Selasa 04 Aug 2026 17:38 WIB

Membaca Zoogeografi Sumatra

Konservasi di Sumatra tidak lagi cukup berfokus pada perlindungan spesies individu.

Seekor Orangutan Sumatra (Pongo Abelii) liar berada di atas pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada dalam kawasan ekosistem leuser Bukit Lawang, Bohorok, Langkat, Sumatera Utara, Jumat (21/11/2025). Sejumlah wisatawan melakukan wisata jelajah hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser untuk menikmati keindahan alam hutan hujan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati sekaligus untuk mengamati orangutan Sumatra liar dan satwa langka lainnya di habitat aslinya.
Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Seekor Orangutan Sumatra (Pongo Abelii) liar berada di atas pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada dalam kawasan ekosistem leuser Bukit Lawang, Bohorok, Langkat, Sumatera Utara, Jumat (21/11/2025). Sejumlah wisatawan melakukan wisata jelajah hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser untuk menikmati keindahan alam hutan hujan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati sekaligus untuk mengamati orangutan Sumatra liar dan satwa langka lainnya di habitat aslinya.

Oleh: Pendiri Hutan Wakaf Aceh, Azhar

REPUBLIKA.CO.ID, Pulau Sumatra merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia sekaligus laboratorium alami untuk mempelajari zoogeografi dan evolusi. Kekayaan satwa yang hidup di pulau ini tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan merupakan hasil interaksi panjang antara perubahan geologi, dinamika iklim, dan proses evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun. 

Persebaran setiap spesies merupakan cerminan sejarah bumi, mulai dari pergerakan lempeng tektonik, naik turunnya permukaan laut, pembentukan Pegunungan Bukit Barisan, hingga perubahan jaringan sungai yang membentuk batas-batas alami bagi berbagai kelompok satwa (Whitten et al., 2000; Corlett & Primack, 2011). Oleh karena itu, memahami persebaran satwa di Sumatera tidak cukup hanya mengetahui lokasi keberadaannya, tetapi juga harus melihat bagaimana sejarah bentang alam membentuk pola distribusi tersebut.

Baca Juga

Pada masa Pleistosen, sekitar 2,6 juta hingga 11.700 tahun yang lalu, Sumatera masih menyatu dengan daratan Asia melalui Paparan Sunda. Penurunan permukaan laut lebih dari 100 meter membentuk jembatan darat yang memungkinkan berbagai jenis mamalia, burung, dan tumbuhan bermigrasi dari Asia menuju Sumatera (Voris, 2000).

Gajah, harimau, badak, tapir, rusa, beruang, primata, serta banyak kelompok satwa lainnya memasuki pulau ini melalui jalur tersebut. Ketika zaman es berakhir dan permukaan laut kembali naik, hubungan daratan terputus sehingga populasi yang telah menetap di Sumatera berkembang secara terisolasi. 

Isolasi geografis ini kemudian memicu diferensiasi genetik dan adaptasi lokal yang melahirkan spesies maupun subspesies baru. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) berkembang terpisah dari orangutan Kalimantan, sedangkan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) diakui sebagai spesies tersendiri setelah penelitian genetik menunjukkan bahwa populasinya telah terisolasi selama ratusan ribu tahun (Nater et al., 2017).

Selain perubahan muka laut, pembentukan Pegunungan Bukit Barisan yang membentang lebih dari 1.700 kilometer dari Aceh hingga Lampung turut membentuk pola zoogeografi Sumatera. Pegunungan ini menciptakan perbedaan curah hujan, suhu, kelembapan, serta tipe vegetasi antara sisi barat dan timur pulau.

 

photo
Petugas Forum Konservasi Leuser (FKL) memantau perkembangan dan perubahan pada tumbuhan saat melakukan kegiatan fenologi di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Aceh Tenggara, Aceh, Senin (5/4/2021). Kegiatan fenologi yang dilakukan rutin setiap pekan tersebut bertujuan untuk memantau perkembangan dan perubahan yang terjadi pada tumbuhan yang disebabkan oleh faktor lingkungan sekitarnya seperti cuaca, suhu, kelembaban dan penetrasi cahaya matahari - (SYIFA YULINNAS/ANTARA)

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi