REPUBLIKA.CO.ID, Apa kabar Indonesiaku? Perkenankan aku menulis kalimat demi kalimat yang dulu belum sempat kuutarakan.Semoga di bawah langit biru napasmu tak lagi memburu. Terengah dikejar berbagai persoalan yang memberati hingga begitu sulit berdiri tegak dan terhormat di antara sahabat-sahabatmu.
Seseorang bertanya sebelum waktu menggulirkan angka baru menggantikan 2015 yang telah kita lewati, asa apa yang kupunya untukmu di tahun 2016.
Spontan pikiranku berhamburan, mengingatmu. Begitu banyak beban yang memberati langkahmu. Cemas, khawatir, bahkan takut selamanya kau tak pernah tegak. Tapi, sebagai warga yang berdiri di tanah ini, aku tahu tak boleh kehilangan harapan betapa pun kehidupan kita belum sempurna, dan rakyat masih banyak yang menderita; hidup di bawah garis kemiskinan.
Terkait ini sungguh aku berharap lebih banyak sumber daya alammu yang dikuasai bangsa sendiri. Tidak disia-siakan serta diprioritaskan kemanfaatannya untuk kemakmuran rakyat. Bukan sebaliknya justru menyejahterakan rekanmu yang jauh, asing, dan kadang tak bersahabat.
Aku juga berharap tersedia pelayanan kesehatan, yang memperlakukan semua manusia setara sebagai makhluk yang berhak untuk hidup dan sehat. Semoga bukan angan jika aku berharap para kriminal yang selama ini sibuk memperkaya diri sendiri, enyah dari tanahmu. Mereka yang hanya memerah --mengambil kesempatan dalam berbagai situasi-- tanpa memikirkan berbuat bagi sesama dan tumpah darah ini.
Semoga hukum ditegakkan dan tidak tebang pilih, memberantas para koruptor dari level terkecil hingga tertinggi. Mereka yang menaruh agenda pribadi di atas kepentingan merah putih, bagiku telah berkhianat dan tak boleh dibiarkan lepas dari jeratan hukum.
Indonesiaku, bertahanlah. Aku tahu sebagian orang telah menggadaikanmu. Tapi semoga bukan mimpi untuk menyaksikanmu pada akhirnya benar-benar bebas merdeka dan bermartabat.
Aku menantikan hari di mana kecantikan dan kekayaanmu yang membentang dari Sabang hingga Merauke, tertata dan mempesona miliaran warga bumi. Menjadi destinasi tujuan utama dunia. Enam puluh negara, 295 kota yang kukunjungi, atas kebaikan Allah, tak bisa mengusir decak kagumku padamu.
Apa yang tak kita miliki? Pantai dan laut, gunung dan lembah, hutan, flora dan fauna, sejarah dengan tak terbilang peninggalannya termasuk berbagai candi dan penanda-penanda bersejarah. Begitu banyak yang bisa kita tawarkan pada dunia. Juga udara yang menawarkan kehangatan sepanjang tahun. Bahkan musim hujan tak bisa meredamnya. Pelarian terindah dari udara dingin bagi turis mana pun.
Semoga Allah menghadirkan para cendekia yang tulus. Yang siap menatamu hingga keindahan yang Allah anugerahkan bisa dinikmati miliaran pasang mata.
Ah, tak lupa aku berharap energi, waktu, biaya rakyat Indonesia tidak terkuras sia-sia karena macet atau bencana yang disebabkan kelalaian manusianya. Sebab, semua itu jika dimanfaatkan benar akan memberi lebih banyak untukmu.
Deret harapku yang lain adalah melihat orang-orang terhormat pemegang kebijakan memberi kemudahan generasi muda dalam membaca buku. Dan di tengah impitan ekonomi, semoga ada tangan ajaib yang memotong pajak buku yang puluhan itu --dari mulai kertas, tinta, biaya impor, dan lainnya-- hingga buku tak menjadi barang mewah. Tanpa jendela dunia yang layak, bagaimana anak-anak negeri berani bermimpi besar dan berdaya menaklukkannya?
Harapan lain menyangkut keberagaman di tanahmu. Semoga penghargaan terhadap keyakinan agama kian meningkat hingga tidak terjadi lagi saling fitnah dan tindakan kekerasan atas nama agama.
Ah, teramat panjang harapan padamu Indonesiaku. Maafkan, tapi itu karena aku masih percaya padamu. Namun perkenankan aku menutupnya dengan harapan lain yang menurutku penting, sebab ini menyangkut masa depanmu.
Semoga sekali lagi bukan angan untuk berharap melihat lebih banyak pejabat publik yang jujur, berdedikasi, dan kompeten di tanah tercinta. Sehingga Indonesia menjadi lebih baik, lebih sejahtera, lebih berwibawa dan visioner, dan lebih dicintai rakyatnya serta dihormati dunia internasional.
Indonesiaku, demikian surat berisi harapanku padamu. Ya, ya... aku tahu kau juga memiliki banyak harap padaku, pada kami yang berdiri menjunjung merah putih. Semoga tak ada hari di mana kami mengecewakanmu. Semoga di sisa hari yang dimiliki setiap rakyatmu, kami sanggup memberi lebih banyak kebanggaan dan bukan kedukaan di matamu.