Rabu 23 May 2018 01:00 WIB

Takfiriyah, Eksklusivisme Beragama, dan Hulu Teroris (1)

Paham takfiryah diduga dibiayai asing dengan jumlah besar untuk merusak Indonesia.

Polisi berjaga saat pemindahan jenazah terduga pelaku teror dari ruang pendingin ke ambulans di RS Bhayangkara, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (18/5). Sebanyak tiga jenazah terduga teroris pada ledakan bom di rusunawa Wonocolo Sidoarjo tersebut dipindahkan dan rencananya akan dimakamkan di sebuah pemakaman di Sidoarjo.
Foto: Antara
Polisi berjaga saat pemindahan jenazah terduga pelaku teror dari ruang pendingin ke ambulans di RS Bhayangkara, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (18/5). Sebanyak tiga jenazah terduga teroris pada ledakan bom di rusunawa Wonocolo Sidoarjo tersebut dipindahkan dan rencananya akan dimakamkan di sebuah pemakaman di Sidoarjo.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rudi Agung, Pemerhati Masalah Sosial

 

Bersama dua kerabat, suatu malam kami ngobrol bersama. Mereka adalah Kahar, seorang konsultan keuangan. Satu lagi, Syahrul, namanya. Berprofesi sebagai dosen di universitas negeri di Indonesia. 

Kala itu, Syahrul terlihat menyimpan kemuraman. Gurat wajahnya berbeda. Tak seceria seperti biasanya. Tak seramai sebagaimana karakternya. Lalu, ia berkisah. "Kacau. Kacau..."

Kami bengong. Apanya yang kacau? Syahrul pun membuka suara hatinya. "Kakakku mengkafir-kafirkan orangtuaku. Marah aku, kesal. Sampai nangis-nangis orangtuaku," ujarnya dengan logat khas Sulawesi. 

Belakangan, ternyata sang kakak baru bergabung dengan salah satu pengajian. "Aliran apa itu? Bahaya sekali. Memang siapa yang melahirkan, menyusui, merawat, membiayai hidupnya kalau bukan orangtua."

Ia meluapkan isi hatinya dengan nada meledak-ledak. Sesekali pengunjung sebelah menengok ke meja kami. Syahrul masih melepaskan kekesalannya. 

Kami hanya mendengarkan, kaget juga dengan ulah kakaknya. Kok ada pengajian begitu. Syahrul bilang, awalnya orangtua dibidahkan, lalu disesatkan. 

Orangtuanya diajak ikut aliran sang kakak. Diajak berkali-kali tak mau, lantas dikafirkan. Meledaklah tangis sang orangtua. Kemudian mengabarkan berita itu padanya. Syahrul tak terima orangtuanya disakiti. Ia ingin segera pulang kampung menyambangi kakaknya. 

Kami hanya bisa mengingatkan agar jangan sampai pertalian darah putus. Meski sang kakak sudah kelewat kurang ajar. Merasa paling benar, lalu enteng menuding amaliah Muslim dengan bidah, sesat, kafir. Bahkan pada orangtuanya sendiri. Naudzubillah tsumma naudzubillah. 

Bersama membendung paham takfiri

Belakangan, kisah serupa makin nyaring di lapangan. Ada pula buku-buku baru yang melontarkan vonis menyesatkan dengan serampangan. Bahkan, menuduh sesat umat Muslim dan ulama Ahluh Sunnah wal Jamaah yang mengikuti Imam Asy’ari atau Asy’ariyah dan Imam Maturidi atau Maturidiyah. 

Aqidah yang diikuti mayoritas umat Muslim dunia zaman ke zaman, termasuk di Indonesia yang bermadzhab Syafii. Dengan kata lain, tudingan itu begitu keji telah menyesatkan ratusan juta kaum Muslimin. 

Habib Rizieq Sihab pun sudah lama membantah tegas buku yang penuh tudingan sesat menyesatkan itu. Habib berupaya melindungi umat dengan menangkal dan meluruskan paham-paham takfiri yang enteng sekali mensesatkan Ulama-ulama bahkan mengkafirkan orangtua Rasulullah. Naudzubillah.

Tetapi, buku-buku dan kelompok tersebut masih dibiarkan. Masih saja melancarkan propagandanya. Padahal, telah mengancam ukhuwah umat. Menciptakan perpecahan yang mengkhawatirkan. Buku-buku "keras" ala takfiri juga amat mengerikan isinya. 

Semisal yang menukil fatwa-fatwa Ad Durar. Petikannya, "Para Imam dakwah Nejd berkata: di antara hal yang pelakunya diperangi adalah sikap tidak mengkafirkan pelaku-pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka karena sesungguhnya hal itu termasuk penggugur keIslaman. Siapa yang memiliki sifat ini, maka dia telah kafir, halal darah dan hartanya serta wajib diperangi sehingga dia mengkafirkan para pelaku syirik. (Ad Durar, As Saniyyah: 9/921). 

Kutipan itu ada dalam buku seri materi yang (berjubah) Tauhid, tapi kerap dihiasai kecaman-kecaman keras ala takfiri. Entah Tauhid dari mana. Amat berbahaya jika dikonsumsi mentah-mentah. 

Faktanya, sesama kelompok takfiri sendiri pun berpecah belah. Saling mentahdzir, sembari mengklaim kelompoknya yang terbaik. Pemahaman mereka cenderung berbeda dari umat Muslim mayoritas. 

Meski ada yang menganggap pemerintah sebagai ulil amri, mengharamkan aksi demo, tapi menghalalkan darah pendemo. Ada pula yang lebih keras dengan menganggap pemerintah dan segala perangkatnya sebagai thagut. Kebanyakan cenderung beragama dengan kaku, saklek, dan memahami dalil secara letter leijk, dzahir, tanpa takwil tak terkecuali ayat-ayat mutasyabihat. 

Di sosial media lebih mengerikan lagi. Tak tanggung-tanggung, bahkan orangtua Rasulullah yang dikafirkan. Masya Allah, keji sekali. Hanya mengutip seemprit dalil tanpa melihat dalil-dalil Qathi', dengan entengnya Ayah Bunda Sang Kekasih Allah dikafirkan, bahkan divonis neraka. Naudzubillah. Lucu sekali produk akhir zaman tetapi merasa melebihi para Imam Madhzhab. 

Imam Al Bajuri, dalam Kitabnya Kifayatul Awam, laman 25, mengingatkan: "Telah ditanya Qadhi Abu Bakar bin Ara'bi, Ulama Imam Madzhab Maliki, ihwal seorang pria yang berkata orangtua Nabi di neraka. Beliau pun menjawab tegas: orang itu telah dilaknat Allah."

Rabbul Izzati juga berfirman dalam Qs. Al Ahdzab ayat 57: Siapa yang menyakiti Allah dan Rasul Nya, niscaya Allah akan melaknatnya di dunia dan akhirat dan menyiapkan bagi mereka adzab yang menghinakan.

Siapa yang tak sakit orangtua Rasulullah dituding kafir dan neraka? Apalagi dengan dalil sepotong tanpa membandingkan nash-nash qathi'. Masalah ini pun telah dituntaskan para Imam Madzhab, Ulama-ulama Khalaf serta kontemporer. 

Bahasan tersebut, dulu pun hanya dibahas di kalangan tertentu. Tidak diumbar begitu saja di publik, terlebih dengan dalil parsial. Lalu tidak membandingkan nash-nash qathi' yang justru banyak memuliakan Rasulullah dan keluarganya.  

Paham takfiri ini sangat berbahaya bagi umat yang baru mengenal agama. Siapapun akhirnya latah bakal lancang dan enteng menuding sulbi-sulbi yang terjaga dari manusia paripurna, tiada tanding, tiada banding: Rasulullah. 

Kalau pada orangtua Rasulullah saja begitu enteng, bagaimana yang lain. Kisah Syahrul di atas menjadi bukti ril. Mungkin ini hanya bagian dari fenomena gunung es. 

Dosa apa bangsa ini hingga paham-paham takfiri menjalari kehidupan sosial dan keagamaan kita? Sungguh, paham ini adalah musibah besar bagi umat di akhir zaman. Dulu kita mengenalnya hanya di negara lain, kini mulai hadir di rumah Indonesia. 

Tapi paska reformasi kondisi berbalik. Belakangan, Malaysia dan Brunei melarang paham nyeleneh ini. Bahkan Rusia juga menolaknya. Kenapa di Indonesia masih dibiarkan? Kalau dulu, cukup dua Mubaligh: alm KH Kosim Nurseha dan alm KH Zainuddin MZ, umat dan bangsa ini adem ayem, sejuk, harmoni. Kini, banyak muncul muda-muda tapi enteng mengkafirkan. 

Ini adalah tantangan Ulama untuk melindungi umat dari paham-paham mengerikan ala takfiri. Boleh jadi diawali dari tudingan bidah, sesat, kafir, musrik. Bahkan sudah ada yang mulai terang-terangan menghalalkan darah Muslim. Mereka pun cenderung memisahkan diri dari kebanyakan. 

Dari kelompok ini ada pula yang merusak agama, seperti memangkas rukun wudhu menjadi dua, buaya dihalalkan, penyebutan Sayyidina bagi Nabi Muhammad dinilai merendahkan, saat upacara jangan ikut nyanyikan lagu Indonsia Raya, tapi Qulhu saja. Ironisnya, hal-hal begini malah digandrungi. Seram sekali. 

Jika demikian, bagaimana mau mencintai Indonesia. Padahal, Rasulullah saja mencintai Makkah, tanah airnya, tanah lahirnya, yang kemudian direbut kembali saat Pembebasan Kota Makkah. Arab Saudi sendiri memuliakan kerajaannya. Semua pun ada konteksnya, ada tempatnya. 

Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dihindari, dengan apa lagi mencintai tanah airnya. Padahal, darahnya tidak pernah menetes untuk memerdekakan bangsa ini. Tapi, begitu lancang mendoktrin umat menjauhi kecintaan pada tanah airnya. Bahkan amat banyak paham nyeleneh ini membuat aturan-aturan Islam yang lentur, mudah, toleran disulap jadi kaku, sempit, saklek, intoleran. 

Rahmatan lil alaamiin dihinakan menjadi fitnatan lil alaamiin. Bukankah jika tak sepaham dengan amaliah Muslim yang  mayoritas, ya tak usah dilakukan. Cukup hormati, hindari vonis penghakiman. Hindari perpecahan. Belajar dari keindahan harmoni Muhammadiyah dan NU.

Kelompok seperti ini memang masih minoritas dalam Islam di Indonesia. Meski begitu, keberadaannya sudah sangat mengganggu. Bahkan dinilai memecah ukhuwah. Mereka bukanlah dari kalangan Nahdlatul Ulama, bukan pula Muhammadiyah. Mereka juga bukan dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Alwasliyah, Nahdlatul Wathan, Persis, dan yang lain.

Tapi, bukan berarti mereka embrio teroris. Jangan ambil simpulan dulu. Hanya saja cara beragama mereka seringkali membuat ragu dan  membingungkan umat. Bahkan masalah khilafiyah yang telah tuntas dibesar-besarkan lagi. Akibatnya, ukhuwah makin berantakan. Ada pula segelintir yang telah terang-terangan menghalalkan darah Muslim. Nah jika sudah berani menghalalkan, amat mudah untuk selanjutnya melakukan eksekusi berdarah. La haula walla quwatta illa billah. 

Menarik mencermati analisis dari Pengamat Teroris, Al Chaidar. Ia menjelaskan, rangkaian insiden pada Rutan Mako Brimob, bom di Surabaya hingga Sidoarjo selama beberapa bulan terakhir memberi pengaruh besar dalam aspek sosial masyarakat. Di antaranya, menumbuhkan dan memperkuat sudut pandang bahwa teroris identik dengan seseorang beratribut Muslim.

Menurut Chaidar, sejauh ini, publik belum memahami bahwa kelompok pelaku termasuk dalam wahabi takfiri, mereka yang suka mengkafirkan Muslim lain. 

Sedangkan, untuk kelompok lain, yakni wahabi jihadi dan sururi tidak memiliki prinsip tersebut. Bahkan, wahabi sururi cenderung antijihad dan teror.

Atas keterbatasan pandangan ini, Chaidar menganjurkan agar adanya transfer ilmu. Masyarakat yang sudah lebih paham mengenai kelompok wahabi mampu mengajarkan kepada warga awam. Simak: Teror Bom Sebabkan Sudut Pandang yang Digenerelasasi (ROL, 17/5/2018).

Teroris bukanlah umat beragama. Tidak ada agama manapun mengamini teroris. Mereka hanya mendompleng Islam. Jika apa yang dianalisa Chaidar benar sebuah kenyataan ril, maka teroris lahir dari sebuah pemahaman, pemikiran hingga mengkristal menjadi ideologi. Bukan penampilan. Bukan agama. 

Masalahnya, program deradikalisasi yang dicanangkan pemerintah belum menyentuh ideologi yang diyakini teroris. Hal ini pun diamini mantan napi teroris yang telah kembali. Pembendungan ideologi pun perlu melibatkan mantan teroris yang telah menyadari kesalahannya.  

Biasanya wejangan sesama satu ideologi cenderung lebih mudah diterima dan memengaruhi, dibanding nasihat pihak luar yang berbeda ideologi. Nah, sejatinya pembendungan ideologi menjadi hal utama dan pertama sebagai satu langkah menghentikan masalah hulu terorisme. 

Semisal melarang pemahaman takfiri, ceramah-ceramah yang berpotensi membelah, menarik buku-buku keras, memblokir situs-situs kekerasan, mewajibkan kurikulum kebangsaan pada tiap jenjang sekolah, dan semisalnya. Kemudian menelisik aliran dana dan mematahkan sumber dana mereka. 

Entah ajaran Islam dari planet mana yang mendoktrin agar sesama Muslim dibidahkan, disesatkan, dikafirkan hanya karena khilafiyah, perbedaan cabang yang telah tuntas.

Belakangan, kita pun malah dikejutkan tragedi bom bunuh diri beruntun di Surabaya, Sidoarjo, Riau, mengatas namakan jihad. Lebih terkejut lagi saat kondisi damai nan nyaman, bom menyasar gereja, dengan modus teror baru: pelaku seorang ibu yang membawa anak-anaknya yang masih kecil. Pelaku sejatinya adalah korban. Ya, korban doktrinisasi paham nyeleneh. Polisi pun menyebut jaringan ini berafiliasi dengan ISIS. 

Diawali kran reformasi

Memori mengajak berputar ke sebuah acara di ILC Tv One, yang disiarkan tiga tahun lalu, 24 Maret 2015. Temanya: ISIS Mengancam Kita? Anda bisa simak kembali dengan mengklik judul itu di Youtube. 

Kala itu, nara sumber yang hadir, di antaranya, mantan Ketum PBNU yang juga mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden alm KH Hasyim Muzadi, Imam Masjid Istiqlal alm KH Ali Mustaka Yakub, Kapolri Jendral (Pol) Tito Karnavian, Kepala BNPT Ansyaad Mbai. 

Saya terpantik mendengarkan apa yang dikhawatirkan alm KH Hasym Muzadi. Menurutnya, akar dari terorisme dan kekerasan diawali dari manhaj takfiriyah. 

Yakni paham yang mudah mengkafir-kafirkan Muslim yang berbeda dengannya. Kalau Wali Songo dan Ulama-ulama terdahulu mengIslamkan orang non Muslim, paham takfiri mengkafirkan yang orang-orang yang sudah menjadi Muslim. 

Paham ini, menurut KH Hasyim Muzadi masuk ke Indonesia setelah dibukanya kran reformasi. Kekerasan berakar dari pemahaman takfiriyah, kemudian beralih pada hukmiyah. 

Yakni mudah menghukumi, apa-apa dilarang, apa-apa dikafirkan. Ironisnya, paham ini dibiayai asing dengan dana yang besar untuk merusak Indonesia. 

Bagaimana tidak rusak jika orangtua sendiri yang Muslim, lancang dikafirkan. Sedangkan kafir bagi mereka halal darahnya. Jika sudah halal, tinggal eksekusi berdarah. 

Bisa jadi apa yang dipahami para pelaku bom bunuh diri seperti itu, hingga membunuh anaknya sendiri tanpa jiwa dan akal yang normal. Bisa jadi pelaku adalah korban doktrinisasi takfiri. Bukan mustahil kan?

KH Hasyim Muzadi juga mengkritisi cara-cara polisi yang asal dar der dor. Seharusnya para pelaku ditangani dengan cara-cara Indonesiawi bukan qola Amerikani. Dan polisi, menurut KH Hasyim, selaiknya di belakang. 

Garda terdepan

Sedangkan garda terdepan menangkal terorisme perlu diawali dari alim Ulama, terutama dari Muhammadiyah dan NU. Inilah buatan asli Indonesia. Merekalah yang sudah terbukti menjaga umat, mampu mengikis paham-paham takfiri, meredam perpecahan umat hanya karena masalah-masalah khilafiyah yang bahkan telah tuntas berabad-abad silam. Kemudian melibatkan tenaga pendidik dan seluruh elemen masyarakat. 

Hulunya teroris berasal dari paham-paham yang kaku. Istilah KH Hasym  manhaj takfiriyah. Beliau juga menilai, selama ini, penanganan teroris hanya berkutat pada penyelesaian di hilir. Tapi hulunya dibiarkan. Tembak menembak hanya melahirkan dendam demi dendam. Sedang pemahaman takfiri yang mulai merambah menjadi mind set beragama, masih dibiarkan. 

Terbukti, yang dikhawatirkan almarhum, benar-benar terjadi. Paham-paham takfiri ini makin mudah ditemui. Sedikit sedikit sedikit sesat, kafir, musrik. Masya Allah. Kenapa hak Allah mau dirampas? 

Kejadian teror demi teror pun berlanjut, dan pada gilirannya mabes polisi yang dibidik. Persis pula seperti yang dikhawatirkan almarhum: penembakan melahirkan dendam demi dendam. 

Pertanyaannya kemudian: apakah selama ini road map penanganan teroris telah menyentuh masalah hulu? Lewat kurikulum, fatwa, pelarangan paham takfiri via pendidikan dan saluran informasi, atau alternatif semisalnya di atas. Amat runyam jika hulunya tidak dibenahi. 

Terlebih vonis dan tudingan serampangan pada amaliah berbeda begitu nyata dan mulai merusak ajaran agama dan tatanan sosial. Ulama-ulama dihinakan dengan begitu mudahnya. Bahkan sekelas Ustad Abdul Somad dijuluki ustaz syubhat. Masya Allah, ada saja kejahilannya. Tak heran, makin banyak pula pihak yang menilai ukhuwah makin mengkhawatirkan. 

Maka, sempurnalah design pembusukan Islam, menjadi masuk akal ketika kebanyakan korban dari teroris justru terbanyak dari umat Muslim sendiri. Pelaku di Surabaya yang wafat juga mereka sendiri bersama dua anaknya. Pelaku yang menjadi korban doktrin. 

Lalu, korban gugur dari pihak Polisi pun justru dikenal ahli ibadah, bahkan memiliki Pesantren dan Pengasuh anak Yatim. Beliau adalah Ipda Auzar personel Direktorat Lalu Lintas Polda Riau. Jihad apanya jika yang jadi sasaran justru sosok yang dikenal alim? Jihad hanya jadi komoditas dan alat teror. 

Bahkan jualan jihad ala teroris itu juga sukses mengadu domba, menciptakan ketakutan dengan menyudutkan Islam. Sampai-sampai identias keislaman dianggap menyeramkan. Islamphobia terjadi di negara mayoritas Muslim. Ironis.

Bukan tidak mungkin, jika masalah hulu tetap dibiarkan. Ceramah-ceramah yang hanya berkutat tudingan bidah, sesat, kafir, thagut didiamkan, ideologi teroris tak dibendung: boleh jadi bakal ada ledakan-ledakan susulan di kemudian hari yang menyayat hati. Islam dibusukan lagi. Persatuan umat pun sulit diwujudkan kembali. Mudah-mudahan tidak terjadi. 

Ya Qohar, Ya Jabbar, Ya Muhaimin, Ya Salam. Salimnaa wal Muslimin. Shalaallahu alaa Muhammad.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement