Ahad 18 Oct 2026 11:38 WIB

Dua Alasan Jokowi Terkesan Berubah Sikap Terhadap Prabowo Menurut Analis

Politisi yang merasa ditinggal umumnya hanya punya dua pilihan.

Rep: M Noor Alfian Choir/ Red: Andri Saubani
Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden ke-6 Susilo Bambang YudhoyonoPresiden ke-7 Joko Widodo usai mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 TNI Tahun 2026 di Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta , Senin (5/10/2026). Peringatan Upacara HUT Ke-81 TNI tersebut mengusung tema TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur dengan melibatkan 3.378 personel pasukan upacara dari TNI dan Non TNI serta 38 unit Alutsista.
Foto: Republika/Prayogi
Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden ke-6 Susilo Bambang YudhoyonoPresiden ke-7 Joko Widodo usai mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 TNI Tahun 2026 di Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta , Senin (5/10/2026). Peringatan Upacara HUT Ke-81 TNI tersebut mengusung tema TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur dengan melibatkan 3.378 personel pasukan upacara dari TNI dan Non TNI serta 38 unit Alutsista.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo kini terlihat berubah sikap terhadap Presiden Prabowo Subianto. Menurut pria yang akrab disapa Hensa itu, perubahan sikap Jokowi dipicu setidaknya oleh dua hal.

Pertama, Hensa menilai Jokowi bisa jadi merasa tidak lagi dilibatkan dalam keputusan politik. Kondisi itu membuat Jokowi terisolasi sehingga sikapnya kini berubah.

Baca Juga

"Selama sepuluh tahun lebih, Pak Jokowi selalu berada di pusat keputusan politik. Sekarang, kalau ia merasa tidak lagi diajak bicara soal langkah-langkah besar, wajar kalau Pak Jokowi mulai mencari ruang politiknya sendiri," kata Hensa, Sabtu (17/10/2026).

Ia menilai, politisi yang merasa ditinggal umumnya hanya punya dua pilihan, yakni diam atau membangun panggung baru.

"Saya melihat Pak Jokowi memilih membangun panggung baru, bukan diam. PSI adalah kendaraan politik yang paling dekat dan paling masuk akal untuk itu," ujar Hensa.

photo
Presiden ketujuh Joko Widodo (tengah) didampingi Sekretaris Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie Louisa (kiri) dan Ketua Harian PSI Ahmad H M Ali (kanan) menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PSI saat Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026). Kehadiran Jokowi tersebut dalam rangka memberikan arahan kebangsaan pada Rakorda PSI yang salah satunya beragendakan penjaketan kader baru DPD PSI Kota Bandung sekaligus bertemu warga dan relawan. - (ANTARA FOTO/Abdan Syakura)

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu juga melihat, alasan lainnya adalah Jokowi merasa diserang lewat isu ijazah. Isu yang semula menyasar ijazah Jokowi itu kini merembet ke ijazah SMA putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang perkaranya sampai disidangkan di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Isu ijazah ini sudah bukan lagi soal pribadi Pak Jokowi. Begitu merembet ke anaknya, apalagi anaknya kini menjabat wakil presiden, wajar kalau Pak Jokowi merasa harus pasang badan dan tampil lebih keras," katanya.

Menurut dia, serangan yang datang terus-menerus justru bisa membuat seseorang berhenti bersikap defensif.

"Orang yang terus diserang lama-lama akan berhitung, daripada menunggu lebih baik maju duluan. Bisa jadi itulah yang sedang kita lihat dari sikap Pak Jokowi terhadap pak Prabowo sekarang," lanjutnya.

Meski begitu, Hensa tidak buru-buru menyimpulkan Jokowi akan berseberangan dengan pemerintahan yang ikut ia antar ke kursi kekuasaan. Ia mengakui, bacaannya disusun dari luar, dan hanya Jokowi yang tahu persis hitungan politiknya.

"Jokowi memang sejauh ini masih mendukung Prabowo-Gibran. Tapi melihat langkahnya sekarang, saya melihat Jokowi mungkin juga sudah mulai mempertimbangkan rencana lain. Dilihat saja apa yang akan ia lakukan bersama PSI nantinya," katanya mengakhiri.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi