
Oleh: Buya Anwar Abbas*)
Keadaan ekonomi Venezuela dalam beberapa tahun terakhir memang sangat memprihatinkan. Inflasi tinggi sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Apalagi, gaji para pekerja setempat juga sangat rendah. Banyak rakyat di sana tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar mereka sehari-hari.
Produksi minyak Venezuela juga menurun drastis. Banyak pula perusahaan setempat tutup dan memberhentikan karyawannya. Alhasil, tidak sedikit warga negara Venezuela melakukan migrasi dan mencari kehidupan lebih baik di luar negeri.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah, imbas dari sanksi ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap negara tersebut.
AS menjatuhkan sanksi kepada Venezuela dengan beberapa alasan. Di antaranya adalah bahwa Venezuela memiliki hubungan yang "terlalu dekat" dengan Rusia, Kuba, dan Iran. Ketiga negara ini kerap diklaim sebagai musuh Amerika.
Kedekatan demikian tentu saja membuat AS khawatir karena bisa mengancam kepentingan Washington. Kemudian, AS juga tidak setuju dengan kebijakan nasionalisasi yang dilakukan oleh pemerintahan Hugo Chavez pada tahun 2007 terhadap industri minyak setempat. Chavez melakukan nasionalisasi sehingga perusahaan-perusahaan asing yang ada di negara tersebut, seperti ExxonMobil, Chevron dan Total, menjadi perusahaan patungan.
Hal demikian jelas mendapat reaksi keras dari perusahaan-perusahaan minyak asing dan negara-negara Barat, termasuk AS. Nasionalisasi jelas mengganggu perekonomian Barat. Sebab dengan begitu, mereka tentu akan kehilangan akses ke sumber daya alam yang sangat berharga: minyak bumi.
View this post on Instagram
Kemarahan AS ternyata tidak berhenti dengan kematian Hugo Chaves. Sebab, Maduro sebagai pengganti juga melanjutkan kebijakan yang telah dibuat oleh sang mendiang.
Supaya mendapatkan legitimasi dari dunia internasional, AS menuduh pemerintahan Venezuela telah melakukan korupsi dan.penyalahgunaan kekuasaan. Maduro juga dituding melakukan kecurangan pemilu, tidak menghormati hak asasi manusia (HAM), dan lain-lain tuduhan, termasuk mendukung perdagangan narkotika.
Berdasarkan tuduhan-tuduhan tersebut, Washington menjatuhkan sanksi kepada Venezuela dengan tujuan untuk menekan pemerintahan Maduro. Bahwa Maduro didorong melakukan reformasi demokrasi, menghormati HAM, dan menghentikan korupsi, itu hanyalah alasan dan tameng belaka. Sebab, sejatinya AS menginginkan pemerintah Venezuela tunduk dan patuh seutuhnya kepada arahan Washington. Dengan Venezuela patuh, AS bisa meraup keuntungan yang sebesar-besarnya terutama dari minyak dan sumber daya alam lainnya yang melimpah yang dimiliki negeri Amerika Latin tersebut.
*) Dr H Anwar Abbas MM MAg atau yang akrab disapa Buya Anwar Abbas merupakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Dosen tetap Prodi Perbankan Syariah FEB UIN Syarif Hidayatullah ini juga adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang UMKM, Pemberdayaan Masyarakat, dan Lingkungan Hidup.