Jumat 18 Sep 2026 13:57 WIB

Ketakutan dan Ketamakan itu Mesin Penghancur

“Las Palabras de Amor” mengingatkan dunia menjadi dingin karena fear and greed.

Foto udara karhutla di Kecamatan Lalolae, Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Sabtu (12/9/2026).
Foto: ANTARA FOTO/Jojon
Foto udara karhutla di Kecamatan Lalolae, Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Sabtu (12/9/2026).

Oleh: Achmad Tshofawie; Kordinator ECOFITRAH, keluarga ICMI dan FKPPI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada lagu-lagu yang selesai ketika musik berhenti. Tetapi ada pula lagu yang justru mulai berbicara setelah nada terakhir menghilang. “Las Palabras de Amor” milik Queen adalah salah satunya. Lagu yang ditulis Brian May dan direkam Queen untuk album Hot Space pada 1982 itu pada permukaan terdengar seperti lagu cinta.

Ada kerinduan, jarak, malam yang dingin, dan kata-kata kasih yang ingin didengar. Tetapi di tengah kelembutan itu terselip sebuah pengamatan yang jauh lebih besar tentang dunia: manusia hidup di tengah ketakutan dan keserakahan.

Dua kata sederhana itu—fear dan greed—sebenarnya dapat dibaca sebagai dua mesin tua yang terus menggerakkan sejarah manusia. Ketakutan membuat manusia melihat manusia lain sebagai ancaman. Keserakahan membuat manusia melihat manusia lain, bahkan alam, sebagai objek yang dapat dieksploitasi. Ketika keduanya bertemu, kemanusiaan mulai kehilangan rem.

Ketakutan pada dasarnya adalah mekanisme bertahan hidup. Dalam kadar tertentu ia berguna. Rasa takut membuat manusia waspada terhadap bahaya. Masalah muncul ketika ketakutan berubah menjadi cara permanen dalam memandang dunia. Kita mulai takut kehilangan kekuasaan. Takut kehilangan kekayaan. Takut terhadap kelompok yang berbeda, bahkan terhadap kritik. Ketakutan kemudian diproduksi menjadi politik.

Masyarakat yang ketakutan lebih mudah diarahkan. Mereka dapat diyakinkan bahwa selalu ada “musuh” yang harus dicurigai, diawasi atau disingkirkan. Di sisi lain, keserakahan bekerja dengan logika yang berbeda tetapi menghasilkan kehancuran yang serupa.

Jika ketakutan berkata, “Aku harus mempertahankan apa yang kumiliki,” keserakahan berkata, “Aku harus memiliki lebih banyak". Lebih banyak tanah, lebih banyak mineral, lebih banyak kayu, lebih banyak energi, lebih banyak keuntungan.

Tidak ada yang salah dengan kemajuan ekonomi atau keuntungan yang wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika keuntungan dipisahkan dari tanggung jawab moral, sosial dan ekologis. Pada titik itulah ekonomi berubah menjadi mesin ekstraksi.

Lihatlah apa yang terjadi ketika keserakahan memasuki bentang alam. Hutan tidak lagi dipandang sebagai ekosistem, tetapi sebagai cadangan kayu. Gunung tidak lagi dilihat sebagai penyangga kehidupan, tetapi sebagai deposit mineral. Sungai tidak lagi dipandang sebagai urat nadi ekologis, tetapi sebagai saluran pembuangan atau sumber air industri. Laut tidak lagi diperlakukan sebagai ruang kehidupan, tetapi sebagai gudang sumber daya yang seolah tidak pernah habis.

Pertambangan adalah contoh yang paling mudah dibaca. Pertambangan itu sendiri bukan dosa. Peradaban membutuhkan mineral. Transisi energi pun membutuhkan berbagai bahan tambang. Persoalannya adalah cara manusia mengambilnya dan siapa yang menanggung biayanya.

Ketika sebuah gunung dikeruk secara ugal-ugalan, keuntungan ekonominya dapat dihitung dalam rupiah dan dolar. Tetapi bagaimana menghitung hilangnya mata air? Bagaimana menghitung sedimentasi sungai? Bagaimana menghitung hilangnya habitat? Bagaimana menghitung penderitaan masyarakat yang kehilangan ruang hidup? Di laporan keuangan, kerusakan ekologis sering muncul sebagai “externality”. Bagi masyarakat yang tinggal di sana, ia bukan eksternalitas. Ia adalah kehidupan mereka.

Kebakaran hutan memperlihatkan wajah yang bahkan lebih mengerikan. Api di alam adalah bagian dari dinamika ekologis tertentu. Tetapi kebakaran yang sengaja digunakan untuk membuka lahan adalah persoalan lain. Ketika hutan dibakar demi mempercepat konversi lahan, yang terbakar bukan hanya pohon. Yang terbakar adalah habitat. Yang hilang adalah keanekaragaman hayati. Yang terganggu adalah siklus air. Yang muncul adalah asap yang menyeberangi batas administratif bahkan batas negara. Anak-anak menghirup udara yang tidak mereka pilih. Masyarakat kehilangan produktivitas.Sekolah terganggu. Kesehatan memburuk. Ekonomi lokal ikut menanggung kerugian.

Di sinilah keserakahan menunjukkan sifatnya yang paling berbahaya: ia mengambil keuntungan secara privat, tetapi membagikan kerugiannya kepada publik. Profit diprivatisasi. Kerusakan disosialisasikan. Itulah salah satu bentuk ketidakadilan ekologis paling nyata. Namun ada sesuatu yang lebih dalam. Kerusakan alam pada akhirnya adalah kerusakan terhadap manusia karena manusia bukan makhluk yang hidup di luar ekosistem. Kita minum dari sungai. Kita makan dari tanah. Kita bernapas melalui atmosfer.

Kita bergantung pada hutan untuk mengatur air dan iklim. Kita membutuhkan laut untuk pangan dan kehidupan. Dengan kata lain, ketika manusia merusak ekosistem, ia sebenarnya sedang merusak infrastruktur kehidupan yang menopang dirinya sendiri. Keserakahan ekologis pada akhirnya adalah bentuk bunuh diri peradaban yang dilakukan secara perlahan.

Di sinilah Las Palabras de Amor memperoleh relevansi yang jauh lebih luas. Kalau ketakutan dan keserakahan adalah mesin penghancur, maka cinta seharusnya menjadi kekuatan penyeimbangnya. Tetapi cinta tidak boleh berhenti sebagai kata-kata. Kita membutuhkan apa yang bisa disebut works of love—perbuatan cinta.

Mencintai hutan berarti tidak membakarnya. Mencintai sungai berarti tidak menjadikannya tempat pembuangan. Mencintai masyarakat berarti tidak mengorbankan kesehatan mereka demi keuntungan sesaat. Mencintai generasi mendatang berarti tidak mewariskan bumi dalam keadaan rusak. Dengan kata lain, cinta terhadap manusia tidak mungkin dipisahkan dari cinta terhadap ruang hidup manusia.

Di titik ini kita juga perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakan persoalan menjadi “perusahaan jahat versus masyarakat baik”. Persoalannya lebih kompleks. Kita membutuhkan industri. Kita membutuhkan energi. Kita membutuhkan mineral. Kita membutuhkan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Tetapi pertanyaannya adalah: Pertumbuhan untuk apa? dan pertumbuhan dengan biaya siapa?

Jika keuntungan meningkat tetapi sungai mati, apakah itu kemajuan? Jika ekspor naik tetapi masyarakat kehilangan tanah dan sumber air, apakah itu kesejahteraan?

Jika PDB bertambah tetapi bencana ekologis meningkat, apakah kita sedang menghitung kemajuan atau sekadar menghitung aktivitas ekonomi? Di sinilah ukuran pembangunan harus diperluas. Ekonomi harus kembali menjadi alat bagi kehidupan, bukan kehidupan yang dipaksa tunduk kepada ekonomi.

Manusia sebagai berperan sebagai pemakmur di bumi. Tetapi status predikat ini bukan lisensi untuk mengeksploitasi bumi tanpa batas. Janganlah manusia membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki. Guidance ini menarik karena menggunakan kata fasad—kerusakan yang merusak tatanan. Dalam perspektif ekologis, kita dapat membacanya sebagai peringatan bahwa bumi memiliki keteraturan, keseimbangan dan daya dukung yang tidak boleh dihancurkan demi kepentingan sesaat. Kita juga diingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul akibat perbuatan tangan manusia.

Bahasanya sangat kontemporer. Kerusakan bukan sekadar fenomena alam. Ada jejak tangan manusia di dalamnya. Karena itu, persoalan ekologis sebenarnya bukan hanya persoalan teknologi. Ia adalah persoalan karakter manusia.

Kita boleh mempunyai teknologi tambang paling canggih. Tetapi jika orientasinya tetap serakah, teknologi hanya membuat ekstraksi menjadi lebih efisien. Kita dapat mempunyai satelit untuk memantau hutan. Tetapi jika penegakan hukum lemah dan keuntungan ilegal tetap lebih besar daripada risiko hukuman, teknologi tidak otomatis menyelesaikan persoalan.

Kita dapat berbicara tentang ekonomi hijau, energi bersih dan net zero. Tetapi jika paradigma dasarnya tetap “ambil sebanyak mungkin, konsumsi sebanyak mungkin”, kita hanya mengganti warna mesin ekstraksi. Yang perlu berubah bukan hanya teknologinya, tetapi manusianya.

Kita membutuhkan ekonomi yang menggabungkan efisiensi dengan keadilan, inovasi dengan tanggung jawab, dan kemajuan dengan keberlanjutan. Dalam bahasa yang lebih sederhana: ekonomi harus kembali melayani kehidupan.

Pada akhirnya, Las Palabras de Amor mungkin mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada cinta antara dua manusia. Dunia yang dingin tidak akan menjadi hangat hanya dengan teknologi.

Ia membutuhkan manusia yang mampu mencintai. Tetapi cinta yang dewasa bukan sekadar mengatakan “aku mencintaimu”. Ia bertanya: Apakah tindakanku membuat hidup orang lain lebih baik? Apakah keuntungan yang kuperoleh menghancurkan ruang hidup orang lain? Apakah kemakmuran hari ini sedang mencuri masa depan anak cucuku? Apakah ketika aku mengatakan “kemajuan”, aku juga menghitung sungai yang hilang, hutan yang terbakar dan masyarakat yang tersingkir?

Sebab pada akhirnya, fear dan greed bukan hanya masalah psikologis. Keduanya dapat menjadi sistem ekonomi, budaya dan politik. Dan bila dibiarkan, keduanya mampu mengubah manusia menjadi predator bagi manusia lain—dan bahkan predator bagi bumi yang menopang seluruh kehidupan. Karena itu, mungkin pesan paling relevan dari lagu Queen tersebut bukan hanya: Las palabras de amor - kata-kata cinta. Melainkan sebuah panggilan agar kata-kata itu menjelma menjadi tindakan.

Dari fear menuju keberanian. Dari greed menuju kecukupan. Dari eksploitasi menuju stewardship. Dari words of love menuju works of love.

Sebab peradaban yang benar-benar maju bukanlah peradaban yang paling banyak mengambil dari bumi. Melainkan peradaban yang mampu mengambil secukupnya, membagi secara adil, memulihkan yang rusak, dan meninggalkan bumi tetap layak dihuni oleh generasi yang belum lahir.

Itulah mungkin arti paling dalam dari kalimat sederhana yang terselip dalam sebuah lagu cinta: Ada yang lebih besar daripada ketakutan. Ada yang lebih kuat daripada keserakahan.

Dan namanya adalah— cinta yang diwujudkan menjadi keadilan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi