
Oleh: Azhar; Pendiri Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf
REPUBLIKA.CO.ID,Di dalam rimbunnya hutan hujan Sumatra, hidup seekor kucing liar yang jarang terlihat manusia, tetapi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Satwa itu adalah Kucing Emas Sumatra (Catopuma temminckii), seekor felidae berukuran sedang dengan bulu berwarna keemasan, cokelat kemerahan, hingga keabu-abuan (Sunquist & Sunquist, 2002).
Keberadaannya sering disebut sebagai "bayangan emas" hutan tropis karena sangat sulit dijumpai secara langsung. Namun, di balik sifatnya yang misterius, kucing emas menghadapi tantangan besar untuk bertahan hidup, salah satunya adalah persaingan dengan predator lain di hutan Sumatra.
Hutan Sumatera merupakan salah satu ekosistem dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dan menjadi rumah bagi berbagai jenis predator, dari Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Macan Dahan (Neofelis diardi), Ajag (Cuon alpinus), hingga beberapa jenis kucing liar berukuran kecil seperti Kucing Batu atau Leopard Cat (Prionailurus bengalensis) (Whitten, Damanik, Anwar & Hisyam, 2000).
Kehadiran banyak predator dalam satu kawasan hutan menimbulkan pertanyaan menarik: bagaimana Kucing Emas Sumatra dapat bertahan dan berbagi ruang dengan para pemburu lainnya?
Dalam dunia ekologi, setiap spesies memiliki relung atau niche yang berbeda. Relung ekologis merupakan cara suatu spesies memanfaatkan sumber daya, termasuk jenis mangsa, habitat, dan waktu aktivitasnya (Begon, Townsend & Harper, Ecology: From Individuals to Ecosystems, Blackwell Publishing, 2006). Kucing emas tidak menempati posisi sebagai predator puncak. Posisi tersebut dipegang oleh Harimau Sumatera yang menjadi penguasa tertinggi rantai makanan di hutan Sumatra (Linkie et al, 2022).
Sebaliknya, kucing emas tergolong sebagai mesopredator atau predator tingkat menengah yang memangsa hewan-hewan kecil hingga berukuran sedang (Macdonald et al, 2010).
Keberadaan Harimau Sumatra secara tidak langsung memengaruhi kehidupan kucing emas. Dengan bobot tubuh yang dapat mencapai lebih dari 100 kilogram, harimau mampu memangsa rusa, babi hutan, hingga tapir (Sunarto et al, 2012). Kucing emas yang hanya berbobot sekitar 9–16 kilogram jelas tidak mungkin bersaing secara langsung dengan predator sebesar itu (IUCN SSC Cat Specialist Group, 2025).
Sebagai bentuk adaptasi, kucing emas memilih mangsa yang lebih kecil, seperti tikus, tupai, burung tanah, reptil, dan sesekali anak rusa atau kijang (Grassman et al, 2005). Pembagian jenis mangsa ini mengurangi kompetisi langsung dan memungkinkan kedua spesies hidup berdampingan di dalam hutan.