin terkonsolidasi dan stabil.