Rabu 24 Jun 2026 18:08 WIB

Perguruan Tinggi Farmasi Harus Bertransformasi Menjadi Innovation Hub Kesehatan Nasional

Sektor kesehatan harus ditopang oleh sistem inovasi yang kuat.

Prof Yandi Syukri
Foto: dokpri
Prof Yandi Syukri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, M.Si (Guru Besar Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII); Ketua Jurusan Farmasi UII; Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI); Pusat Studi Pengembangan Inovasi dan Keunggulan Farmasi (PUSPIKFAR)

Indonesia sedang memasuki era baru pembangunan kesehatan. Berbagai tantangan besar masih menghadang, mulai dari tingginya ketergantungan pada bahan baku obat impor, meningkatnya penyakit tidak menular, kebutuhan produk kesehatan halal, hingga tuntutan kemandirian industri farmasi nasional. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), nanoteknologi, dan kesehatan digital telah mengubah lanskap pelayanan kesehatan dunia secara fundamental.

Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah perguruan tinggi farmasi akan tetap berperan sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah semata, atau bertransformasi menjadi pusat inovasi yang menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meresmikan kerja sama riset strategis sekaligus meluncurkan Pusat Studi Pengembangan Inovasi dan Keunggulan Farmasi (PUSPIKFAR). Langkah ini menunjukkan bahwa masa depan pendidikan tinggi farmasi tidak lagi hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi pada penciptaan dampak nyata melalui inovasi. 

Dari Teaching University Menuju Innovation University

Selama puluhan tahun, ukuran keberhasilan perguruan tinggi sering kali ditentukan oleh jumlah mahasiswa, lulusan, dan publikasi ilmiah yang dihasilkan. Meskipun ketiga indikator tersebut tetap penting, tantangan zaman menuntut peran yang lebih luas. Perguruan tinggi masa depan harus menjadi produsen pengetahuan sekaligus penghasil inovasi. Universitas harus mampu menghubungkan laboratorium dengan industri, penelitian dengan kebijakan publik, serta ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks farmasi, transformasi ini sangat krusial. Sebab farmasi merupakan bidang ilmu yang berada di titik temu antara kesehatan, teknologi, industri, dan pelayanan masyarakat. Penelitian tentang bahan alam, teknologi penghantaran obat, keamanan produk, pelayanan kefarmasian, hingga literasi kesehatan masyarakat memiliki potensi besar untuk diterjemahkan menjadi produk, layanan, maupun kebijakan yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.

Innovation Hub sebagai Wajah Baru Perguruan Tinggi Farmasi

Di berbagai negara maju, universitas telah berkembang menjadi innovation hub, yaitu pusat kolaborasi yang mempertemukan akademisi, peneliti, industri, pemerintah, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan solusi inovatif. Dalam model ini, perguruan tinggi tidak bekerja sendirian. Keberhasilan inovasi justru ditentukan oleh kemampuan membangun ekosistem yang memungkinkan ide berkembang menjadi produk, teknologi, layanan, atau kebijakan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Konsep ini dikenal sebagai model Triple Helix, yaitu sinergi antara universitas, pemerintah, dan industri. Saat ini model tersebut bahkan berkembang menjadi Quadruple Helix yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses inovasi. Melalui pendekatan ini, perguruan tinggi farmasi dapat menjadi penghubung antara kebutuhan kesehatan masyarakat dengan kemampuan riset yang dimiliki akademisi dan dukungan kebijakan pemerintah.

Pusat Studi Sebagai Mesin Penggerak Inovasi

Transformasi perguruan tinggi menjadi innovation hub membutuhkan instrumen kelembagaan yang kuat. Salah satunya adalah keberadaan pusat studi. Selama ini banyak pusat studi di perguruan tinggi berfungsi sebagai wadah diskusi akademik. Namun, ke depan, pusat studi harus berkembang menjadi mesin penggerak inovasi yang mampu mengintegrasikan penelitian, pelayanan, pelatihan, pengujian, dan pengabdian kepada masyarakat.

PUSPIKFAR UII menjadi contoh menarik dari pendekatan tersebut. Pusat studi ini mengintegrasikan berbagai kekuatan yang telah dimiliki Farmasi UII, mulai dari pusat riset nanoteknologi farmasi, riset endofit, kultur sel, zebrafish, riset halal, farmasi klinik komunitas, pusat pelatihan kesehatan, pusat pelayanan informasi obat, hingga laboratorium pengujian yang telah tersertifikasi ISO 17025.  Model seperti ini memungkinkan terciptanya rantai inovasi yang lengkap, mulai dari penemuan bahan aktif, pengembangan formulasi, pengujian keamanan, hingga implementasi pada masyarakat.

Menyiapkan Farmasi Indonesia Menuju 2045

Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada tahun 2045. Untuk mencapai tujuan tersebut, sektor kesehatan harus ditopang oleh sistem inovasi yang kuat. Pendidikan tinggi farmasi memiliki posisi yang sangat strategis dalam agenda tersebut. Tidak hanya sebagai pencetak tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan teknologi kesehatan nasional. Ke depan, bidang-bidang seperti nanomedicine, precision medicine, digital health, artificial intelligence, farmasi halal, dan pengembangan obat berbasis biodiversitas Indonesia akan menjadi arena kompetisi global.

Karena itu, pendidikan farmasi juga harus bertransformasi. Kurikulum perlu lebih adaptif, terintegrasi dengan penelitian, berorientasi pada kewirausahaan, dan terkoneksi dengan industri. Mahasiswa tidak lagi hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai peneliti, inovator, dan pencipta lapangan kerja.

Saatnya Mengukur Dampak

Pada akhirnya, keberhasilan perguruan tinggi diukur dengan sejauh mana ilmu pengetahuan yang dikembangkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat kemandirian kesehatan bangsa, serta menciptakan nilai tambah bagi pembangunan nasional. Transformasi perguruan tinggi farmasi menjadi innovation hub bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan. Sebab bangsa yang ingin mandiri dalam kesehatan harus memiliki universitas yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menghasilkan inovasi yang mengubah kehidupan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi