
Oleh : Syafrimen, Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Raden Intan Lampung
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed), bahwa 60 persen profesional bekerja tidak linier dengan latar belakang akademiknya, sekaligus menegaskan bahwa soft skill adalah kompetensi yang menentukan masa depan, sejatinya bukan sekadar angka statistik. Pernyataan ini merupakan cermin jujur wajah pendidikan kita, sekaligus alarm peringatan bahwa paradigma lama tentang pendidikan perlu dilihat kembali secara serius.
Puluhan tahun, sistem pendidikan di Indonesia mulai dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi dibangun di atas asumsi bahwa akademik akan menentukan karier masa depan. Anak diarahkan memilih jurusan sejak dini, seolah-olah masa depan adalah garis lurus yang bisa dipetakan melalui rapor dan ijazah. Namun realitas sosial dan dunia kerja hari ini membantah anggapan itu. Dunia berubah sangat cepat untuk dikurung dalam linearitas kurikulum.
Pendidikan dan Ilusi Linearitas
Dalam perspektif psikologi pendidikan dan psikologi karier, apa yang disampaikan Mendikdasmen justru selaras dengan perkembangan ilmu. Teori Career Construction menegaskan bahwa karier bukanlah hasil langsung dari jurusan akademik, melainkan proses panjang konstruksi diri, hasil interaksi antara nilai, pengalaman, kepribadian, dan kemampuan adaptasi individu dengan perubahan yang sangat cepat.
Dengan kata lain, bekerja tidak linier dengan latar akademik bukanlah kegagalan pendidikan, melainkan konsekuensi logis dari perkembangan dunia yang sangat dinamis. Persoalannya bukan pada ketidaklinieran, melainkan pada sistem pendidikan kita, apakah sistem pendidikan kita telah membekali peserta didik dengan kapasitas untuk beradaptasi, belajar ulang, dan bertumbuh secara berkelanjutan.
Di sinilah soft skill menemukan relevansinya. Ketekunan, daya juang, kemampuan komunikasi, empati, kerja sama, berpikir kritis, dan ketahanan mental bukanlah pelengkap. Namun ia adalah inti dari keberlanjutan masa depan dan kehidupan seseorang.
Psikologi perkembangan telah lama menegaskan bahwa keberhasilan seseorang dalam hidup tidak semata ditentukan oleh kecerdasan intelektual. Albert Bandura menyebut self-efficacy atau keyakinan seseorang terhadap kemampuannya merupakan prediktor kuat keberhasilan. Erik Erikson menekankan pentingnya pembentukan identitas dan kompetensi sosial sejak usia dini.
Praktik pendidikan kita masih belum move on, masih memaknai keberhasilan sebagai angka, peringkat, dan skor ujian. Anak-anak yang patuh, diam, dan mampu menghafal sering dipuji, sementara mereka yang kritis dan banyak bertanya kerap dianggap “mengganggu”. Kita lupa bahwa hidup tidak pernah menanyakan nilai ujian, tetapi menuntut keberanian mengambil keputusan, kemampuan bekerja sama, dan ketangguhan dalam menghadapi kegagalan. Pernyataan Mendikdasmen bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang perlu digarisbawahi. Pendidikan sejati tidak selalu langsung terlihat hasilnya. Ia bekerja secara sunyi, membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara seseorang memaknai hidupnya.
Cermin Pendidikan Dasar dan Menengah
Pada pendidikan dasar, anak-anak sedang berada pada fase emas pembentukan karakter dan cara berpikir. Namun pembelajaran sering kali terlalu dini membebani mereka dengan target akademik yang sempit. Ruang bermain, berdialog, bereksplorasi, dan belajar dari kesalahan semakin menyempit. Di pendidikan menengah, tekanan makin meningkat. Siswa dikejar nilai, ranking, dan kelulusan, sementara kemampuan refleksi diri, kolaborasi, dan problem solving justru kurang terasah.
Dunia kerja hari ini tidak mencari manusia sempurna secara akademik, melainkan manusia yang mampu belajar, beradaptasi, dan bekerja dengan orang lain yang berbeda. Revitalisasi SMK yang menekankan etos kerja, karakter, dan soft skill bisa dilihat sebagai langkah relevan untuk saat ini. Semangat ini seharusnya tidak berhenti hanya pada level SMK saja. SMA dan madrasah pun membutuhkan pendekatan yang sama, pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan manusiawi.
Pendidikan Tinggi dan Krisis Relevansi
Perguruan tinggi menghadapi tantangan yang tidak kalah besar. Banyak lulusan cerdas secara akademik, tetapi gamang menghadapi dunia kerja. Mereka pandai menjawab soal, namun kurang terlatih memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata. Inilah yang disebut dengan mismatch dunia pendidikan dan dunia kerja.
Fakta bahwa mayoritas profesional bekerja di luar bidang akademiknya harus menjadi ruang refleksi secara mendalam bagi perguruan tinggi saat ini, sekaligus mendorong dirinya untuk berbenah secara serius. Pendidikan tinggi tidak hanya sekedar menjadi pabrik ijazah, tetapi harus betul-betul menjadi ruang pembentukan pemikir yang adaptif, pembelajar sepanjang hayat, dan warga negara yang berkarakter tinggi yang bisa menjadi contoh dan teladan di tengah-tengah masyarakat. Pembelajaran berbasis proyek, pengalaman lapangan, kolaborasi lintas disiplin, dan penguatan nilai etika serta kemanusiaan harus menjadi arus utama, bukan sekadar program tambahan di perguruan tinggi.
Menegaskan pentingnya soft skill bukan berarti menafikan hard skill. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipadukan secara seimbang. Hard skill memberi fondasi keilmuan, sementara soft skill memastikan pengetahuan itu hidup dan bermakna dalam praktik kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat.
Penting dikritisi adalah cara kita mengajarkan hard skill, apakah ia membebaskan pikiran atau justru memenjarakannya dalam hafalan. Pendidikan yang baik bukan yang membuat seseorang tahu banyak, tetapi yang membuatnya mampu belajar hal baru ketika pengetahuanya tidak lagi relevan.
Arah Baru Pendidikan Indonesia
Pernyataan Mendikdasmen seharusnya menjadi titik tolak perubahan paradigma, dari pendidikan yang berorientasi hasil jangka pendek menuju pendidikan yang memanusiakan manusia. Pendidikan yang tidak hanya menyiapkan “tenaga kerja”, tetapi warga bangsa yang berdaya, berkarakter, dan berkeadaban.
Guru dan dosen memegang peran kunci. Mereka bukan sekadar penyampai materi, tetapi arsitek pengalaman belajar. Kurikulum harus memberi ruang bagi dialog, refleksi, kegagalan, dan pertumbuhan. Asesmen pun perlu bergeser dari sekadar mengukur ingatan menuju menilai proses, usaha, dan kematangan berpikir.
Di tengah perubahan dunia yang sangat cepat dan tak menentu, pendidikan tidak lagi cukup menjanjikan kepastian karier yang linier, yang bisa dijanjikan pendidikan adalah ketangguhan manusia, kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan terus belajar. Ketika Mendikdasmen menegaskan bahwa soft skill adalah hal yang sangat terpenting, sesungguhnya yang sedang diperjuangkan adalah masa depan manusia Indonesia, bukan sekadar masa depan pekerjaan individu. Pendidikan yang baik bukan memastikan anak menjadi apa, tetapi memastikan mereka siap menghadapi berbagai kemungkinan pada masa yang akan datang. Di situlah, pendidikan menemukan substansi terdalamnya.