Jumat 10 Jul 2026 07:15 WIB

Ketika Kutu Beras Menyergap Permukiman 

Larva kutu memakan endosperma sehingga beras kehilangan nilai gizinya.

Pekerja membawa muatan gabah saat tiba di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog di Karawang, Jawa Barat, Senin (20/5/2024).
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Pekerja membawa muatan gabah saat tiba di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog di Karawang, Jawa Barat, Senin (20/5/2024).

Oleh: Entang Sastratmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum lama ini viral di media sosial soal adanya ribuan kutu beras yang menyerang permukiman penduduk di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. 

Kabar semacam ini tentu cukup mencengangkan, di tengah eforia menumpuknya cadangan beras pemerintah, yang mulai tahun ini mencatat rekor baru selama Indonesia merdeka. Pemerintah mengeklaim stok berasnya menembus angka 5 juta ton.

Soal kutu beras, memang kerap kali mengemuka menjadi masalah serius dalam dunia perberasan nasional.

Beberapa waktu lalu, ramai viral di media tentang ditemukannya beras berkutu di gudang Bulog oleh rombongan Komisi IV DPR, dengan jumlah cukup besar. Ini benar-benar mengejutkan. Kok bisa, di era sekarang masih ditemukan beras berkutu di gudang Bulog?

Kutu beras (Sitophilus oryzae) adalah sejenis kumbang moncong berukuran kecil (sekitar 2-3 mm) berwarna cokelat kemerahan atau hitam yang menjadi hama utama pada biji-bijian disimpan. Serangga ini gemar memakan bagian dalam butiran beras, gandum, jagung, hingga sorgum. 

Banyak orang heran mengapa kutu tetap muncul meski beras disimpan di wadah tertutup rapat. Faktanya, kutu beras berasal dari telur mikroskopis yang sudah ada di dalam butiran beras sejak di area persawahan atau gudang penggilingan. 

Kutu betina mengebor lubang kecil pada butiran beras, mengeluarkan telur, lalu menutup lubangnya kembali. Saat beras disimpan di tempat hangat dan lembap, telur tersebut menetas menjadi larva dan berkembang menjadi kutu dewasa. 

Faktor pemicu perkembangbiakan kutu  beras dapat disebabkan kelembapan tinggi. Wadah yang basah atau area penyimpanan dekat wastafel mempercepat penetasan telur. 

Kemudian, suhu ruangan hangat. Ruangan yang pengap dan bersuhu tropis merupakan kondisi ideal bagi siklus hidup kutu. Atau karena penyimpanan terlalu lama, membiarkan beras dalam karung besar selama berbulan-bulan tanpa sirkulasi udara yang baik. 

Bagaimana dengan dampak dan keamanan beras yang akan dikonsumsi ? Jawabnya tegas aman dikonsumsi. Kutu beras tidak beracun dan secara umum aman dimakan jika tidak sengaja tertelan karena akan hancur oleh asam lambung. 

Namun,  hal ini dapat menurunkan nutrisi. Larva kutu memakan endosperma (karbohidrat dan protein) sehingga beras menjadi rapuh, berlubang, dan kehilangan nilai gizinya. Juga mengundang risiko alergi.

Kontak dengan debu sisa kutu beras pada sebagian orang sensitif dapat memicu bersin-bersin, hidung tersumbat, atau iritasi mata. 

Perkembangan terbaru mengenai serangan ribuan kutu beras yang menyergap permukiman warga di Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat kini tengah ditangani secara intensif oleh Bulog Karawang bersama pengelola gudang. 

Kejadian ini sempat memicu keresahan besar karena ribuan hama dari kompleks pergudangan sewaan (Gudang Genesis) terbang bebas dan masuk ke rumah-rumah warga sekitar. 

Di bawah ini akan disampaikan poin-poin penting terkait kondisi dan langkah penanganannya. Ribuan kutu beras (diidentifikasi sebagai hama gudang sekunder jenis Tribolium) berasal dari gudang penyimpanan yang menampung ratusan ton beras milik Bulog. 

Warga yang tinggal tepat di sekitar area gudang mengeluhkan gatal-gatal, kulit bengkak akibat gigitan kutu, mata bengkak, hingga kasus ekstrem telinga berdarah karena kemasukan serangga.  

Serangga dalam jumlah masif menempel di dinding rumah, tempat tidur, serta mengotori lingkungan hingga menyulitkan warga untuk beristirahat dengan tenang. 

Langkah penanganan oleh Bulog dan pengelola gudang antara lain melakukan fumigasi total gudang. Bulog Karawang langsung membersihkan hama internal menggunakan metode fumigasi (pengasapan zat kimia) di seluruh area dalam gudang untuk memutus populasi kutu.

Kemudian, fogging di pemukiman. Guna membasmi kutu yang telanjur menyebar ke rumah-rumah, tim gabungan juga melakukan penyemprotan (fogging) langsung di area pemukiman warga sekitar. 

Sebagai wujud  tanggung jawab, Direksi Perum Bulog secara resmi meminta maaf atas ketidaknyamanan ini dan menegaskan siap bertanggung jawab penuh atas pengobatan medis warga yang mengalami masalah kesehatan akibat kutu tersebu. 

Selain itu, Bulog memastikan beras yang berada di gudang tersebut akan melewati proses penyaringan dan pemeriksaan mutu ketat kembali sebelum didistribusikan, sehingga dijamin tetap aman dan layak konsumsi bagi masyarakat

Menanggapi teror serangan ribuan kutu beras di permukiman warga Desa Tunggakjati, pihak Perum Bulog menyatakan sikap kooperatif, menyampaikan permohonan maaf secara resmi, serta berjanji akan bertanggung jawab penuh atas dampak yang terjadi. 

Sikap resmi dan langkah nyata yang diambil Direksi Perum Bulog bersama pimpinan cabang Bulog Karawang meliputi beberapa hal krusial berikut:

Yang utama, menyampaikan permohonan maaf resmi. Direktur Operasi Perum Bulog secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh warga yang terdampak atas ketidaknyamanan dan gangguan kesehatan akibat serbuan hama dari gudang penyimpanan mereka. 

Kemudian, menjamin  anggung jawab kesehatan warga. Pihak Bulog menegaskan siap bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan medis warga yang mengalami gangguan kesehatan, seperti mata bengkak hingga telinga kemasukan kutu. 

Bulog bergerak cepat melakukan penanganan medis bagi korban yang membutuhkan perawatan rumah sakit. Lalu, melakukan gerak cepat (Gerebek Hama) di gudang dan Lingkungan.

Bulog bekerja sama dengan pengelola gudang langsung melakukan pengendalian hama terpadu untuk memutus siklus hidup serangga tersebut. Langkah teknis yang dijalankan melakukan pengasapan zat kimia khusus pada komoditas beras di dalam gudang. 

Selanjutnya melakukan penyemprotan disinfektan pembasmi serangga di area lingkungan dalam gudang maupun di area pemukiman warga sekitar. 

Terakhir, menjamin kualitas dan kuamanan beras. Kepala Bulog Karawang, Rafki Ismael beserta jajaran direksi menjamin kualitas beras yang akan didistribusikan kepada masyarakat tetap aman dan layak konsumsi. 

Kejadian ini murni siklus hama gudang yang langsung dikendalikan ketat agar tidak memengaruhi mutu komoditas beras. Semoga.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi