Pertengahan April ini, para pelajar disibukkan oleh Ujian Nasional (UN). UN dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada tanggal 16 April 2012 untuk SMA dan sederajat, serta 23 April 2012 untuk SMP dan sederajat. Hasilnya nanti yang akan membedakan yaitu lulus atau tidak lulus.
Fenomena yang mencuat setiap tahunnya ini, tentu tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Pro dan kontra pun mewarnai di mana masing-masing memiliki alasan yang logis, sesuai dampak yang timbul dari UN itu sendiri.
Tolok ukur
Hasil dari UN, nantinya akan menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan di negeri ini. Meski tidak sepenuhnya, tapi setidaknya akan menjadi gambaran sejauh mana mutu dan kualitas serta seperti apa pendidikan negeri kita saat ini.
Dengan atau tanpa kita sadari, ini akan menjadi tolak ukur bukan hanya bagi siswa tapi kita semua selaku bagian dari pendidikan itu. Hasilnya, nanti akan menjadi nilai bagi kita sebagai pendidik baik guru, orang tua/masyarakat dan pemerintah, karena pendidikan tidak lepas dari tiga elemen tersebut.
Dengan kata lain, kegagalan atau keberhasilan peserta didik nanti bukanlah kegagalan atau keberhasilan mereka semata. Melainkan, akan menjadi hasil kita juga sebagai elemen-elemen yang tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan tersebut.
Kegagalan bukan akhir segalanya
Setiap manusia pasti tidak akan pernah mau gagal. Perasaan itu lumrah dan manusiawi. Keberhasilan itu merupakan pilihan, tergantung seberapa besar kemauan kita untuk berhasil dan tergantung seberapa besar usaha yang kita lakukan dalam menyiapkannya.
Begitu juga UN, tergantung seberapa siap kita menyiapkan para peserta didik dalam menghadapi UN, yang seharusnya benar-benar disiapkan dari jauh-jauh hari. Jika persiapan kita matang, dalam artian siap dalam hal intelektual (daya pikir) dan siap dalam hal emosi (daya rasa), atau siap jiwa raga/jasmani dan ruhani, tentu kita akan yakin bahwa kita akan berhasil.
Tapi pada kenyataannya, ada banyak hal yang tidak bisa kita duga. Seperti, meski persiapan yang kita rasa sudah matang/maksimal, namun ternyata hasilnya masih belum memuaskan atau gagal.
Kodrat kita sebagai makhluk Sang Khalik, bahwa kita hanya bisa berusaha dan berdo’a. Di balik itu semua, ada Yang Haq yang menentukan.
Tapi, terkadang kita lupa makna dari kegagalan tersebut. Bukankah kegagalan itu bagian dari proses keberhasilan? Sayangnya, paradigma ini belum sepenuhnya tertanam dalam benak kita. Kita cenderung berusaha dengan cara apapun untuk berhasil, termasuk kita (pendidik) terkadang rela melakukan apa saja agar anak atau peserta didik kita lulus. Sekalipun itu menyalahi norma susila yang berlaku.
Tidak jarang, untuk menjadikan peserta didiknya lulus, guru rela mengesampingkan ideologi mereka. Begitu juga para orang tua dan pemerintah, yang terkesan tutup mata dalam hal ini.
Kegagalan seharusnya menjadi wahana kita untuk belajar dan berbenah diri. Tapi yang menjadi masalah, kita terkadang tidak mau introspeksi diri. Kita cenderung malu mengakui kelemahan kita dan cenderung mengambing hitamkan orang lain, dan saling menyalahkan. Inilah makna sejati dari kegagalan itu, yaitu ketika ketiga elemen dalam pendidkan tadi, cenderung melakukan kecurangan untuk dapat menjadikan peserta didik lulus UN.
Pendidikan karakter
Kita lebih malu tidak lulus daripada malu berbuat curang. Hal inilah yang mesti dibenahi dalam dunia pendidikan kita.
Konsep pendidikan karakter yang dielu-elukan, belum berjalan sebagaimana mestinya. Nilai-nilai keluhuran buti pekerti dan hati nurani, belum bisa kita tanam dan diterapkan sepenuhnya dalam dunia pendidikan. Kita semua seakan lupa makna dari pendidikan tersebut.
Ini menjadi tugas bersama, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Semua elemen tadi, diharapkan bersungguh-sungguh dalam usaha meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan negeri kita. Tentunya, ke arah yang progresif, seperti yang telah tertuang dalam UUD 1945 yaitu "mencerdaskan kehidupan bangsa" dan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003.
UN sebaiknya menjadi wahana motivasi kita sebagai warga negara dalam konteks dunia pendidikan. Selain agar kita lebih giat, juga lebih peduli terhadap kemajuan pendidikan di negeri tercinta ini.
Jopi Sambora
Mahasiswa STKIP Muhammadiyah BABEL