Oleh Zuly Qodir, Guru Besar Sosiologi Politik, Wakil Rektor Pendidikan UMY
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lebih sepekan Kematian pemimpin tertinggi umat Islam Syiah di Iran, Ali Khamenei 1 Maret 2026, merupakan duka yang sangat mendalam di kalangan warga Masyarakat Republik Islam Iran dan negara-negara Islam yang ada di Timur Tengah dan negara dengan penduduk mayoritas muslim di dunia.
Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, meninggal akibat serangan udara yang dilakukan oleh pasukan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah sasaran di Teheran. Republik Islam Iran mengumumkan 40 hari berkabung atas wafatnya pemimpin tertinggi negara tersebut. Mojtaba Khamenei menggantikan Ali Khamenei yang wafat.
Kematian tersebut mungkin dirayakan dengan bangga oleh Amerika dan Israel beserta sekutunya. Namun, harap diingat hal semacam itu dapat menumbuhkan semangat perlawanan yang semakin sengit dari warga Masyarakat Iran para pendukung pemimpin tertinggi mereka yang telah syahid karena invasi militer negara penentang kebijakan politik Republik Islam Iran.
Hal inilah yang hemat saya perlu menjadi perhatian negara-negara para pendukung Amerika dan Israel terhadap solidaritas yang mungkin muncul karena rasa empati dan kutukan terhadap Amerika dan Israel.
Revolusi Islam Jilid II
Kita ingat tahun 1979, Ketika Rezim Syah Pahlevi yang didukung Amerika digulingkan oleh para tokoh kharismatik Republik Islam Iran. Saat Itu Ayatullah Imam Khomeini sebagai pendiri negara Republik Islam Iran Bersama tokoh Islam Iran lainnya, seperti Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, termasuk Ali Khamenei menjadi pendukung melawan Reza Pahlevi. Setelah Ayatullah Imam Khomeini wafat, Ali Khamenei menjadi penggantinya sejak 1981-2026 hingga wafat karena invasi militer udara Amerika dan Israel.
Jika melihat kejadian tahun 1979, bukan hal yang mustahil akan membangkitkan semangat revolusi Islam Iran jilid II untuk melawan kezaliman Amerika dan Israel. Kehendak Amerika menjadikan Iran sebagai negara boneka dengan mengangkat presiden yang dikehendaki Amerika tidak dapat terlaksana. Bahkan, warga Iran yang sangat setia terhadap pemimpin tertinggi mereka akan segera melakukan perlawanan dengan segala kekuatan dan solidaritas yang sangat tinggi.
Solidaritas warga Iran yang kita ketahui Sebagian besar Adalah bermazhab Syiah akan melakukan perlawanan atas nama harga diri orang Iran dan orang Syiah yang telah diinjak-injak kedaulatan negaranya oleh bangsa asing. Kita ketahui Amerika dan Israel merupakan musuh terbesar Republik Islam Iran.
Hal ini karena Amerika dan Israel merupakan negara yang dianggap semena-mena terhadap kedaulatan Republik Islam Iran dengan berbagai macam tuduhan palsu tentang persenjataan nuklir dan tidak demokratisnya dalam mengelola negara.
Jika terjadi eskalasi perlawanan dan perang yang dilakukan warga Iran sebagai balas dendam terhadap Amerika dan Israel maka kebangkitan Islam Jilid II yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh rezim diktator Donald Trump merupakan awal mula perang terbuka di dunia Islam dengan Amerika dan Israel di bawah Benjamin Netanyahu. Perang Dunia Islam versus Amerika-Israel menandai adanya dua kekuatan militer dan ideologi politik yang saling bertentangan antara satu dengan lainnya.
Amerika-Israel berada pada mazhab anti-Islam dan Iran Bersama sekutunya berada pada mazhab membela Islam di Timur Tengah serta dunia Islam pada umumnya. Inilah era clash of civilization jilid kedua yang diramalkan Samuel Huntington pada akhirnya terbukti, sebab Amerika Bersama Israel menabuh genderang perang dengan negara-negara mazhab semitik. Penggantian Ali Khamenei kepada Mojtaba Khamenei tidak menyurutkan perlawanan melawan AS dan Israel.
Perdamaian yang Tertunda
Dengan adanya perang terbuka yang mungkin akan terjadi antara Amerika-Israel bersama sekutunya versus Republik Islam Iran bersama negara-negara Islam dan mayoritas penduduk muslim yang simpati dan empati pada Iran, maka perdamaian dunia di Timur Tengah pada khususnya akan tertunda.
Keinginan Amerika memupuk perdamaian di Timur Tengah dan negara-negara Islam hanya menjadi isapan jempol belaka. Hal ini disebabkan Amerika yang membuka luka baru negara-negara Islam di Kawasan Timur Tengah dan negara berpenduduk muslim.
Amerika dan Israel secara tidak langsung menabuh genderang perang dunia ketiga dengan melakukan invasi militer ke Iran dan beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah yang berpenduduk muslim seperti Sudan, Afganistan dan Iran.
Oleh sebab itu, kita agak ragu dengan adanya Board of Peace (BOP) yang didirikan oleh Amerika, dan beberapa negara yang mendukung, termasuk Indonesia untuk menciptakan perdamaian sejati di Kawasan timur Tengah dan negara-negara lainnya.
Bahkan, saat ini dengan adanya serangan membabi buta terhadap Republik Islam Iran, serta negara-negara lainnya kita dapat katakan bahwa Amerika sedang membangun peperangan atas nama perdamaian dunia yang diciptakan sendiri dengan meminta dukungan negara lainnya.
Perdamaian yang diharapkan Amerika tercipta dengan adanya BOP sungguh hanya isapan jempol belaka. BOP benar-benar sekedar alat legitimasi politik Amerika untuk melakukan peperangan dan invasi militer terhadap negara lain yang oleh Amerika dianggap tidak setuju dengan perdamaian dunia.
Namun, hal yang sebenarnya terjadi adalah Amerika dan Israel menghendaki adanya ketundukan tanpa syarat terhadap kebijakan politik dan ekonomi luar negeri Amerika dan Israel. Jika terdapat negara yang dianggap akan melawan maka invasi militer tidak segan-segan akan segera dilancarkan. Iran Adalah bukti paling mutakhir atas keangkuhan politik ekonomi Amerika dan dukungan Israel.
Dengan adanya peristiwa invasi militer Amerika-Israel ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, maka perdamaian dunia di Kawasan Timur Tengah dan Negara anti-Amerika akan semakin kuat menggalang solidaritas perlawanan.
Kita masih menunggu reaksi Republik Turki yang selama ini mendukung kebijakan luar negeri Iran dan negara-negara Islam lainnya. Jika Turkiye terlibat maka perang terbuka akan semakin jelas di era persenjataan perang yang semakin ampuh. Apalagi Mojtaba Khamenei juga terus menantang AS dan Israel.