Selasa 27 Jan 2026 14:43 WIB

Membaca Ulang NU di Abad Kedua

Tantangan terbesar NU bukan lagi soal eksistensi, melainkan relevansi.

 Bendera NU dibawa oleh santriwati dalam apel Hari Santri Nasional, di Tugu Proklamasi, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Bendera NU dibawa oleh santriwati dalam apel Hari Santri Nasional, di Tugu Proklamasi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Oleh : CEO dan Founder Alvara Research Center, Hasanuddin Ali.

REPUBLIKA.CO.ID, Nahdlatul Ulama (NU) sebentar lagi, tepatnya 31 Januari 2026, memasuki abad kedua versi kalender Masehi. NU memasuki abad keduanya dalam lanskap Indonesia yang sangat berbeda dibanding satu abad lalu. Bukan hanya jumlah penduduk yang bertambah, tetapi cara orang beragama, berkomunitas, dan mempercayai otoritas keagamaan juga mengalami perubahan mendasar. Urbanisasi, digitalisasi, dan fragmentasi sosial membentuk generasi yang hidup dalam dunia yang lebih terbuka dan dinamis.

Dalam situasi ini, tantangan terbesar NU bukan lagi soal eksistensi, karena NU terlalu besar dan terlalu mengakar, melainkan soal relevansi. Pertanyaannya bukan apakah NU akan tetap besar, tetapi apakah NU masih menjadi rujukan hidup bagi generasi yang semakin cair secara identitas, semakin digital dalam relasi, dan semakin kritis terhadap otoritas.

Baca Juga

Di momentum penting inilah NU perlu melakukan refleksi dan membaca ulang apakah NU memiliki kesiapan untuk menghadapi lanskap yang sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya, bukan semata sebagai organisasi formal, tetapi sebagai bentuk komunitas sosial yang harus terus beradaptasi dengan zaman.

Membaca NU dengan Lensa Pools–Webs–Hubs

Untuk memahami dinamika komunitas modern, saya mengadopsi framework yang dikembangkan oleh Susan Fornier dari Boston University dalam artikelnya yang dimuat Harvard Business Review tahun 2019 yang bertajuk Getting Brand Communities Right. Kerangka framework ini menjelaskan bagaimana manusia bisa terikat dalam komunitas tertentu, Fornier menjelaskan ada tiga jenis komunitas, yaitu Pools, Webs, dan Hubs.

Pools adalah komunitas yang disatukan oleh nilai, tujuan, dan identitas bersama. Orang merasa menjadi bagian, meskipun tidak selalu memiliki relasi personal yang kuat satu sama lain.

Webs adalah komunitas yang bertumpu pada relasi antarindividu, kolaboratif, saling terhubung, dan produktif.

Hubs adalah komunitas yang berpusat pada figur atau simpul otoritas tertentu, dengan hubungan kuat ke pusat, tetapi lemah antarsesama anggota.

Kita bisa melihat bahwa sejak awal NU sangat kuat sebagai Pools. Ahlussunnah wal Jama’ah, tradisi pesantren, amaliah keagamaan, dan tradisinya menjadi perekat identitas yang membuat jutaan orang merasa “pulang” ke NU. Dalam sejarahnya, NU juga kuat sebagai Hubs, dengan kyai dan pesantren sebagai pusat otoritas keilmuan dan moral.

Namun, seiring dengam perkembangan masyarakat yang makin cair dan digital, dominasi Pools dan Hubs tanpa penguatan Webs menyimpan risiko serius. Identitas bisa tetap besar, tetapi relasi melemah. Figur bisa tetap dihormati, tetapi jejaring kolaborasi tidak tumbuh.

NU Hari Ini: Kuat sebagai Identitas, Belum Sepenuhnya sebagai Jaringan

Secara sosiologis, NU hari ini masih merupakan “rumah besar” bagi jutaan warga. Identitas NU tetap hidup, terutama di wilayah perdesaan, pesantren, dan komunitas kultural. Namun, wajah demografis NU telah berubah cepat.

Indonesia saat ini memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa dan diproyeksikan terus meningkat menuju sekitar 340 juta pada 2050. Dalam 5 tahun ke depan struktur penduduk masih didominasi usia produktif, sementara urbanisasi terus meningkat. Generasi muda NU kini banyak hidup di kota, kawasan industri, perumahan komuter, dan lingkungan kerja modern. Mereka berpindah tempat, berpindah profesi, dan berinteraksi lintas identitas.

Dalam konteks ini, NU sering hanya hadir sebagai identitas simbolik, tetapi belum selalu hadir sebagai jaringan kehidupan. Banyak warga NU merasa dekat secara kultural, tetapi masih jauh secara fungsional. Mereka menghormati NU, tetapi tidak selalu tahu bagaimana NU relevan dalam problem hidup sehari-hari dalam hal pekerjaan, keluarga, kesehatan mental, ekonomi, dan relasi sosial.

Demografi dan Digital: Dunia yang Mengubah Cara Orang Beragama

Perubahan demografi dan digital mempercepat pergeseran cara orang beragama dan berkomunitas. Lebih dari 80 persen penduduk Indonesia kini terhubung dengan internet, bahkan angka di generasi muda jauh lebih tinggi. Ruang keagamaan tidak lagi hanya berada di masjid, pesantren, atau majelis taklim, tetapi juga di layar ponsel, media sosial, dan grup percakapan.

Di ruang digital, otoritas keagamaan diuji setiap hari. Ceramah kyai bersaing dengan potongan video singkat, opini instan, dan algoritma yang menentukan apa yang dianggap relevan. Kepercayaan tidak lagi datang dari otoritas formal tetapi dari makna yang dirasakan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Survei yang dilakukan Alvara tahun 2025, misalnya. Ulama/ustadz yang menjadi rujukan masyarakat Indonesia 10 besarnya adalah mereka yang aktif hadir di kanal-kanal media digital.

Bagi generasi muda, pertanyaan keagamaan sering kali bukan lagi “siapa yang bicara”, melainkan “apa manfaatnya bagi hidup saya”. Inilah konteks sosial yang tidak bisa dihindari NU di abad kedua.

Yang Harus Ditansformasi: Bukan Hanya Struktur, tetapi Cara Berpikir

Dalam situasi ini, menurut saya, transformasi NU tidak bisa dipahami semata hanya sebagai digitalisasi organisasi atau pembaruan struktur. Yang lebih mendasar adalah pergeseran paradigma.

Pertama, dari organisasi yang diwariskan menuju organisasi yang lebih relevan. NU tidak bisa hanya mengandalkan pewarisan identitas. Generasi baru lebih bebas memilih, bukan menerima begitu saja. Relevansi harus dirasakan, bukan diasumsikan.

Kedua, dari otoritas posisi menuju otoritas nilai. Jabatan dan struktur tetap penting, tetapi legitimasi ke depan ditentukan oleh kemampuan memberi penjelasan yang masuk akal, membumi, dan dapat dipraktikkan.

Ketiga, dari mobilisasi massa menuju keterlibatan komunitas. Mengumpulkan orang dalam jumlah besar tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan orang dalam relasi kecil yang bermakna dan produktif.

Keempat, dari tradisi sebagai ritual menuju tradisi sebagai pranata sosial. Tradisi NU bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan perangkat untuk membangun kohesi sosial, empati, dan ketahanan komunitas.

Jadi semua pergeseran yang dijelaskan di atas harus bermuara pada satu hal, NU harus memperkuat Webs tanpa kehilangan Pools, dan menata ulang Hubs agar tidak menjadi pusat tunggal yang rapuh.

Syuriah: Penjaga Nilai-Nilai NU

Mari kita mulai dengan membahas peran Syuriah. Dalam konfigurasi baru ini, peran Syuriah menjadi sangat strategis. Syuriah tidak hanya berfungsi sebagai penjaga legitimasi struktural, tetapi sebagai arsitek makna keislaman kontemporer.

Di era digital yang serba bising ini, Syuriah perlu memastikan bahwa panduan keagamaan NU tetap jelas rujukannya, kuat metodologinya, dan mudah dipahami oleh publik luas. Bukan sekadar benar secara fikih, tetapi juga relevan secara sosial.

Syuriah berperan menjaga Pools (nilai, prinsip), serta batas-batas keagamaan NU. Pada saat yang sama, Syuriah juga berfungsi mengkurasi Hubs, memastikan bahwa figur-figur NU yang tampil di ruang publik membawa pesan yang sejalan dengan manhaj dan adab NU.

Dengan demikian, Syuriah harus menjadi “penjaga mutu” nilai-nilai (values) dan penjaga moral, bukan sekadar simbol otoritas.

Tanfidziyah: Mesin Jejaring dan Layanan

Jika Syuriah adalah kompas, maka Tanfidziyah adalah mesin penggerak. Di abad kedua, Tanfidziyah dituntut untuk bertransformasi dari administrator struktural menjadi orchestrator jejaring.

Peran utama Tanfidziyah adalah membangun Webs: menghubungkan kader lintas wilayah, lintas profesi, dan lintas generasi. Banyak warga NU memiliki kapasitas tinggi sebagai guru, tenaga kesehatan, profesional, pengusaha, atau pekerja migran tetapi belum terhubung dalam satu ekosistem kolaborasi.

Selain itu, Tanfidziyah perlu mengubah nilai NU menjadi layanan nyata di bidang pendidikan, ekonomi umat, kesehatan, advokasi sosial, filantropi, dan inovasi digital. Di sinilah relevansi NU dirasakan secara konkret oleh warganya.

Relasi Syuriah dan Tanfidziyah bukan hanya hierarkis, melainkan simbiotik dan saling membutuhkan. Syuriah memberi arah makna, Tanfidziyah membangun jalan agar makna itu hadir dalam kehidupan.

NU Masa Depan: Pools yang Hidup, Webs yang Produktif, Hubs yang Terkurasi

NU abad kedua bukanlah NU yang meninggalkan tradisi atau figur. Yang berubah adalah cara tradisi dan figur bekerja.

Pools tetap menjadikan NU sebagai rumah nilai-nilai bersama, tempat identitas dan orientasi moral dibangun. Hubs tetap penting, tetapi diposisikan sebagai simpul kepercayaan, bukan pusat tunggal kekuasaan. Webs menjadi mesin utama kolaborasi, kaderisasi, dan pelayanan umat.

Dengan konfigurasi ini, NU tidak hanya besar secara jumlah, tapi juga relevan, dan berdampak khususnya kepada warga NU dan juga Indonesia secara lebih luas.

Kita bisa melihat bahwa tantangan NU bukan hanya mempertahankan masa lalu, melainkan menunaikan amanat masa depan. Relevansi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi memastikan tradisi terus bekerja di tengah perubahan zaman.

Jika NU mampu bertransformasi dan beradaptasi dari sekadar menjaga "warisan" menjadi organisasi dengan Pools (ideologi) yang kokoh, Webs (jejaring) yang luas dan beragam, dan Hubs (figur) yang relevan dengan perkembangan zaman, maka NU tidak hanya akan tetap hidup, tetapi tetap memimpin arah kehidupan keagamaan dan kebangsaan Indonesia.

Selamat Harlah NU Satu Abad.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement