
Oleh: Imam Nur Suharno; Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID, Persaudaraan (ukhuwah) ialah satu konsepsi Islam yang menyatakan bahwa setiap muslim dengan muslim lainnya adalah bersaudara. Banyak ayat dalam Alquran dan hadis yang menjadi landasan konsep ini. Dalam beberapa keterangan sering kali kata ukhuwah atau turunannya digandengkan dengan kata iman, Islam atau mukmin. Hal ini mengindikasikan bahwa ukhuwah merupakan salah satu parameter utama keimanan dan keislaman seseorang.
Ukhuwah tidak bisa dibeli dengan apa pun meskipun dengan harta yang berlimpah. Ia diperoleh dari penyatuan antara ikatan hati dan hati serta karakteristik istimewa dari orang mukmin. Ukhuwah membangun umat yang kokoh. Ia adalah bangunan maknawi yang bisa menyatukan masyarakat. Ia lebih kuat dari bangunan materi, yang suatu saat bisa hancur diterpa badai atau ditelan masa. Sedangkan bangunan ukhuwah Islamiyah akan tetap kokoh. (HR Bukhari).
Alquran telah menegaskan secara jelas dan tegas bahwa Allah-lah yang menyatukan hati orang-orang yang beriman dengan ikatan yang kokoh (QS. Al-Anfal [8]: 63).
Makna persaudaraan
Ukhuwah berasal dari bahasa Arab dengan bentuk kata dasarnya (masdar) akhun yang berarti saudara. Ukhuwah merupakan salah satu ajaran Islam mengenai konsep persaudaraan.
Kata ukhuwah sering kali dirangkai dengan kata Islamiyah, menjadi ukhuwah Islamiyah. Kata ini memperjelas pengertian bahwa persaudaraan ini dibangun atas dasar prinsip Islam.
Dalam ajaran Islam, ukhuwah bermakna suatu ikatan persaudaraan antara dua orang atau lebih berdasarkan keimanan yang sama, kesepakatan atas pemahaman serta pembelaan kepada Islam sebagai agama yang diridhai Allah SWT.
Persaudaraan Islam merupakan ikatan yang paling hakiki dan kuat, mengungguli semua jenis ikatan lainnya. Bisa jadi, ikatan lainnya hanyalah bersifat sarana ukhuwah, tetapi tidak dapat dijadikan dasar yang kuat bagi bangunan persaudaraan.
Saling mencintai
Islam menegaskan bahwa orang-orang yang beriman sejatinya bersaudara. Selain itu, diperintahkan juga untuk saling mencintai. Hal ini ditegaskan dalam Alquran surat At-Taubah [9] ayat 71.
Sifat wala’ (loyalitas, saling mencintai, membantu dan menolong), setia dan cinta kepada saudara beriman pun telah diperintahkan oleh Nabi SAW melalui sabdanya. “Salah seorang di antara kalian tidak dikatakan beriman hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ibnu Rajab Al-Hambali berkata mengenai hadis di atas, di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih seperti ia mencintai dirinya sendiri. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya seperti ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas maka berkuranglah imannya.
Sikap yang dilakukan seorang muslim ketika melihat saudaranya yang melakukan kesalahan adalah menasehatinya agar berubah menjadi lebih baik. Ibnu Rajab berkata, jika seseorang melihat pada saudaranya kekurangan dalam agama, ia berusaha menasehatinya.
Jika seorang muslim tersebut pelaku dosa besar seperti pemakan riba dan suka berbuat ghibah (menggunjing), orang tersebut dicintai sekadar dengan ketaatan yang ada padanya dan dibenci karena kemaksiatan yang dilakukannya.
Ibnu Taimiyah berkata, jika ada dalam diri seseorang kebaikan dan keburukan, dosa dan ketaatan, maksiat, sunah dan bid’ah, maka kecintaan kepadanya tergantung pada kebaikan yang ia miliki. Ia pantas untuk dibenci karena keburukan yang ada padanya. Bisa jadi ada dalam diri seseorang kemuliaan dan kehinaan, bersatu di dalamnya seperti itu. Misalnya, ada pencuri yang miskin. Ia berhak dihukumi potong tangan. Di samping itu ia juga berhak mendapat harta dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhannya.