Ahad 05 Apr 2026 10:26 WIB

Pedang yang Pulang Tanpa Luka

Khalid bin Walid adalah keganjilan dalam logika sejarah.

Khalid bin Walid (ilustrasi)
Foto: officeboots
Khalid bin Walid (ilustrasi)

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra

REPUBLIKA.CO.ID,  Ada jenis keberanian yang tidak tercatat oleh luka. Ia tidak meninggalkan bekas pada tubuh, tetapi justru menggores lebih dalam pada cara manusia memahami kekuasaan.

Di sanalah saya menemukan Khalid bin Walid, bukan sebagai sosok legenda yang dibekukan dalam kemenangan, melainkan sebagai keganjilan dalam logika sejarah itu sendiri.

Seorang panglima yang selalu berada di depan barisan, tetapi justru tidak mati di sana. Seorang pemimpin yang menggenggam kemenangan, tetapi tidak menggenggam kekuasaan. Seorang “pedang” yang tajamnya diakui, tetapi akhirnya disarungkan oleh tangan yang bukan miliknya. Dan mungkin, justru di situlah rahasianya.

Kepemimpinan sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang berdiri di atas panggung: jauh, tinggi, dan terlindung. Tetapi Khalid merobohkan panggung itu. Ia berjalan di garis yang paling tipis—di mana debu bercampur darah, dan keputusan tidak punya waktu untuk dirumuskan dalam rapat.

Ia memimpin dari depan. Bukan sekadar posisi fisik, tetapi posisi moral: ia menanggung risiko yang sama, bahkan lebih besar, daripada mereka yang ia perintahkan. Dalam dunia modern yang penuh simulasi kepemimpinan—di mana keberanian sering digantikan oleh presentasi—model seperti ini terasa hampir asing. Kita terbiasa melihat pemimpin yang selamat terlebih dahulu, baru kemudian berbicara tentang pengorbanan.

Khalid membalik itu: ia mempertaruhkan dirinya terlebih dahulu, baru sejarah yang berbicara. Namun justru karena ia selalu berada di depan, kita berharap akhir yang klise: gugur di medan perang, tubuhnya menjadi penutup dari kisah heroik. Tapi sejarah menolak memberi kita kepuasan itu.

Ia tidak mati di medan perang. Seolah-olah kehidupan ingin mengatakan sesuatu yang lebih dalam: bahwa keberanian tidak selalu diberi kematian yang dramatis. Ada keberanian yang harus hidup lebih lama—untuk menanggung ironi, untuk menyaksikan perubahan, untuk menerima bahwa peran besar tidak selalu berakhir dengan panggung yang megah.

Dan ironi itu mencapai puncaknya ketika kekuasaan lepas dari tangannya.Ketika Umar bin Khattab mencopotnya dari jabatan panglima, dunia, jika memakai logika kita hari ini, seharusnya retak. Seorang jenderal besar, dengan reputasi tak tertandingi, memiliki semua alasan untuk menolak, untuk melawan, untuk setidaknya mempertanyakan.

Tetapi tidak. Tidak ada pemberontakan. Tidak ada pembangkangan. Tidak ada drama kekuasaan. Yang ada justru sesuatu yang lebih langka: ketenangan seorang yang tahu bahwa dirinya bukan pusat dari sejarah.

Di sinilah kita melihat bentuk kepemimpinan yang hampir mustahil dipraktikkan di zaman kita: keteguhan tanpa ambisi politik. Ia berperang tanpa menjadikan kemenangan sebagai alat tawar. Ia memimpin tanpa mengikat dirinya pada jabatan. Dan ketika jabatan itu diambil, ia tidak kehilangan dirinya.

Seolah-olah ia berkata tanpa kata-kata bahwa nilai seorang pemimpin tidak ditentukan oleh kursi yang ia duduki, tetapi oleh kesediaannya untuk tetap berjalan bahkan ketika kursi itu diambil.

Saya sering bertanya, dalam diam yang panjang:

apa yang membuat seseorang seperti ini mungkin?

Apakah ini semata-mata soal iman?

Ataukah ada disiplin batin yang lebih keras daripada disiplin perang itu sendiri?

Karena jika kita jujur, banyak dari kita tidak runtuh oleh kekalahan, tetapi oleh kehilangan posisi. Kita tidak hancur ketika kalah dalam pertempuran, tetapi ketika tidak lagi dianggap penting.

Khalid justru diuji di titik itu dan ia tidak pecah. Ia tetap bertempur, bahkan ketika ia bukan lagi panglima.

Dan di situlah metafora “pedang” menemukan makna yang lebih sunyi. Pedang tidak memilih siapa yang menggenggamnya. Pedang tidak menawar kapan ia digunakan. Pedang tidak menyimpan ambisi untuk menjadi tangan. Ia hanya tajam dan setia pada fungsi.

Tetapi manusia bukan pedang. Manusia memiliki ego, hasrat, dan keinginan untuk diakui. Maka ketika Khalid memilih untuk tetap menjadi “pedang”, ia sebenarnya sedang menaklukkan sesuatu yang lebih besar daripada musuh di medan perang: dirinya sendiri.

Dan mungkin, inilah kemenangan yang tidak pernah dirayakan dengan teriakan. Ada satu lapisan lagi yang membuat kisah ini terasa hampir seperti paradoks yang disengaja oleh sejarah: seorang jenius perang yang tidak mati dalam perang.

Seakan-akan takdir menolak memberinya akhir yang mudah. Karena mati di medan perang adalah bentuk penutup yang sederhana, ia menjelaskan segalanya sekaligus. Tetapi hidup setelah semua itu, tanpa jabatan, tanpa panggung, tanpa kematian heroik, itu jauh lebih sulit.

Itu adalah ujian yang lebih panjang. Dan Khalid menjalaninya. Di ranjangnya, jauh dari dentang pedang, ia menutup hidupnya bukan sebagai panglima, tetapi sebagai manusia yang telah selesai dengan ambisi dunia.

Di titik ini, “pedang” itu akhirnya tunduk sepenuhnya—bukan pada musuh, bukan pada kekuasaan, tetapi pada sesuatu yang lebih besar: takdir.

Barangkali, di zaman kita yang penuh perebutan posisi, kisah ini terasa tidak nyaman.

Ia tidak memberi kita resep cepat.

Ia tidak menawarkan strategi memenangkan kekuasaan.

Ia justru mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar:

untuk apa kekuasaan itu, jika kita tidak siap kehilangan?

Khalid tidak dikenang karena ia selalu menang. Ia dikenang karena ia tidak berubah ketika menang—dan tidak runtuh ketika dilepaskan. Dan di situlah ia menjadi cermin yang jujur, bahkan menyakitkan, bagi kita hari ini.

Karena mungkin, yang paling sulit bukanlah memimpin dari depan. Bukan pula memenangkan pertempuran. Tetapi pulang tanpa luka di tubuh, tanpa jabatan di tangan,

dan tetap utuh sebagai manusia.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement