
Oleh : Rahmad Budi Harto
REPUBLIKA.CO.ID -- Amerika Serikat mengejutkan dunia dengan melancarkan operasi militer besar-besaran di Venezuela untuk mengawali 2026. Bersandi Operation Absolute Resolve, pasukan khusus AS berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka keluar dari negara itu untuk menghadapi dakwaan terkait narkoba dan kepemilikan senjata di AS.
Operasi berlangsung dalam waktu tiga jam tanpa perlawanan berarti, sesuatu yang nyaris mustahil dicapai tanpa adanya bantuan dari unsur militer Venezuela sendiri.
Di tengah kecaman dari Rusia, China, dan sejumlah negara lain, serta desakan Indonesia agar semua pihak menahan diri, apa yang terjadi pada Sabtu dini hari, 3 Januari, tanpa eskalasi konflik bersenjata, mungkin merupakan skenario terbaik yang bisa didapatkan oleh rakyat Venezuela dan dunia. Hingga artikel ini disusun, Pemerintahan Bolivarian di Venezuela masih utuh, dengan Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengambil alih peran Maduro.
Skenario lain yang melibatkan jatuhnya pemerintahan akan membawa bencana bagi rakyat Venezuela, dengan risiko terburuk pecahnya perang sipil. Rusia dan China, yang merupakan sekutu dekat Venezuela, sangat dimaklumi tidak bisa berbuat banyak ketika AS melakukan blokade sejak Agustus 2025 lalu. Selain faktor jarak geografis, Amerika Latin secara tradisional memang merupakan halaman belakang geopolitik AS.
Hal paling menarik, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa salah satu tujuan utama operasi ini adalah membuka akses ke cadangan minyak Venezuela. Trump menyebut perusahaan minyak AS akan berinvestasi miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur migas Venezuela.
Meski narasi resmi awal dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth menekankan isu narkoba, Trump blak-blakan mengakui bahwa minyak adalah motif utama. Di era transisi energi dari fosil, pertanyaannya: mengapa penguasaan cadangan minyak masih begitu krusial bagi hegemoni geopolitik AS?
Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel—lebih dari enam kali lipat cadangan minyak AS yang berkisar antara 45 hingga 70 miliar barel. Meski demikian, produksi saat ini hanya sekitar 600 ribu barel per hari—jauh di bawah puncaknya yang mencapai 3 juta barel per hari pada akhir 1990-an karena rusaknya infrastruktur migas yang terlalu lama diabaikan.
AS memang merupakan produsen minyak terbesar dunia, dengan produksi sekitar 13,5 juta barel per hari, melampaui Rusia dan Arab Saudi yang masing-masing berada di kisaran 10,5 juta barel per hari. Namun, konsumsi domestik AS yang sangat tinggi membuatnya masih harus mengimpor 6-7 juta barel minyak per hari, sekitar 60 persennya dipasok oleh Kanada.
Pertama, bila suatu saat Venezuela kembali sepenuhnya terintegrasi ke pasar global yang dipimpin Barat, maka gabungan cadangan minyak AS dan Venezuela akan menciptakan ketahanan energi raksasa yang menjamin keamanan pasokan minyak sampai 40-50 tahun ke depan.
Namun, ini bukan sekadar soal pasokan, tetapi soal kendali. Siapa menguasai minyak, dia menguasai tempo ekonomi global yang masih ditenagai minyak ini.
Tentu, semua ini dengan asumsi bahwa kesepakatan dengan pemerintahan Venezuela memang telah tercapai. Artinya, kecaman Wakil Presiden Delcy Rodriguez terhadap serangan militer AS lebih ditujukan untuk konsumsi politik internal kalangan Chavistas, pendukung mendiang Presiden Hugo Chavez.
Selain itu, butuh waktu untuk membawa keluar lebih banyak minyak Venezuela ke pasar global. Energy Policy Research Foundation dalam kajiannya pada 2021 memperkirakan butuh tambahan investasi 40-60 miliar dolar AS untuk memulihkan produksi minyak Venezuela ke kapasitas penuh dalam kurun 4-5 tahun.
Kedua—yang lebih fundamental—tambahan pasokan minyak Venezuela sangat penting untuk menjaga sistem petrodolar.
AS memproduksi minyak ringan (light sweet crude) secara berlebih (sekitar 60-70% dari total produksi), terutama dari proses fracking lapisan batuan shale. Namun kilang-kilang raksasa di Gulf Coast, di pesisir Texas dan Louisiana, justru dirancang secara spesifik untuk mengolah tipe minyak berat (heavy sour oil) terutama sand oil dari Kanada dan juga minyak seperti yang dimiliki Venezuela. Integrasi kembali minyak Venezuela ke pasar global akan memungkinkan AS mengolah minyak berat tersebut secara domestik sembari mengekspor minyak yang produksi sendiri dengan harga premium.
Di balik urusan teknis kilang, strategi Trump ini akan memastikan transaksi energi global tetap menggunakan dolar AS, yang menjadi pilar penopang kekuatan mata uang tersebut di tengah status AS sebagai declining power dan menguatnya pengaruh China melalui BRICS. Selama dolar tetap menjadi alat pembayaran utama dalam perdagangan minyak—komoditas paling bernilai di dunia—AS dapat terus mempertahankan pengaruh ekonominya meskipun terbebani utang yang menumpuk. Status adidaya AS sangat bergantung pada kepercayaan dunia terhadap dolar. Dengan menguasai aliran minyak dunia, Washington memastikan dolar tetap menjadi mata uang cadangan devisa yang tak tergantikan
Dolar adalah mata uang fiat sejati. Dunia menggunakan dolar, termasuk sebagai cadangan devisa, karena percaya pada kekuatan ekonomi dan militer AS, yang memungkinkan Washington memaksakan skema yang diinginkannya ke berbagai negara. Selama kepercayaan ini bertahan, AS masih dapat mempertahankan pengaruhnya atas perekonomian global, meski utangnya terus menumpuk dan defisit melebar. AS dapat mencetak dolar ‘sesukanya’ melalui penerbitan surat utang US Treasury atau kebijakan quantitative easing.
Ketiga, posisi AS yang semakin kokoh sebagai produsen sekaligus konsumen minyak terbesar dunia memberi kekuatan tambahan untuk memengaruhi harga minyak. Trump membutuhkan minyak murah untuk menggerakkan mesin perekonomian AS lebih kencang, termasuk memulihkan industri manufakturnya.
Keempat, meski terbatas, langkah ini juga bertujuan menekan rival geopolitik AS. Selama ini, China telah menjadi pembeli utama bagi 70-80 persen produksi minyak Venezuela yang terkena sanksi. Dengan intervensi ini, AS berpotensi mengganggu pasokan tersebut dan memaksa Beijing mencari sumber energi lain. Di sisi lain, banjirnya pasokan minyak Venezuela di masa depan—diperkirakan bisa mencapai 2,5 juta barel—akan menekan harga minyak dunia ke level rendah, sebuah strategi yang dibutuhkan Trump untuk memulihkan industri manufaktur AS sekaligus menekan pendapatan negara-negara OPEC, terutama Rusia dan Arab Saudi yang sangat bergantung pada harga minyak tinggi.
Apa yang kita saksikan hari ini adalah upaya Washington mempertahankan hegemoninya sekaligus menjaga relevansinya di dunia yang semakin multipolar. Sebagai dampaknya, warga dunia akan menikmati harga minyak yang akan tetap murah—setelah setahun ini tertekan ke level 50 dolar AS per barel dari 70 dolar AS—atau bahkan semakin murah bila pasokan minyak Venezuela ke pasar bisa pulih mendekati era puncaknya.
Perkembangan di Venezuela kemungkinan akan mendorong Rusia dan China menjalin kerja sama strategis yang lebih erat, terutama dalam pasokan energi. Iran, yang sedang diguncang aksi demonstrasi domestik dan masih dibelit sanksi yang tak kunjung dicabut, juga akan mengkalibrasi ulang posisinya dalam geopolitik global. Bisa jadi Teheran semakin merapat ke Moskow dan Beijing, serta melupakan peluang untuk kembali berdamai dengan Barat sebagai jalan memulihkan perekonomiannya.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Sebetulnya, kita tidak perlu melakukan manuver berlebihan. Indonesia tidak berada dalam posisi Venezuela, Iran, atau Rusia. Selama tetap berada di jalur demokrasi dan menjaga pluralitas kekuasaan di dalam negeri, Indonesia relatif aman dari skenario ekstrem geopolitik. Secara posisi, Indonesia juga masih berada di jalur yang tepat dengan bermain dua kaki di antara pengaruh AS dan China di kawasan.
Ini bukan soal oportunisme, melainkan strategi bertahan hidup. Demokrasi, dengan segala kekurangannya, mencegah kekuasaan menjadi monolitik dan menyediakan ruang koreksi internal sebelum kebijakan meluncur terlalu jauh.
Memperkuat pertahanan nasional secara besar-besaran agar tidak mengalami nasib seperti Venezuela juga bukanlah langkah yang realistis. Mau sekuat apa militer Indonesia untuk benar-benar mampu menangkal kekuatan Armada Ketujuh AS?
Geopolitik tidak dimenangkan oleh otot semata, melainkan oleh posisi geografis, persepsi global, dan pilihan kebijakan yang tepat untuk menavigasi dunia yang semakin multipolar ini.
*) penulis saat ini bekerja sebagai lead consultant di firma konsultan public affairs Kiroyan Partners. Opini merupakan pendapat pribadi, tidak mewakili institusi.