
Oleh: Sudarnoto Abdul Hakim, Guru Besar UIN Jakarta; Ketua MUI Bidang Hublu dan Kerjasama Internasional
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 8–20 Juli 2026, saya bersama sekitar 40 orang dekegasi Indonesia memperoleh kehormatan menjadi tamu Program Khadimul Haramain asy-Syarifain atas undangan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud untuk menunaikan ibadah umrah. Program ini bukan sekadar fasilitas ibadah, melainkan kebijakan resmi Kerajaan Arab Saudi yang mengandung dimensi keagamaan, kemanusiaan, sekaligus diplomasi internasional.
Melalui Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan, Kerajaan Arab Saudi secara berkala mengundang para ulama, akademisi, guru, tokoh masyarakat, dan pemimpin komunitas Muslim dari berbagai negara untuk melaksanakan umrah dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah. Tahun ini sebanyak 1.000 peserta dari berbagai negara diundang dalam empat gelombang.
Gelombang pertama berasal dari 16 negara Asia, termasuk Indonesia, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Singapura, China, Mongolia, Hong Kong, Myanmar, Laos, dan Timor-Leste. Para peserta tidak hanya melaksanakan umrah, tetapi juga mengikuti dialog, kunjungan ke situs sejarah Islam, serta berbagai program penguatan wawasan keislaman dan persaudaraan umat.
Public Diplomacy
Program ini memperlihatkan bahwa pelayanan terhadap tamu Allah telah berkembang menjadi instrumen diplomasi publik (public diplomacy) dan soft power diplomacy Arab Saudi. Melalui pengalaman spiritual, pelayanan, dan dialog, Kerajaan membangun hubungan yang lebih erat dengan masyarakat Muslim dunia, bahkan dengan komunitas Muslim yang hidup sebagai minoritas di berbagai negara.
Komposisi peserta memberikan pesan yang menarik. Indonesia hadir sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, keikutsertaan peserta dari Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Filipina, dan negara-negara lain yang jumlah Muslimnya relatif kecil menunjukkan bahwa diplomasi Arab Saudi menjangkau seluruh komunitas Muslim tanpa membedakan status mayoritas maupun minoritas. Pesan yang ingin dibangun jelas: Islam adalah agama yang universal, menjunjung persaudaraan, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Dalam konteks hubungan internasional, pendekatan seperti ini memiliki nilai strategis. Ketika dunia menghadapi konflik, meningkatnya Islamofobia, dan polarisasi geopolitik, diplomasi berbasis pelayanan keagamaan menjadi media yang efektif untuk membangun saling pengertian, memperkuat jejaring masyarakat sipil, serta menghadirkan wajah Islam yang damai dan moderat.
Visi 2030 Saudi
Program ini juga selaras dengan Saudi Vision 2030 yang diprakarsai Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Selain melakukan transformasi ekonomi, Vision 2030 menempatkan pelayanan kepada jamaah haji dan umrah sebagai salah satu prioritas nasional melalui peningkatan kualitas layanan, modernisasi infrastruktur, digitalisasi, dan penguatan posisi Arab Saudi sebagai pusat pelayanan dunia Islam. Karena itu, program undangan haji dan umrah tidak dapat dipahami semata sebagai kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat hubungan internasional dan kepemimpinan moral Arab Saudi di dunia Islam.
Bagi Indonesia, program ini memiliki arti yang sangat penting. Sebagai negara Muslim terbesar, Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat kerja sama dengan Arab Saudi, bukan hanya dalam penyelenggaraan haji dan umrah, tetapi juga di bidang pendidikan, ekonomi syariah, riset, kesehatan, pengembangan sumber daya manusia, hingga diplomasi kemanusiaan. Hubungan kedua negara perlu terus diarahkan menjadi kemitraan strategis yang memberikan manfaat bagi umat Islam dan masyarakat internasional.
Sementara itu, negara-negara dengan komunitas Muslim minoritas juga mempunyai peran penting. Mereka dapat menjadi jembatan dialog antaragama, memperkuat toleransi, memperluas kerja sama pendidikan dan kebudayaan, sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang plural.
Pada akhirnya, program undangan umrah Raja Salman mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki kekuatan sosial dan diplomatik. Dari Tanah Suci lahir pesan persaudaraan, kerja sama, dan perdamaian yang melintasi batas negara. Di tengah dunia yang masih diliputi konflik dan ketidakpastian, diplomasi spiritual seperti ini layak diapresiasi dan terus dikembangkan sebagai salah satu ikhtiar membangun peradaban yang lebih damai, berkeadilan, dan saling menghormati.