REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rudi Agung, Pemerhati Masalah Sosial
Sekarang, banyak sekali di internet kajian yang hanya teriak amaliah itu sesat, amaliah begini musrik. Bahkan doa berbuka puasa pun dipermasalahkan. Dan yang ditudingnya selalu Muslim. Lantas mengklaim kelompoknya paling benar sendiri. Yang lain seolah hanya pantas di neraka. Aneh bukan?
Jadi teringat sepak terjang ISIS, pada Israel bungkam, tapi pada Muslim tega bersikap keji hanya karena masalah perbedaan pandangan dan amalan. ISIS juga mengklaim yang paling benar.
Apakah kelompok minoritas itu terkait ISIS? Jangan ambil kesimpulan terburu-buru. Bagaimana dengan pemahamannya, apakah mirip-mirip? Anda yang menyimpulkannya sendiri. ISIS memiliki karakter menunjuk yang lain semuanya salah, sambil mengklaim kelompoknya sendiri yang paling benar.
Padahal Islam mengajarkan, semakin berilmu, semakin menunduk. Sebelum menunjuk yang lain, tunjuk ke dalam diri sendiri dulu. Nilai-nilai Islami itu tidak ada dalam ideologi ISIS. Tidak ada pula dalam kelompok seperti yang disebut pengamat teroris Chaidar: pelaku teroris adalah berpaham wahabi takfiri. Pelaku teroris merasa paling benar, yang lain kafir hingga darahnya halal ditumpahkan. Meski sesama Muslim.
Menoleh sejarah
Sejenak, kita tengok ke belakang. Rasulullah memperlakukan para tawanan perang dengan istimewa. Diberi baju, makanan dan tempat yang baik. Bahkan Rasul juga bersedih ketika salah satu kaum Yahudi meninggal dunia.
Kita maju sedikit. Tahun 1189, pasukan Shalahuddin al Ayubi membebaskan Palestina dari penjajahan pasukan sekutu King Richard I. Usai penaklukan, tangan Shalahuddin Al Ayyubi memungut Salib yg terjatuh dari altar sebuah gereja untuk dikembalikan ke posisi semula. Al Quds pun berhasil dibebaskan, dengan tetap memuliakan yang tak sepaham. Bahkan menjaga dan menjamin keamanan bagi non Muslim.
Kita juga masih ingat bagaimana ketika Muhammad Al Fatih dan pasukannya menaklukan Konstantinopel. Saat masuk ke gereja Hagia Sophia, Al Fatih melihat para pendeta dan rakyat sipil duduk bersimpuh, Al Fatih memeluk salah seorang pendeta. Kemudian diajaknya berdiri.
Dengan kelembutannya, Al Fatih berkata: "Berdirilah kalian semua. Kalian bebas, boleh melakukan apa saja sebagaimana manusia merdeka. Beribadahlah sesuai keyakinan kalian. Kami tidak akan mengganggunya. Kini, kalian adalah sama-sama warga negara dengan hak yang sama."
Ketika kaum Kristen bersepakat menyerahkan gereja Hagia Sophia, Al Fatih malah menolaknya. Beliau berkata, "Tetaplah beribadah di dalamnya. Namun, jika kalian merasa kurang nyaman, izinkan aku membeli Hagia Sophia. Lalu aku bangunkan gereja-gereja lain di Istanbul untuk ketenangan ibadah kalian."
Zaman ke zaman, Islam sangat memuliakan non Muslim. Bahkan pada tawanan perang, pun pada musuh yang baru ditaklukannya. Bahkan ada pula kisah pelacur yang mendahului kebutuhan seekor anjing, hingga wanita itu meninggal dunia kehausan.
Lantas bagaimana bisa mendompleng Islam tapi mendoktrin agar sesama Muslim dibidahkan, disesatkan, dikafirkan, dimusrikan hanya karena khilafiyah, perbedaan cabang yang telah tuntas. Kemudian menghalalkan darah. Lantas aksinya itu berlindung sebagai amar ma'ruf nahi munkar. Pun teroris yang membunuh orang tak bersalah, dalam kondisi damai, mengatas namakan jihad, meyakini dimasukan Surga.
Kita jadi teringat kisah Ibnu Muljam, yang ketika membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib menepuk dada mengaku sebagai bentuk ibadah. Bahkan saat membunuh mengutip ayat-ayat Quran. Naudzubillah tsumma naudzubillah.
Peran orangtua, guru dan ulama
Menarik pula mencermati hasil Survei Nasional tentang Sikap Keberagamaan di Sekolah dan Universitas di Indonesia, yang dilansir Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Survei itu menunjukkan anak-anak muda gemar mencari pengetahuan agama melalui internet (blog, website dan media sosial) dengan persentase 54.87 persen. Sumber rujukan kedua buku/kitab dengan persentase 48.57 persen, channel televisi menempati posisi ketiga dengan persentase 33.73 persen.
Pada level opini, siswa/mahasiswa cenderung memiliki pandangan keagamaan yang intoleran. Hal tersebut tercermin dari persebaran antara opini radikal, toleransi eksternal, dan toleransi internal siswa.
Dari ketiga kategori tersebut, pandangan keagamaan siswa yang paling intoleran terdapat pada opini radikal (58.5 persen) disusul opini intoleransi internal (51.1 persen) dan opini intoleransi eksternal (34.3 persen).
Survei itu begitu menyayat hati. Asupan agama yang sejatinya menjadi tanggung jawab orangtua, guru dan ulama telah beralih pada internet. Sedangkan informasi di internet tidak sedikit yang terdistorsi. Amat mudah kita temui berceramah tapi tuding sana bidah, situ kafir. Padahal yang ditunjuk Muslim, enteng menuding hanya beda amaliah.
Nilai Islami menjadi mengerikan. Apalagi jika tidak dikawal oleh guru yang memiliki sanad keilmuan yang menyambung pada Rasulullah.
Sebaliknya, ceramah di internet sendiri sudah ada upaya-upaya yang mendangkalkan peran penting sanad. Padahal, sanad inilah yang menjaga keilmuan Islam sepanjang zaman, tak hanya sebatas pada ilmu Hadits.
Sanad pula yang membedakan Islam dengan agama yang lain. Jika tanpa sanad, siapapun bakal mudah mendistorsi ajaran Islam. Siapapun bisa mengubah aturan dan hukum Islam. Sekalipun Yahudi. Rahmatan alaamin pun menjadi tidak penting lagi. Naudzubillah.
Di sinilah peran penting orangtua, guru dan ulama untuk kembali menjaga nilai-nilai Islam yang mulai terdistorsi. Nilai rahmatan lil alaamin yang mulai terkikis. Menangkal tindakan-tindakan intoleran yang mulai menjangkiti generasi umat ini. Tak sedikit pula akhirnya terbawa doktrinasi ala ISIS. Paham yang kini mulai menjalar di Bumi Pertiwi.
ISIS merambah Indonesia
Simak data ini: estimasi BNPT, ada sekitar 10-12 jaringan inti teroris yang saat ini berkembang di Indonesia. Untuk jaringan sel-sel yang lebih kecil lebih banyak lagi.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyatakan ada 2,7 juta orang Indonesia terlibat dalam serangkaian serangan teror. Bahkan jumlah itu belum termasuk pengikut dan simpatisan jaringan teroris.
Sedangkan orang-orang yang terindikasi berafiliasi dengan ISIS, jumlahnya mencapai 0,004 persen atau sekitar 1.000 orang. Demikian kutipan berita Tempo 20 Januari 2016, bertajuk: BNPT Sebut Ada 2,7 Juta Orang Indonesia Terlibat Terorisme.
DetikX, melansir: Soufan Center bersama Global Strategy Network melacak jejak 5.600 mantan prajurit ISIS beserta keluarganya di Suriah dan Irak yang telah pulang kembali ke negaranya. Dari Indonesia, ada sekitar 50 orang pendukung ISIS di Suriah dan Irak yang telah kembali ke Tanah Air.
Meski sudah tercerai-berai, menurut Jenderal Paul J Selva, Wakil Kepala Staf Gabungan Militer Amerika Serikat, para prajurit ISIS masih tersambung lewat jaringan telekomunikasi. Itu sebabnya, para kombatan ISIS yang pulang ke negerinya ini masih berbahaya. (DetikX, Setelah Anak-anak ISIS Pulang Kampung, 18/5/2018).
Pengamat terorisme Muhammad Jibriel Abdul Rahman mengatakan aksi bom bunuh diri di Surabaya terbilang berani. Kombatan ISIS sekalipun belum pernah melakukan aksi dengan mengajak serta anggota keluarga.
Meski perempuan ISIS juga melakukan bom bunuh diri di Suriah, sifatnya masih individual. Jibriel juga menduga para pelaku mempunyai mentor yang mengindoktrinasi mereka dengan ideologi ISIS. (DetikX, 18/5/2018).
Banyak pihak memastikan teroris tak bisa dilepaskan dari ideologi. Diawali dari doktrin, masuk pada pemikiran, pemahaman, kemudian menjadi keyakinan yang kokoh. Maka begitu mengerikan ketika ada ceramah yang enteng mengkafirkan bahkan kepada orangtua Nabi, lantas telah berani menghalalkan darah Muslim.
Adalah mengherankan saat tubuhnya berbalut simbol-simbol agama, dan mulutnya bertabur ayat-ayat Alquran, tapi saat yang sama melontarkan caci-maki kepada sesama kelompok Muslim yang beda paham, mengutarakan kalimat berpretensi adu domba, bahkan menghalalkan darah.
adahal merujuk SURAT KAPOLRI No. B/5830/XI/2016 tgl 23 November 2016, memaparkan definisi teroris. Yakni:
1. Terorisme adalah kejahatan terhadap negara.
2. Terorisme adalah penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap sasaran sipil (non-kombatan) dengan motif ideologi atau politik.
Bukankah menghalalkan darah telah masuk dalam ranah ancaman? Apalagi yang dihalalkan darah Muslim sendiri. Mudah-mudahan ke depan, paham-paham ini bisa segera dilarang. Saluran penyebaran informasinya diblokir. Kita pun mengapreasiasi Kominfo yang berhasil memblokir ribuan situs yang mengandung ujaran kebencian dan kekerasan.
Memutus dana dan ideologi teroris
Dalam catatan media, Wiranto pernah membeber keuntungan narkoba ada yang digunakan untuk aksi terorisme. Hal ini bukan perkara mengejutkan. Sebab, setiap kejahatan besar tak lepas dari perihal sosial, ekonomi dan politik.
Ada pihak yang dirugikan, ada pula yang diuntungkan. Dalam prosesnya selalu membutuhkan atau menghasilkan anggaran. Narkoba dan teroris, misalnya. Sejak reformasi, dua jenis kejahatan ini tak kunjung henti.
Sedikit membongkar memori. Dalam catatan media, sepanjang tahun 2017 saja, BNN telah mengungkap 46.537 kasus narkoba di seluruh wilayah Indonesia dan 27 kasus Tindak Pidana Pencucian Uang.
Narkoba, teroris dan pencucian uang bak setali tiga uang. Kejahatan terorisme selalu membutuhkan biaya. Lihat misalnya, apa yang berhasil diungkap polisi. Aparat menyita satu truk lebih bom aktif paska kejadian ledakan di Riau.
Tak main-main, satu truk. Ini yang terungkap, bagaimana yang belum. Berapapun jumlah bom yang dibuat pelaku, tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pertanyaannya kemudian: mampukah pihak terkait memutus aliran dana yang berpotensi digunakan untuk terorisme? Entah via dana narkoba, donatur personal atau lainnya.
Setarikan napas dengan aliran dana, hal utama juga memutus ideologi teroris. Mudah-mudahan para alim Ulama, MUI, guru dan pihak terkait bisa segera membendung paham membahayakan seperti ini dengan langkah tegas, ril dan konkrit.
Pihak sekolah juga perlu menggalakan kembali nilai-nilai Pancasila agar mencintai Indonesia, tanah airnya yang direbut dari penjajah dengan darah dan jiwa Ulama, santri serta umat Muslim dan para pendahulu. Seperti Rasulullah yang sangat mencintai tanah airnya. Bukankah Pancasila juga diambill dari inti sari ayat-ayat yang dipilih para Uama pendahulu dan Founding Father bangsa ini? Amat lucu Muslim yang menolak Pancasila, yang sejatinya diambil dari nilai-nilai Qurani.
Cukuplah umat dijejali pembusukan demi pembusukan. Tak perlu ditambahi masalah perpecahan dari dalam dengan tudingan-tudingan bidah hanya karena khilafiyah. Cukuplah umat dijauhkan dari kecintaan pada bangsanya sendiri, tanah airnya.
Kemudian mereka yang mudah mensesat kafirkan, malulah pada Wali Songo dan Ulama-ulama terdahulu yang telah berlelah-lelah mengislamkan yang kafir. Mewakafkan tanahya, menyedekahkan hartanya, berkorban jiwa dan keluarganya. Mengislamkan non Islam tanpa cercaan, tanpa tudingan, tanpa setetes darah.
Janganlah yang telah Muslim malah disesatkan, dikafirkan. Sungguh, ini lagu lama. Pangeran Arab sendiri, Mohammed bin Salman, telah mengungkap pada Maret 2018: penyebaran paham wahabi adalah pesanan Barat. Dagangan basi yang sulit laku di Indonesia: Negerinya para Wali dan Ulama.
Mudah-mudahan Muhammadiyah dan NU sebagai garda terdepan yang menjaga umat Muslim Indonesia, berkenan kembali berletih-letih membendung paham-paham nyeleneh. Menangkal ragam perusakan agama dan perpecahan umat di dalamnya. Tentu dengan tetap memanusiaka manusia.
Mari bergandeng tangan belajar kembali memanusikan manusia, menjauhi diri dari kelatahan memvonis kofar kafir. Membumikan lagi Islam Rahmatan lil Alaamiin, memuliakan perbedaan. Menjaga Indonesia bersama-sama. Damai selalu Indonesia.
Cukup Irak, Yaman dan Suria menjadi cermin. Jangan sampai Indonesia mengikutinya. Sejarah dan nasihat para Ulama, Habaib dan Kiai telah memperingati kita. Tak terkecuali alm KH Hasyim Muzadi dan alm KH Ali Mustaka Yakub. Semoga segala ilmu dan amal beliau-beliau diganjar kemuliaan tak terkira. Al Fatihah...
Ya Qohar, Ya Jabbar, lindungilah Indonesia. Satukan kembali jiwa anak-anak bangsa ini. Shalaallahu alaa Muhammad.