
Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia sesungguhnya tidak sedang kekurangan teknologi. Kita memiliki satelit yang mampu memantau perubahan tutupan hutan secara real time, kecerdasan artifisial yang dapat memprediksi cuaca ekstrem, serta pelbagai inovasi energi terbarukan yang semakin efisien.
Akan tetapi, di tengah kemajuan tersebut, bumi justru menghadapi ancaman yang semakin serius. Persoalannya bukan lagi apakah manusia mampu memahami kerusakan lingkungan, melainkan mengapa manusia terus mengulanginya.
Paradoks inilah yang menjadi ironi terbesar abad ke-21. Kemajuan pengetahuan ternyata tidak selalu diikuti oleh kematangan moral. Dunia berhasil melahirkan manusia-manusia yang cerdas, tetapi belum cukup berhasil mendidik manusia yang bijaksana.
Karena itu, krisis lingkungan pada hakikatnya bukan semata-mata krisis ekologis. Ia adalah krisis pendidikan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut kondisi ini sebagai triple planetary crisis, yakni: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Laporan IPCC (2023) menunjukkan suhu rata-rata bumi telah meningkat lebih dari satu derajat Celsius dibandingkan era praindustri.
Sementara itu, UNEP memperkirakan lebih dari satu juta spesies berada dalam ancaman kepunahan akibat aktivitas manusia. Indonesia pun berada dalam lingkaran risiko yang sama. Sebagian besar bencana yang terjadi setiap tahun merupakan bencana hidrometeorologi yang berkaitan erat dengan perubahan lingkungan.
Semua data tersebut sudah berulang kali dipublikasikan. Hampir setiap orang mengetahuinya. Namun, mengapa kerusakan terus berlangsung? Jawabannya sederhana sekaligus menggelisahkan: pengetahuan ternyata tidak otomatis mengubah perilaku.
Kita memiliki semakin banyak ahli lingkungan, tetapi hutan tetap menyusut. Kita menghasilkan semakin banyak lulusan perguruan tinggi, tetapi sungai-sungai tetap dipenuhi sampah. Kita semakin fasih berbicara tentang sustainability, tetapi pola konsumsi justru semakin eksploitatif. Yang sedang kita hadapi bukanlah kekurangan informasi, melainkan kegagalan membentuk karakter.
Belajar Bijaksana
Di sinilah pendidikan diuji. Selama beberapa dekade, pendidikan lebih banyak diukur melalui capaian akademik, kemampuan literasi, penguasaan teknologi, dan kesiapan memasuki pasar kerja. Semua itu memang penting. Akan tetapi, ada satu dimensi yang perlahan terabaikan, yakni kemampuan pendidikan membentuk cara manusia memandang dunia. Pendidikan berhasil manjadikan manusia yang mampu menguasai alam, tetapi belum tentu melahirkan manusia yang mengetahui batas moral dalam memanfaatkan alam.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak pernah dilakukan oleh orang yang tidak berpendidikan. Banyak eksploitasi hutan, pencemaran sungai, dan kerusakan ekosistem justru lahir dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh orang-orang dengan pendidikan tinggi. Ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan kurangnya kecerdasan, melainkan hilangnya kebijaksanaan.