Jumat 29 Mar 2013 04:00 WIB

Politisasi Sepak Bola di Negeri Para Mullah (1)

Revolusi Iran
Foto: otheris.com
Revolusi Iran

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Aqwam Fiazmi Hanifan

Pengamat politik Timur Tengah, Bernard Lewis dalam bukunya berjudul the Middle East memaparkan Revolusi Islam Iran yang dipimpin Ayatollah Khoemeini tahun 1979 disebut sebagai the first electronically operated revolution.

Kendati diasingkan ke Irak, lalu dipindah ke Paris. Memanfaatkan perkembangan teknologi, Khoemeini dapat terus membakar semangat perlawanan jutaan rakyat Iran, yang jaraknya ribuan mil dari tempatnya berada. Bangsa yang gemar berdemonstrasi ini pun tumpah ruah ke jalan menuntut rezim Syah Pahlavi mundur.

10 Februari 1979, Revolusi Islam Iran dinyatakan menang, Khoemeini pun pulang kampung dan menjadi kepala tertinggi pemerintahan.

Kejatuhan rezim dinasti monarki Pahlavi menurut Bernard Lewis adalah kulminasi dari revolusi pertama dalam sejarah umat manusia yang dibantu oleh teknologi; rekaman kaset dan telepon. (Kondisi itu terjadi 24 tahun silam saat dimana teknologi informasi belum secanggih sekarang)

Berkembang pesatnya elektronik dan teknologi informasi, mau tak mau membawa peradaban manusia ke sebuah era baru. Bagi beberapa orang era itu adalah sebuah monster yang bernama "Globalisasi". Menurut sejarahnya, globalisasi muncul dari Revolusi elektronik yang melipatgandakan komunikasi, transportasi, produksi dan informasi.

Dan iran mampu menahannya dengan sedikit pengecualian. Menghadapi globalisasi Iran mampu bersikap selektif, padahal sebelum Revolusi islam, Iran lebih liberal ketimbang negara arab lainnya.

Amir Taheri, seorang jurnalis ternama di Iran, menceritakan dalam bukunya The Spirit Of Allah; sebelum revolusi islam, Teheran kala itu tampak seperti kota yang dihuni alien. Bioskop, kasino, gedung opera, hotel bergaya amerika dan bangunan identik simbol Barat bertebaran di seantero penjuru Teheran.

Tak lupa perempuan berbusana minim dan anak muda berambut gondrong dengan celana jeans bermerek levis menambah asa tersebut. Ada pula intelektual berkacamata yang beradu mulut siapakah yang benar, Camus atau Sartre, melupakan diskusi soal Quran dan Hadist.

Dari sekian banyak hal yang ada, ada satu masifestasi dari alien di Iran; Alien Iran sama sekali tak berbahasa Persia, lebih senang memakai kosakata Inggris atau Perancis. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. bagi suatu bangsa.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement