Sabtu 29 Aug 2026 14:14 WIB

Maulid: Taman Cinta yang Selalu Bersemi

Festival Maulid tidak perlu visa untuk bisa menyeberang dari satu negeri ke yang lain

Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan Tasyakur HUT RI ke 81 Tahun 2026 tingkat Kabupaten Bandung di Dome Bale Rame Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (25/8/2026).
Foto: Pemkab Bandung
Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan Tasyakur HUT RI ke 81 Tahun 2026 tingkat Kabupaten Bandung di Dome Bale Rame Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (25/8/2026).

Oleh: M Farouk Ridwan

(“The Mawlid is the festival of the heart” — Annemarie Schimmel)

 

Baca Juga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akhirnya bulan penuh festival itu datang juga seperti musim semi yang hadir dihiasi kuncup bunga bermekaran beraneka ragam warna.

Tidak ada bulan penuh warna-warni seperti bulan Rabiul Awal yang hampir setiap harinya dibacakan aneka pujian, akhlak mulia, mukjizat dan sejarah seorang manusia agung yang bernama Muhammad Rasulullah.

Di anak benua Indo-Pakistan dan India, langit seperti penuh bintang dengan hiasan lampu-lampu yang bergelantungan. Na'at atau puisi dilantunkan, permen dan manisan dibagikan, karena dalam sedekah itu ada keberkahan.

Di Maroko dan Turki, kasidah Burdah dilantunkan dengan penuh getar perasaan. Mevlid Ottoman mengalun yang nada lirihnya menyentuh langit-langit masjid tua.

Selama sebulan Rabiul Awal, Al-Azhar di Mesir menjadi seperti lautan kegiatan, sirah Nabi diceritakan ulang dan pasar dipenuhi lantunan shalawat.

Di Yaman, tiap malam syair-syair Ad-Diba’i dibisikkan lirih penuh perasaan dan hikmat, rumah diselimuti aroma harum wewangian, hati menjadi tenang, seolah Nabi sedang hadir bertamu.

Mungkin hanya di negeri ini perayaan Maulid yang paling heboh dan meriah diadakan dari ujung ke ujung Nusantara, dari Istana Kepresidenan sampai ke surau di pelosok kampung. Maulid sudah menjadi tradisi dan berbaur dengan adat dan budaya setempat. Ada Sekaten seperti di Jawa, ada rebana, ada aneka perlombaan, ada tumpeng, ada sedekahan, ada Barzanji, makan bersama dan ada hari libur bersama.

“Indonesia... It is truly a country of a thousand Mawlids.”

Indonesia sungguh sebuah negeri dengan seribu Maulid, ungkap Annemarie Schimmel, seorang orientalis dan Profesor Studi Islam Harvard berkebangsaan Jerman yang terkenal dengan buku-bukunya Dimensi Mistik dalam Islam dan Dan Muhammad Rasulullah.

Festival Maulid tidak perlu visa untuk bisa menyeberang dari satu negeri ke negeri yang lain. Walau negerinya berbeda, nadanya berbeda, adat dan budaya berbeda, tapi ungkapan cinta, air mata rindunya tetap sama.

Karena Maulid bukan sekadar perayaan biasa, tapi “monumen waktu”, petunjuk jalan kembali umat untuk tetap mencintai Nabinya.

Kontroversi Klasik

Perdebatan apakah Maulid itu bid'ah? Boleh atau tidak? Itu sudah menjadi perdebatan klasik dan entah kenapa tetap diwariskan sejarah. Namun perlu dicatat adalah hampir seluruh mazhab yang empat, Maliki, Hanafi, Syafi'i dan sebagian Hambali membolehkan dan menganjurkan, asal tidak ada kemungkaran di dalamnya. Cuma sebagian Mazhab Hambali kontemporer yang tidak membolehkan.

Jangan hukumi persoalan cinta Rasul dengan pelik-pelik dasar hukum dengan alasan karena Nabi, Sahabat, dan tiga generasi terbaik tidak pernah merayakan 12 Rabiul Awal dengan dalil:

“Barangsiapa membuat perkara baru dalam agama kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR Bukhari)

Atau terlalu khawatir dengan bid'ah dan ghuluw karena dianggap menyerupai Natal dan takut pujian berlebihan sampai ke tingkat ketuhanan.

Padahal ini bukan persoalan fiqih atau konsepsi teologis, ini cuma perdebatan soal cinta Rasul. Semua orang sepakat cinta Rasul itu wajib, cuma ekspresi “caranya” yang sering berbeda, diperselisihkan dan diperdebatkan.

Padahal, jangan lupa di dalam Maulid itu ada shalawat, baca sirah kenabian, sedekah, dzikir. Semua pujian kepada Nabi dalam batas-batas kemanusiaannya sebagai makhluk pilihan dan mulia.

Basyarun laa kal basyar.

Manusia tapi tidak seperti manusia biasa.

Citra dan kemanusiaan Muhammad sebagai manusia dalam sejarah Maulid tidak pernah melampaui sampai derajat ketuhanan, seperti dalam agama dan kepercayaan yang lain. Ia tetap manusia biasa yang diberi wahyu oleh Allah SWT.

Secara kaidah ushuliyah disebutkan:

Al-aslu fil asyya’ al-ibahah = hukum asal segala sesuatu adalah boleh, selama tidak ada larangan.

Jonathan Brown, seorang Muslim Amerika dan Profesor Studi Islam di Georgetown, berpendapat bahwa:

“Perdebatan Maulid di Islam mirip perdebatan Natal di Kristen awal. Gereja awal juga tidak merayakan Natal. Tapi lama-lama umat butuh hari khusus untuk mengingat.”

Maulid adalah perkembangan alami agama secara sosiologis ketika umat Islam perlu “monumen waktu” untuk mengingat dan memperbaharui cinta kepada Nabinya Muhammad Rasulullah SAW.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi